Mountaineering

Gunung Ciremai - Tanah Tertinggi Jawa Barat

11/13/2014Pradikta Kusuma


Gunung ini yang sebenarnya bernama cereme ini sering salah kaprah disebut Gunung Ciremai yang berada di perbatasan 3 kabupaten di Jawa Barat yaitu Kuningan, Cirebon dan Majalengka. Memiliki ketinggian 3078 mdpl yang merupakan tanah tertinggi di Jawa barat. ada 3 jalur pendakian resmi untuk dapat mencapai puncak tertingginya melalui jalur Linggarjati, Palutungan dan Apuy.


Video pendek hasil dari pendakian Ciremai ini, semoga bisa memvisualisasikan keindahan dengan baik daripada hanya sekedar foto yang diam.

Setelah hampir 2 tahun aku merantau di Ibukota dan hampir selalu mendaki gunung gunung di Jawa Barat akhirnya aku kesampaian juga mengunjungi Gunung Ciremai. Kenapa baru kali ini aku ke Ciremai? Karena pada awalnya aku berpikiran jika gunung yang berlokasi di dekat Cirebon ini jauh dan memakan waktu lama untuk transportasi apalagi dengan jalur panturan yang tak kunjung selesai dengan borok boroknya. Namun semua persepsi itu semakin luntur seiring banyaknya aku browsing di internet bahwa ada satu jalur yang tak perlu melalui Jalur Pantura melainkan hanya melalui bandung. Jalur ini melalui Majalengka di desa Apuy, Dan aku pun mengukur jarak antara Jakarta ke Jalur ini tak lebih jauh dari Jakarta ke Garut yang sudah berkali kali aku lalui. Berpatokan akan jarak dan kemudahan transportasi kesana aku pun bertekad untuk menjejakkan kaki di tanah tertinggi di jawa barat ini.

Singkat  cerita akupun mengumpulkan pasukan bebas polio untuk pendakian kali ini biar terasa lebih rame dan murah patungannya. Kami mengambil jalur dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan bis dari Kampung rambutan. Setibanya di Leuwi Panjang kami berganti angkutan elf tujuan cikijing. FYI, harga elf ini bisa berubah ubah tergantung cara menawar, saat itu kita mendapatkan harga 30k/orang sedikit kena getok sih dan sang sopir pun sedikit jual mahal. Apa boleh buat untuk menghemat waktu kami iyakan saja harga tersebut.

Tak begitu jauh sebenarnya jarak bandung ke Majalengka, hanya perlu 2 jam saja itu kalau tidak macet lho ya. Kondisi elf sebenarnya baik dengan performa mesin yang gahar bagaimana tidak speedo menunjukkan angka tetap 80 km/jam, namun yang mengenaskan adalah kondisi tempat duduk penumpang yang sangat berdesakan. Elf dengan muatan maksimal untuk 15 orang disulap sampai muat 20 orang lebih, kami di dalam elf sudah seperti ikan pindang yang berjejer di dalam pemanas. Sangat sempit, bergerak pun susah apalagi aku duduk disamping mesin elf..panasss mamennnn. Sampe aku pun mual mual, aku pejamkan mata saja agar isi perut ini tak keluar, bisa gempar nanti seluruh penumpang elf..hahaha.

Hampir 2 jam akhirnya kita sampai juga di terminal maja. Sebuah kecamatan kecil di kabupaten Majalengka yang berada di kaki Gunung Ciremai. Dari sini kita oper lagi dengan pick up yang sebelumnya sudah kami sewa. Jarak gerbang pendakian dari terminal maja masih 15 km, masih jauh mennnn. Disini terdapat pasar dan minimarket untuk melengkapi logistik pendakian yang kurang. Jalur menuju Gerbang pendakian sudah cukup baik, jalur naik turun lembahan dan melewati perkampungan kecil sepanjang jalur. Dalam perjalanan kita sudah bisa melihat begitu megahnya Gunung Ciremai ini. Puncaknya tampak sangat tinggi, dalam hati aku berkata besok aku pasti mengibarkan bendera di puncak Ciremai, tapi sebelum itu aku melihat kemiringan badan Ciremai dan aku pun membayangkan jalur yang akan kami lalui nanti.

Papan Pos 1
Sial bagi kami saat itu, karena pick up harus berhenti di tengah jalan karena jalur menuju pos 1 sedang dilakukan perbaikan. Kita akhirnya harus jalan sekitar 1 km hampir 15 menit dengan kemiringan curam dan bikin engap, pemanasan yang lumayan pikirku. Akhirnya kami tiba di Pos 1 pintu pendakian Apuy. Disini kita melakukan registrasi dengan biaya 20k/orang, air bersih terakhir hanya ada di pos ini karena selama pendakian tidak sumber air lagi. Keadaan Pos 1 ini tampak terawat dengan baik, ada Mushola, MCK, dan beberapa warung. Informasi mengenai jalur pendakian pun semua ada di Pos ini.


Gerbang Pendakian Jalur Apuy

Setelah memberi sedikit asupan pada perut akhirnya tepat pada pukul 10 kami benar benar melangkah mendaki Gunung Ciremai. Trek awal dari pos 1 masih landai dengan beberapa plang peringatan dan peraturan pendakian. Saya sarankan agar membawa masker jika keadaan sedang kemarau panjang seperti ini jalur menjadi sangat berdebu. Jalur landai seperti ini asik untuk dijadikan pemanasan sebelum menemui jalur ciremai yang sesungguhnya. Tapi tetap saja yang namanya pendaki polio ya harus melakukan peregangan otot dulu walaupun jalur masih landai landai saja, hahahaha.


Menuju Pos 2
Tak butuh waktu lama sekitar 30 menit kita telah sampai di Pos 2 Berod. Pos ini cukup lebar dan cukup nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat. Tak berlama lama kami pun langsung tancap, ehh sebelum ngegas kami dicegat oleh seorang penjaga Taman Nasional. Sebut saja beliau ini bunga. Beliau berkata, “Kalian hati hati ya dalam pendakian nanti, jangan ada yang berpencar karena berbahaya.. takutnya ada apa apa” dan yang paling penting katanya adalah “Jangan kencing di dalam botol, kalau kebelet ya langsung saja di tanah sekalian bisa jadi pupuk amoniak buat tanaman”, hahahaha.. pernyataan terakhir yang cukup lucu. Kenapa harus bilang kencing di botol? Kita sebagai pecinta alam kan seharusnya sudah tau kode etik seperti itu, tak perlu dibilang juga kami sudah tau akan hal itu, tapi ya entahlah kami hanya berkata “mengerti pak, siap dilaksanakan”.


Jalur Berdebu Saat Musim Kemarau
Hanya 20 meteran dari pos 2 ini jalur sebenarnya akhirnya menampakan perwujudannya., mulai menanjak hebat diantara akar akar pohon. Sekilas jalur ini Nampak seperti de javu jalur Gunung Gede via putri sebelum dibangun jalur semen cor.Awal sih kami masih kuat dan melahap habis jalur ini. Namun 20 menit berselang terdengar kata “Breakkkk”, dan kami pun langsung tergeletak di tengah jalur.

Sembari mengumpulkan tenaga kami melihat beberapa pendaki yang turun, ehh sebenarnya sih bukan pendaki ya. Style mereka bisa dikatakan anak sekolahan yang menghabiskan waktu di gunung. Dengan sepatu kets converse, sepatu sekolah, tenda unyu yang dijual dipinggir jalan, tikar, membawa tongkat pramuka, wajan, panci, yang mereka gantungkan di tas laptop mereka bahkan ada yang memakai HELM saat mendaki, gilaaaa..baru pertama ke gunung lihat seperti ini. Banyak sekali anak sekolahan seperti ini turun gunung. Aku pun sempat bertanya kepada mereka “Dek, di atas ada konser JKT 48 ya??”, mereka hanya bisa tertawa dan tak membalas pertanyaanku. Kami bahkan sempat berpikir jika di daerah Majalengka ini ada pelajaran mendaki gunung yang harus dipatuhi semua murid, hahahaha siapa tau?. Tapi aku miris melihat style mereka ini karena mendaki gunung bukan kegiatan main main, butuh alat keselamatan dan pengalaman di tengah hutan belantara seperti ini agar mereka semua bisa survive. Ahhh masa bodo lah dengan semua itu, Para penjaga Taman Nasional pun tetap saja memberi izin mendaki bagi para pendaki “Newbie” seperti itu, dan kamipun hanya bisa tertawa tawa lucu melihat semua itu.


Karena Banyak Polisi Di Ciremai, Safety Hiking.

Jarak pos 2 ke pos 3 merupakan jalur terpanjang di Apuy. Setiap kali yang Nampak hanya tanjakan dan tanjakan yang tiada berakhir. Tapi disepanjang jalur ini banyak ditemui beberapa titik dengan tanah datar yang bisa dijadikan untuk mendirikan tenda dalam keadaan darurat. Kami pun begitu melihat tanah datar atau kayu yang bisa dibuat duduk manja pasti kami berhenti dan menikmatinya. Mendaki bukan tentang puncak yang kita kejar tapi bagaimana proses dalam perjalanannya karena itu yang lebih kami nikmati.

Hampir jam 2 kami akhirnya tiba di Pos 3 Tegal Masawa. Pos datar yang bisa menampung beberapa tenda, banyak pendaki beristirahat disini. Tak membuang banyak waktu kami melanjutkan kembali. Trek tetap menyajikan tanjakan yang tak berujung namun lebih banyak batang pohon yang bisa kami jadikan tempat duduk, hahaha. Kabut pekat pun mulai sering mendekap langkah kita, kadang hilang kadang muncul kembali. Tanda tanda alam yang kurang bersahabat nampaknya, tapi aku tetap berharap agar hujan tidak turun saat itu.


Pos 3
1 jam kemudian kami tiba di Pos 4 Tegal Jamuju. Kami hanya melewati pos ini dengan cepat karena mendung yang semakin gelap. Membayangkan berjalan di trek menanjak seperti ini akan sangat menyulitkan. Rintik rintik air pun berjatuhan dari langit, semakin cepat langkah kami. tapi apa daya akhirnya hujan pun turun dengan derasnya. Raincoat kami keluarkan dari keril dan akupun memakai dobel perlindungan dari payung dan raincoat made in indomart seharga 5k saja.


Pos 4
Jalur pun berubah menjadi kubangan air yang sangat licin kami harus berhati hati dalam melangkah. Tak ambil resiko kamipun berhenti dan membentangkan flysheet di samping jalur dan menunggu hujan reda. Cukup lama kami menunggu sampai setengah jam, dan akhirnya hujan pun reda. Kamipun kembali melangkah namun kali ini dengan sedikit rasa was was terpeleset karena jalur berubah licin sehabis hujan. Tak beberapa lama kami akhirnya tiba di Pos 5 sanghyang rangkah.

Sedikit berdiskusi apakah kita akan lanjut ke pos 6 atau membuka tenda saja di pos 5. Sempat kebingungan karena kami belum ada yang pernah kesini, namun setelah bertanya dari pendaki lain yang menyatakan “Pos 6 masih jauh banget mas, jalurnya nanjak abis” mendengar ucapan itu akhirnya nyali pun ciut. Kami mencari lahan datar sebelum pos 5 karena di pos sudah full dengan tenda. Kami pun mendapatkan spot datar walaupun agak terpencil dan sangat sempit tapi biarlah asal kami bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan esok hari. Kegiatan kami kurang begitu bebas di tempat miring dan sempit seperti ini. Masak memasak juga di tempat kurang strategis dan agak miring, tapi tak apalah yang penting kami bisa tersenyum bersama menikmati ini semua J

Suara alarm cukup berisik pagi itu, masih jam 3. Tapi apa boleh buat kami harus bangun bersiap dan meneruskan perjalanan. Tepat pukul 4 subuh kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati pos 5 vegetasi di sekitar jalur tampak mulai terbuka. Tak banyak yang bisa aku ceritakan dalam gelap ini, hanya gemerlap lampu kota majalengka yang menemani langkah kami pagi itu.


Gagal Sunrise
Matahari pagi pun tampak menampakkan sinarnya, tapi kami masih di perjalanan gagal menikmati sapa sang surya di puncak Ciremai. Kami masih dipertigaan jalur Apuy dan Palutungan. Menengok ke atas puncak sudah Nampak tapi masih cukup jauh, Pos 6 Goa wallet pun belum Nampak. Yang bisa saya katakan saat summit attack ini adalah “Nanjak Abis” tak ada tanah datar sedikitpun. Jalur ke puncak ini beruba batuan sisa sisa letusan ciremai pada masa lalu. Tampak banyak batu seperti leleran lava yang telah membeku. Kita harus hati hati dalam melangkah naik.


Menuju Pos 6
Persimpangan Jalur Apuy dan Palutungan

Pukul 6 kami tiba di Pos 6 Goa Walet. Tampak di bawah di depan Goa sudah tampak penuh dengan tenda bahkan di sekitar jalur pun banyak sekali tenda tenda, padahal keadaan tanah yang miring dan full berbatu. Membayangkan tidur di dalam tenda seperti ini pasti tak nyaman. Dari sini puncak dapat kita tempuh dalam 30 menit saja namun dengan jalur yang lebih sempit dan lebih menanjak. Kami tetap berhati hati. Denyut jantung semakin memburu dan kaki pun mulai lemas butuh asupan kembali, hehehehe.



Pos 6 - Goa Walet
Jalur Selepas Pos 6

Alon alon asal kelakon akhirnya aku pun sampai di puncak tertinggi Jawa Barat. Matahari yang tampak meninggi pun memberi salam kehangatannya. Kawah ciremai yang sangat curam pun dapat kami jumpai dengan asap belerang yang mengepul di tengahnya. Melihat jauh kebawah tampak gulungan awan nan indah. Kami ada di atas awan bukan dengan sayap ataupun pesawat tapi hanya dengan langkah kaki.


Samudera Awan
Akhirnya Pucuk

Kita harus berhati hati saat di puncak Ciremai ini karena bibir kawah yang sangat curam dan kita rawan untuk jatuh. Kalo ingin narsis tetap ingat safety first kawan. Nampak jelas bekas letusan mengerikan ciremai masa lalu yang meninggalkan kawah besar seperti ini. Di puncak seperti ini kami selalu mensyukuri semuanya. Setelah perjalanan panjang kami akhirnya bisa berdiri di tanah tertinggi di Jawa Barat.


Awas Nyemplung
Kawah Ciremai

Banyak pengalaman yang aku dapatkan ketika melakukan pendakian gunung. Ada satu yang menarik tentang gunung ciremai ini. Seperti yang diutarakan sang penjaga pos 2 TN.Ciremai kalau kita tidak boleh kencing di dalam botol, sesuatu yang bodoh bukan? Tapi baru di Ciremai ini aku menemui banyak sekali botol botol berisi air kencing, sungguh miris melihatnya. Ulah siapa ini? Kenapa kencing harus di botol? Bikin kotor gunung saja. Bahkan bagi para pemulung sampah di gunung pun tampak enggak mengambil botol berisi teh ini,, hihhhh jijik men. Sempat masuk media massa juga ada seorang pertapa gunung gunung jawa menyebut Ciremai sebagai gunung paling kotor di Pulau Jawa.

Terbang Bersama Balon
Usut punya usut dan cerita akhirnya akupun mengerti kenapa bisa seperti ini. Konon ceritanya bagi masyarakat sekitar Gunung Ciremai ini adalah gunung yang suci, para pendaki khususnya kalangan yang meyakini hal tersebut pun ikut menjaga tradisi itu. Sehingga mereka pun enggak membuang kotoran di tempat suci seperti ciremai bahkan mereka pun takut untuk mengotori tanah ciremai dengan kencing mereka maka dari itu mereka kencing di botol dan yang tak bakal menyentuh tanah suci Ciremai. Okee, bagi kalian para pembaca yang berpikir real tentunya sudah paham mana yang lebih baik kencing di botol ataukah kencing di langsung di tanah.

“Don’t leave anithyng but footprint, don’t take anithyng but picture” sebuah rangkaian kata yang sangat bermakna, Tourism meningkat pesat di suatu Destinasi Wisata punya berbagai efek baik positif maupun negatif, apalagi sekarang dengan boomingnya sosial media membuat suatu destinasi yg tadinya tidak terjamah jadi dikenal. Efek Negatif dari boomingnya Destinasi Wisata bisa rusaknya alam, hancurnya habitat, pembangunan yg mungkin merusak lingkungan. Tetapi efek positifnya dari boomingnya suatu Destinasi Wisata membuat banyak orang punya pekerjaan, orang lokal lebih menghargai daerahnya & SDM menjadi meningkat. Banyak saya lihat alam yang rusak dikarenakan Masyarakat Lokal yang menebangi hutan & mengambil satwa yg dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, jika mereka hidup dari pariwisata pastinya mereka akan menjaga dan melestarikan tempat tersebut.



Satu kata terakhir untuk kita semua yang cinta akan travelling mohon untuk lebih memaknai kata "Take nothing but pictures leave nothing but footprints, kill nothing but time." saya yakin semua Destinasi Wisata akan terjaga kelestariannya, Salam Bebas Poliooo… woyooooooooooo.

You Might Also Like

28 komentar

  1. Kalau mampir ke sini, sering-seringlah bershalawat, Pet!!! Disusul elus-elus layar hengpong dan meng-Aamiin-i dalam hati. Rumus ustdz Yusuf Mansur haha
    Sukses deh bikin mupeng -_____-"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mending masih shalawat, daripada di sholatin :p, yang rajin mampir sini yaaa

      Delete
    2. Sering-sering dishare via twitter dong, Oom. Jadinya bisa tau ada tulisan baru. Ya kalau bisa juga cc-in ke akun-akun gunung sama share ke facebook juga, biar enggak sepi gini. Sayang soalnya, tulisannya agak bagus :p dan gambarnya bikin mupeng beneran. Sekedar saran sih, selebihnya sesuai selera penulis aja. Da aku mah apa atuh, cuma blogwalker di tengah kesendirian aja :D

      Delete
    3. Well noted deh, karena kesibukan agak kurang diperhatikan. Tapi yang nyesek tuh kata "agak bagus" -_____-". Btw jangan nengok2 juga dong di akun youtube ane, siapa tau makin jadi racun.

      Delete
  2. Kata nya yg perna gw denger, banyak misteri yg menyelimuti gunung ini yaaa. Kakak nya temen gw ilang 6 hari tak ditemukan padahal dah disisir dan tiba2 muncul sendiri :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua gunung tempatnya semua misteri, tergantung kita menyikapinya seperti apa. Waktu kesini sih happy2 aja tanpa ada kejadian misteri sama sekali.

      Delete
  3. naik gunung okeh..tapi jangan lupakan sholat..banyak pendaki memuji keindahan alam..tapi melupakan kepa Sang pembuatnya ..Allah SWT

    ReplyDelete
  4. manusia pemimpin d muka bumi ini..pemimpin terhadap semua makhluk yang ada..yg kelihatan maupun yg kagak..masak pemimpin takut sama bawahan? kita punya Allah sebagai pelindung ..

    ReplyDelete
  5. Masuk kedalam daftar untuk didaki suatu saat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan suatu saat.. tapi SEKARANG !!!

      Delete
    2. Ya kali gue langsung loncat kesana bang

      Delete
  6. Pengen ke gn. Ciremai tapi kyknya eike kaga kuat klo sumber airnya sedikitt.... hik...hik..hikk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang di Ciremai harus pintar pintar mengatur persediaan air yang kita bawa :D

      Delete
  7. Wahh sedih baca nih blog.. Gw baru balik dari ciremai bang tapi ga sampe puncak:') Persediaan air abis, kepala pusing saking panasnya padal sebentar lagi sampe goa wallet, cuma ga mau ikutin ego sampe puncak takut kita kenapa napa.. Dan akhirnya kita balik ke tenda di arban via palutungan.. Dari persimpangan apuy dan palutungan treknya gokil..Nanjjak terussss­čśé

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, naik gunung itu bukan hanya puncak yang kita tuju, tapi bagaimana kita memaknai pendakian itu sendiri..eaaaaaa. Tapi kapan kapan dicoba lagi mbak, Ciremai tak akan lari dikejar.

      Delete
  8. Sempet takut dan ngeri denger dan baca cerita yang beredar meskipun temen juga aman-aman aja muncak ke Cereme. Baca ini jadi netral lagi :))

    Pulangnya lewat jalur mana mas? Apuy lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pulangnya lewat jalur apuy lagi... ngeri itu masalah apa? Setan? haha, setan takut deket deket

      Delete
  9. Pasti naik elf "buhe jaya" dari leuwipanjang nya.hihihihi....
    Menariknya majalengka.

    ReplyDelete
  10. Pasti naik elf "buhe jaya" dari leuwipanjang nya.hihihihi....
    Menariknya majalengka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok tau mbak? haha, elf legendaris tuh

      Delete
  11. mau tanya ada trip nya gk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya banyak travel open trip gitu yaa... tapi kurang tau juga

      Delete
  12. Info nya lengkap banget gan, saya sudah pernah melakukan pendakian gunung Ciremai via Linggarjati insya allah bulan September mau ikut opntrip pendakian gunung Ciremai via Apuy. TKS info

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form