featured Mountaineering

Gunung Penanggungan - Tanah Suci Dewa Dewa

11/26/2015Pradikta Kusuma


Dari sudut jalan layang di kota sidoarjo aku dapat melihat dengan jelas sebuah kerucut sempurna kokoh berdiri di sisi selatan. Tampak puncak dari kerucut itu menyapa dari balik awan awan tipis di sisa musim kemarau ini. Sebuah gunung yang dahulu dikaitkan dengan cerita kalau dahulu kala itu adalah puncak gunung semeru yang jatuh ketika dipindahkan oleh tangan dewa. Yaa inilah cerita tentang Sang Pawitra, Gunung Penanggungan.




Tidak begitu menjulang tinggi ke langit, tidak juga begitu istimewa dibandingkan gunung gunung lain di Jawa Timur, namun penanggungan memberikan keistimewaannya yang tidak bisa di dapatkan dari tempat lain sejak dari masa lampau hingga saat ini.

Keistimewaan gunung penanggungan adalah cerita dari masa lampau, bagaimana gunung ini menjadi magnet bagi majapahit pada saat kejayaanya dulu. Dari kaki gunung hingga lerengnya banyak sekali ditemukan peninggalan kerajaan majapahit.

Dan aku pun sempat membaca sebuah artikel tentang “Puncak Yang Dijatuhkan Dewa”.

Cerita yang sangat menggelitik yang menjadikan aku sangat tertarik untuk mendaki gunung ini. Dan kali ini aku akan sedikit bercerita tentang gunung penanggungan mulai dari sejarah masa lampau hingga menjadi destinasi pendakian pada saat ini.

Sejarah Gunung Penanggungan

Alkisah pada jaman dahulu kala para dewa akan memindahkan sebuah gunung yang bernama semeru dan merupakan puncak alam semesta kala itu. Gunung mahameru yang semula tertancap di daerah India (Jambhudwipa) akan dipindahkan ke timur ke daerah Jawa (Jawadwipa).

Pemindahan tersebut untuk memberi pancang paku bumi yang bertujuan untuk menghentikan guncangan jawa akibat terombang ambing oleh laut jawa dan samudera hindia. Namun dalam proses pemindahannya gunung yang dibawa dewa banyak berceceran yang mengakibatkan terbentukya pegunungan mulai dari sumatera hingga jawa bagian timur.



Tubuh mahameru akhirnya pun terjatuh dan menjadi gunung semeru namun puncak dari mahameru terjatuh di sekitar sidoarjo dan mojokerto dan sampai saat ini kita kenal dengan gunung penganggungan.

Gunung penanggungan juga dikenal dengan sebutan “Pawitra” atau gunung suci. Karena pada masa Majapahit gunung ini menjadi simbol kesucian dan banyak didirikan situs pemujaan di kaki hingga lereng gunung pawitra.

Cagar Budaya

Pada bulan Januari yang lalu menjadi kabar gembira bagi kalangan pecinta alam ataupun para arkeolog sejarah karena gunung penanggungan di tetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Timur.




Ratusan cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit dan Mataram Kuno masih tersimpan dengan baik di lereng lereng Sang Pawitra.

Dengan ditetapkannya sebagai kawasan cagar budaya, maka kawasan Gunung Penanggungan tersebut dilarang untuk diubah peruntukannya. Namun untuk kegiatan penelitian dan pariwisata berbasis edukasi dalam rangka menjaga kelestariannya tetap diperbolehkan.

Masa Kini

Dari sejarah yang panjang dari legenda hingga dijadikannya cagar budaya, daya tarik gunung penanggungan pun semakin dikenal oleh para kalangan pendaki atau para pecinta petualangan.

Bagaimana tidak gunung yang tak seberapa tinggi ini mempunyai pemandangan alam yang sangat mempesona yang menjadi magnet bagi siapa saja yang menyukai petualangan. Bagaimana tidak hanya dengan waktu tempuh sekitar 3 jam kita akan disuguhkan panorama alam yang sangat menarik.

View Saat Perjalanan Menuju Puncak
Dan bahkan beberapa bulan belakangan tersiar kabar kalau Pemerintah Kabupaten Mojokerto akan membangun fasilitas wisata di Gunung Penanggungan. Ambisi untuk menyaingi pamor wisata Gunung Bromo dan Kawah Ijen yang lebih dahulu terkenal.

Memang terjadi pro dan kontra akan rencana tersebut. Namun yang pasti semua keputusan tersebut tetap menjaga kelestarian gunung penanggungan sendiri dan tak merusak ratusan cagar budaya yang ada di gunung ini.



Pendakian

Bagi kalangan para pendaki gunung penanggungan juga merupakan destinasi menarik jika berkunjung ke Jawa Timur. Tak hanya Gunung Semeru, Bromo, Ijen saja yang menyajikan panorama alam yang menakjubkan Penanggungan juga mempunyai daya tarik yang tak kalah indah.

Ada 3 jalur pendakian yang bisa dilalui untuk menuju puncak penanggungan. Jalur Trawas, Jalur Jolotundo dan Jalur Ngoro. Namun jalur pertama yang lebih mudah aksesnya dan paling sering dilalui para pendaki.



Kali ini aku kan bercerita Jalur Trawas, karena baru jalur ini saja yang pernah aku lalui, heheh.

Pos pendakian Trawas ini tepat persis disamping Kampus Ubaya Trawas, jika kalian bingung gunakan saja GPS (Gunakan Penduduk Sekitar), pasti kalian akan tiba dengan selamat dan pada waktunya.

Kita akan ditarik retribusi sebesar 5 ribu per orang dan kita akan di kasih sebuah peta kecil. Sang penjaga juga akan menerangkan secara gamblang mengenai medan pendakian dan aturan saat mendaki nanti.

Jalur lebar dan sangat jelas, petunjuk menuju puncak juga gampang sekali kita temui. Ada 4 pos yang akan kita temui sepanjang perjalanan. Jarak antar pos bervariasi tergantung jarak dan kesulitan jalur.


Jalur akan terasa kering dan panas terutama pada saat musim kemarau. Suhu juga terasa panas karena memang gunung ini tak begitu tinggi dan hutan yang ada pun terkesan seperti kebun penduduk yang bertambah tinggi. Tak ada pohon pinus atau cemara yang ada hanyalah pohon pisang dan lamtoro, hehe.

Lahan untuk mendirikan tenda ada di puncak bayangan. Disini terdapat lahan datar yang luas cukup untuk menampung sekitar 30 tenda. Panorama disini pun sudah sangat indah, karena puncak bayangan ini terletak di lahan terbuka.

City Light
Tepat di bawah sana Trawas dan Tretes terlihat jelas dan diseberang sana dengan gagahnya gunung Arjuno Welirang berdiri. Pada saat malam menjelang keindahan yang disuguhkan pun tampak semakin indah karena gemerlap lampu kota bisa kita nikmati dari Puncak Bayangan ini.

***

Tinggal seperempat jalan lagi, bayangan puncak pun sudah terlihat tapi nafas semakin terengah engah di antara udara dingin pagi. Kilatan lampu lampu pun tampak berkumpul di atas puncak sana.

Semburat cahaya merah mulai muncul di batas cakrawala menandakan sang mentari akan segera bangun dari tidur malamnya. Tiba tiba terdengar teriakan dari atas.
“Mass ... mass...ayo cepetan, sebentar lagi sunrise. Puncak sedikit lagi”

Teriakan itu ternyata dari adek sepupuku si Gallus. Dia tampak begitu antusias menuju puncak, mungkin karena ini pendakian pertamanya.

Memang gunung ini tak lebih tinggi dari 2000 mdpl namun jangan sekali kali meremehkan jalur menuju puncaknya. Karena jalur dari puncak bayangan ke puncak penanggungan ini benar benar menguras tenaga.

Kemiringan lebih dari 45 derajat dipadu dengan cadas batuan yang mudah terlepas. Sangat riskan jika kita terlalu terburu buru dalam melangkah. Karena batuan yang rapuh sangat berbahaya bagi diri kita sendiri maupun para pendaki yang ada di bawah kita.

Siluet Hitam Diantara Merah Putih
Bendera berkibar tepat di puncak yang memiliki sebuah penanda bertulisan “Puncak Penanggungan 1653 mdpl”. Para pendaki menjadi siluet siluet yang bergerak di antara cahaya pagi yang masih temaram.

Kabut tipis pun mulai menyapu puncak penanggungan, berpadu indah dengan sinar matahari yang masih menampakkan warna kemerahannya. Tepat disamping mulai nampak bayangan raksasa dari tubuh Arjuno Welirang, dan di beberapa sudut nampak bendera merah putih berkibar di antara para pendaki. Menambah khidmat rasa kebangsaan di atas ketinggian ini.


Penanggungan sang miniatur semeru telah memberikan semua keindahannya pagi itu. Dan aku sangat bersyukur masih bisa menikmati semua ini, di atas ketinggian, di bumi Indonesia yang aku cintai.

You Might Also Like

8 komentar

  1. Kamu. Selalu keren. Di mataku. Mz.

    ReplyDelete
  2. mas mau tanya dong masalah layout,
    aku pakai tema di themexpose kok setelah diaplikasikan main bar sama sidebar nya kok jadi gak sejajar ya :(
    barangkali bisa jelasin :D hehe thx

    bisa diliat disini : http://www.fraunesia.com/

    ReplyDelete
  3. mas mau tanya dong masalah layout,
    aku pakai tema di themexpose kok setelah diaplikasikan main bar sama sidebar nya kok jadi gak sejajar ya :(
    barangkali bisa jelasin :D hehe thx

    bisa diliat disini : http://www.fraunesia.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Source codenya mungkin ada yang kurang mbak, coba di baca dulu intruksi pemakaina dari tema yang mbak gunakan.

      Delete
  4. Foto-foto bang dikta emang selalu kece!!! Bonus sejarahnya pula, makasih bang dikta yang mirip google :)

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form