Travelling

Londa - Tana Toraja [3]

10/16/2015setapakkecil


Gerbang besar dengan ornamen kayu dan berukir khas toraja. Tepat di tengah gerbang menancap ornamen berbentuk kepala kerbau. Semua itu tampak berpadu kompak menyambut langkah kecil kami. Di kejauhan tampak tebing menjulang tinggi namun terdapat sebuah lubang atau gua tepat di bawahnya. Warna tebing yang temaram beradu dengan warna hijau dari persawahan berpadu indah. Berkunjung kesini berarti kita akan berwisata alam dan budaya, Ya inilah situs pemakaman Londa.



Tampak disekitar gerbang banyak orang orang membawa lampu petromaks menawarkan pada setiap wisatawan yang datang.

“Kenapa harus bawa petromaks mas?”, tanyaku pada salah satu orang yang membawa lampu petromaks.

“Buat masuk ke dalam goa mas, karena di dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan sama sekali” begitu tutur sang penjaja lampu.

“Ada apa di dalam goanya mas?” tanyaku kembali

“Kita bisa lihat pemakaman dan tengkorak mas” sahut sang penjaja lampu bersemangat

“Haaahhhhh tengkorak???”

Tak perlu kaget dan di dramatisir seperti itu, karena kalau kalian datang ke Tana Toraja tujuan utamanya adalah wisata kuburan. Karena ini yang menjadi daya tarik utama di Tana Toraja, jadi kalian jangan kaget dan tak perlu takut karena kuburan disini bersifat ramah untuk wisatawan artinya bisa kita kunjungi dengan aman dan nyaman.

Pemakaman Londa
Lampu bisa kita sewa dengan harga 30 ribu itu sudah termasuk biaya guide dari sang penjaja lampu itu sendiri. Sudah jauh jauh datang ke Londa jangan sampai melewatkan untuk masuk ke dalam goa, karena ini daya tarik utama Londa.

Sebelum masuk ke dalam goa kita akan melihat sebuah pemandangan yang sangat epic bin awesome dengan aura kematian tentunya. Disini kita akan melihat ratusan tulang belulang berserakan dimana mana dan saling menumpuk satu sama lain. Peti mati pun tampak terbenam di dalam lubang, menggantung di dinding tebing dan bahkan ada yang terongok begitu saja di atas tanah.

Peti Mati Yang Bertumpuk
Peti peti mati yang menggantung bahkan tampak sudah sangat lapuk hingga tulang belulang di dalamnya tampak keluar dan jatuh ke dasar tebing. Peti mati ini bernama Erong. Peletakan erong juga tidak sembarangan karena semakin tinggi letaknya di atas tebing maka semakin tinggi pula strata sosialnya di masyarakat Toraja.

Didalam Erong, selain dimasukkan mayat, juga dimasukkan beberapa harta dari orang yang sudah meninggal. Ada kepercayaan orang Toraja dulu, bahwa orang yang meninggal dapat membawa hartanya ke kehidupan setelah mati. Inilah salah satu alasan mengapa mereka mengubur peti-peti mati di tempat-tempat yang tinggi. Selain untuk melindungi harta yang ikut dikubur, mereka juga percaya bahwa semakin tinggi letak peti mati maka semakin dekat perjalanan roh yang meninggal menuju tempatnya setelah mati

Menurut penuturan sang guide Pemakaman Londa ini adalah pemakaman keluarga dan sudah berumur 550 tahun serta digunakan oleh 25 keturunan keluarga dan sampai sekarang masih aktif digunakan. Sang guide pun mempersilahkan kami untuk berfoto sepuasnya di depan goa Londa ini. Kami pun berpose dengan background tao tao, erong dan tulang belulang.

Sekumpulan Tao Tao
Setelah memotret kami sang guide kembali berkelakar dan bercerita tentang Tao Tao disini. Tao Tao adalah miniatur yang merefleksikan orang semasa hidupnya. Tao tao biasanya juga diletakkan barang barang kesayangan dari orang yang telah meninggal. Jadi tao tao di Londa ini banyak yang dilengkapi dengan kacamata, kalung, ikat kepala. Dan yang membuat tercengang adalah orang yang dibuatkan tao tao ini hanya orang yang dalam perayaan kematiannya sudah menyembelih minimal 25 kerbau. Gilaa gak, 25 kerbau... bayangkan 1 kerbau saja sudah berharga puluhan hingga ratusan juta ini harus minimal 25 kerbau.

***

Cusss..Cusss.. Josss suara pompa dari lampu petromaks yang mulai dinyalakan, Dan kini akhirnya kita akan memasuki Goa.

Note : Bagi yang takut kegelapan, sakit jantung harap perjalanan sampai disini saja. ditakutkan pada waktu di dalam bisa jantungan dan sesak nafas karena suasana di dalam goa yang cukup Disturbing atau tidak mengenakkan.

Masuk Ke Dalam Goa
Memasuki goa kita langsung disambut dengan peti peti mati yang berada di sisi sisi goa. Tulang belulang mulai muncul di mana mana. Terkadang kita harus membungkuk untuk menuju ruangan goa yang lebih luas dengan mengikuti langkah sang guide.

“Mas disini rata rata peti mati berumur berapa taun ya?” tanyaku sambil berjalan membungkuk menghindari batu di atas kepala.

“Ya bermacam macam, ada yang ratusan tahun dan ini yang terakhir baru tahun kemarin meninggal”, sambil nyengir.

“Ihhhh tahun laluuuuu !!!”  

Peti Mati Lapuk
Tengkorak dan tulang belulang yang berserakan itu sebenarnya dari dalam peti. Akan tetapi karena termakan usia peti yang biasanya ditempatkan dibagian atas itu rusak sehingga isinya keluar. Untuk menempatkannya kembali kedalam peti yang baru harus dilakukan dengan upacara khusus yang juga membutuhkan banyak biaya, sehingga tengkorak dan tulang belulang tersebut hanya ditata supaya rapi. Lagipula sudah tidak diketahui lagi tengkorak-tengkorak tersebut berasal dari rumpun keluarga yang mana.

Romeo Juliet Toraja
Pada saat berjalan kita menemukan sebuah sepasang tengkorak di atas tanah yang ternyata menyimpan cerita menarik, Guide itu pun berkelakar tentang cerita romeo dan juliet versi Toraja. Singkat cerita dahulu ada sepasang kekasih yang saling jatuh cinta namun masih mempunyai garis keturunan sedarah. Hubungan mereka pun di tentang banyak pihak akhirnya mereka berdua mati bunuh diri, dan jasad mereka dimakamkan di Londa.

Di ujung goa langkah kita terhenti karena ruangan goa memang sudah mentok sampai disini, namun menurut sang guide sebenarnya masih ada ruangan lagi di sebelah yang bisa kita akses dengan kembali berjalan ke tempat dimana kita masuk tadi atau kita bisa potong jalur dengan merangkak di sebuah lorong sempit sepanjang 30 meter.

Merangkak Di Lorong
Dengan sekali jawab pun kami lebih memilih untuk berjalan merangkak di lorong, hahaha. Berbeda dengan wisatawan lain yang lebih memilih kembali keluar kami rela untuk merangkak di lorong sempit dan kotor demi sebuah pengakuan “Anti Mainstream”.

Tas dan kamera kami amankan sedemikian rupa agar tak terpentok bebatuan di dalam lorong yang hanya berukuran 1 x 1 meter ini. Sang guide berjalan terlebih dahulu untuk memberi penerangan. Aku dan Arif merangkak perlahan dengan kesusahan karena beratnya tas dan kamera yang aku bawa. Pengap, kotor, gelap dan sangat sempit itu gambaran lorong yang kami lalui. Keringat pun mengucur dengan derasnya, berharap lorong ini segera berakhir.



10 menit merangkak akhirnya ruangan besar kami temukan. Namun tak ada angin segar, yang kami temui hanyalah peti dan tengkorak kembali. Diruangan goa yang kedua ini tampak tengkorak dan tulang belulang lebih banyak dari sebelumnya.

Di bawah, kiri, kanan, atas, bahkan lubang lubang sempit pun full dengan tulang belulang. Goa ini tampak seperti sebuah lubang kematian dimana semua masyarakat toraja akan kembali.

Aura Kematian
Meskipun di dalam goa terdapat sangat banyak tulang belulang berserakan namun kita dilarang keras untuk memindahkannya. Karena pantangan di Londa adalah seperti itu jadi jangan harap untuk membawa oleh oleh tengkorak asli kerumah ya cukup bawa foto saja tanpa meninggalkan dan membawa suatu apapun juga. 


Cerita Sebelumnya


You Might Also Like

0 komentar

Followers

Contact Form