Mountaineering

Gunung Gede - Jalur Menakjubkan Selabintana

5/21/2014Pradikta Kusuma


Selabintana atau biasa disebut penduduk Pondok Halimun adalah salah satu jalur pendakian Gunung Gede dari 3 jalur resmi yang disediakan. Gerbang masuk Gn.Gede via Salabintana memang tidak seramai gerbang Cibodas, dengan maksimal Quaota 100 orang, Salabintana kurang diminati pendaki dibanding gerbang masuk yang lain dikarenakan berbagai hal yang akan saya ceritakan pada tulisan kali ini. Namun dibalik itu semua justru menyimpan pesona yang sangat menarik dan patut untuk kita rasakan khususnya bagi para pendaki.


Jalur paling membuat mental down, jalur paling membuat keringat mengucur deras, jalur paling panjang yaitu sekitar 11 km, jalur paling menanjak karena tanjakannya seakan tiada habisnya, jalur paling menggelikan ya geli karena banyak sekali penghisap darah “pacet”, Jalur paling sepi apalagi tanpa kehadiran penjual nasi uduk semakin membuat siksaan kita, Jalur paling berat diantara ketiga jalur resmi pendakian Gunung Gede inilah jalur Selabintana. Deskripsi barusan memang sangat tepat untuk menggambarkan suasana jalur pendakian gunung gede via selabintana ini. Jalur yang menurut saya cukup saya lalui sekali seumur hidup dan bakal mikir 1000x untuk kembali mendaki melalui Selabintana, satu kata Kapokkkk.


Gerbang Masuk Jalur Pendakian Selabintana

Perjalanan kali ini saya ditemani 7 kawan kawan yang sangat fenomenal, atau bisa dibilang menyenangkan. Yohan, Dino, Ridwan, Fahmi, Dwi, dan Dinna yang bisa saya katakana adalah sekumpulan orang orang hebat dalam perjalanan kali ini. Awal mula rencana pendakian ini adalah hanya ingin sekedar mencoba karena banyak racun dari Pak Seno Panthera (Cerita lengkap bisa dibaca disini) pendakian kali ini juga menjadi ajang latihan kami sebelum pergi ke Gunung Rinjani pada akhir bulan mei 2014 ini. Kami pun memutuskan mengambil jalur selabintana yang notabene jalur paling sepi sehingga mudah dalam pendaftaran booking online. Dan ternyata benar pada saat booking pun hanya kami yang mendaftar di jalur ini. Namun tak kami sangka seminggu sebelum keberangkatan kami cek kembali di website jalur ini telah Full Kuota bahkan minus. Wowwww…saya pun memikirkan kalau suasana pendakian akan ramai. Dan pada hari H kami pun meluncur ke Pondok Halimun dari Ibukota. Bila ada kawan kawan disini yang bertanya bagaimana transportasi menuju Pondok Halimun bisa dibaca lengkap DISINI.

Seperti biasa sebelum membaca lengkap cerita perjalanan pendakian Gunung Gede via Selabintana ini akan saya suguhkan video perjalanan pendek kami. Semoga bisa menjadi racun awal semenjak kalian mampir di blog ini.. hehehe. Silahkan di Buffer.




Sabtu pagi kami pun membuka mata di dalam pos Volunteer Panthera, udara pagi itu terasa lebih dingin dibanding waktu kami berkunjung kesini sebulan sebelumnya. Setelah melaksanakan sholat subuh kami pun segera menyiapkan tas tas keril kami yang begitu besarnya. Sepagi mungkin kami berencana untuk segera berjalan karena kami sadar karena perjalanan akan lama. Tak lupa kami sarapan terlebih dahulu dengan bekal nasi goreng yang kita beli semalam. Pagi itu selain kami ternyata sudah ada 2 tim yang berjalan terlebih dahulu, mereka berjumlah 11 orang dan tim ke dua berjumlah kurang lebih 5 orang. Dan jika dijumlah dengan kelompok kita total hanya sekitar 23 orang yang akan melintas selabintana. Sungguh jumlah yang jomplang dengan kuota 100 orang yang telah Full Booked.


Narsis Dulu Sebelum Berangkat
Tepat pukul 7 kamipun segera berkumpul di pelataran Pos melakukan pemanasan dan berdoa. Resi penjaga pos Panthera pun memeriksa Simaksi kita, setelah oke kamipun diantar resi ke pintu pendakian yang agak tersembunyi. Menurut Resi banyak pendaki yang terkecoh dengan jalur berbatu lebar lurus yang akan kita lalui. Padahal jalur pendakian setelah melewati pos panthera terdapat jempatan kecil jalur ada di sebelah kiri dengan penunjuk Surya Kencana. Jalur berbatu lurus adalah jalur menuju Curug Cibeureum.


Jalur Pendakian Sebelah Kiri Setelah Jembatan

Memasuki jalur pendakian trek akan menyusuri punggungan bukit dengan jalur tipis kiri kanan jurang dengan kontur yang terus menanjak. Benar benar sambutan yang tak mengecewakan. Sesekali ranting dari pohon tumbang akan menghalangi awal perjalanan kami ini. Dedaunan tampak rapat di kiri kanan, mungkin juga karena sepinya pendaki yang melewati ini maka dedaunan bisa tumbuh subur dengan pepohonan rapat yang tampak menghalangi sinar matahari menembus dedaunan. Jalur pun tampak gembur penuh dengan humus dari tumpukan daun gugur. Namun menurut saya dengan suburnya dedaunan di jalur ini maka akan berbanding lurus dengan perkembang biakan sang penghisap darah “Pacet”. Teori saya ini pun segera terbukti dengan teriakan Si Ridwan. Haaaahhh ada Pacettttttttt…… hahahahaha. Si mungil telah mendekam di tangan Ridwan dan mulai menyedot jus darah, tak menunggu lama Mas Dino segera mengeluarkan cairan ajaibnya. Di oles sedikit Pacet akan segera berjoget joget dan melepaskan ciumannya. Cairan ajaib ini adalah minyak sereh atau bisa menggunakan sitronela, cairan ini sangat ampuh untuk menghalau serangan pacet. Sebelum berangkat tadi pun saya mengolesi minyak sereh di seluruh bagian tubuh yang terbuka walaupun minyak ini beraroma seperti minyak nenek saya dahulu, hahahaha.


Rimbun Jalur Pendakian


Penghisap Darah "Pacet"

Berjalan kurang lebih 2 jam tanjakan tampak sedikit berkurang dan jalur bonus mulai mendominasi. Otot otot kaki kamipun bisa sedikit relaksasi menikmati jalur menyenangkan ini. Berjalan dan berjalan lagi kita akhirnya tiba di Cigeber. Pos ini terdapat di puncak punggungan dengan tanah datar yang bisa menampung 5 – 8 tenda. Di pos ini terdapat persimpangan yang cukup membingungkan, jalur yang benar adalah yang kearah kiri dengan jalur yang sedikit menurun. Di pos pertama ini kami tak beristirahat cukup lama karena sebelumnya kami telah banyak sekali beristirahat.


Pos Cigeber

Lanjut perjalanan kembali menuju shelter Cileutik kita akan melalui jalur menurun arah kiri dan berganti punggungan bukit. Jalur dari sini mulai sangat menanjak dengan jalur sempit. 15 menit setelah cigeber saya pun tiba terjatuh dengan kaki yang tak bisa saya gerakkan, kaki terasa sangat kaku dan sakit, saya pun berteriak karena sakit. Mas dino dengan sigap langsung mengurut kaki saya yang kram, dan Alhamdulillah dengan bantuan mas dino kaki saya telah kembali dan siap untuk berjalan kembali.

Menapak jalan kembali kaki terasa lebih berat dari biasanya. Tapi hanya tekat yang mampu membuat saya untuk terus melangkah. Jalur tetap menanjak tanpa ampun. Mulai dari sini perjalanan tampak sangat lama, tanjakan demi tanjakan seakan selalu menemani langkah kita. Estismasi waktu kami sampai di Cileutik pun meleset jauh. Jam 2 siang kami belum juga bertemu dengan shelter cileutik, di kondisi yang mulai kelelahan satu persatu tim mulai tampak sepi dan kehilangan keceriaan. Dan setelah berjalan lebih dari 7 jam kami akhirnya bersimpangan dengan pendaki lain yang akan turun menuju Pondok Halimun. Begitu senangnya bertemu dengan mereka di jalur yang begitu sepi ini. Menurut penjelasan mereka Cileutik bisa kami tempuh dalam waktu 1 jam dari posisi kami berdiri. Dan semoga ini bukanlah PHP. Berjalan dengan semangat yang sedikit bertambah kamipun segera melangkah kembali menerjang tanjakan tanjakan ini. Dan benar saja setelah 1 jam lebih kami akhirnya bertemu Shelter Cileutik.


Kabut Kala Itu


Cileutik merupakan pos yang dapat digunakan untuk bermalam yang bisa digunakan untuk 5 – 7 tenda. Disini terdapat plang penunjuk arah dengan angka 2,5 km lagi kita akan sampai di alun alun Surya Kencana. Di pos ini juga terdapat air terjun kecil untuk sumber air minum kita. Air terjun ini airnya sangat jernih dan sangat dingin, menyentuh sedikit saja tangan akan tampak mati rasa. Di cileutik ini kami sempatkan juga untuk menunaikan ibadah sholat sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Menurut penuturan Resi Volunteer Panthera dari pos Cileutik menuju alun alun Surya Kencana akan dapat ditempuh dengan 2 jam perjalanan dengan medan yang menanjak namun tanjakannya tak sebegitu jauh hanya sekitar 100 meter saja. okelah dengan jarak 100 meter tampaknya perjalanan akan terasa lebih mudah.


Pos Cileutik

Air Terjun Mini Cileutik

Beranjak dari Pos Cileutik setelah menyeberangi aliran air terjun jalur akan langsung menanjak hebat. Dan disini pun saya mulai berpikir, “Ahhh nanjak gini hanya 100 meter saja, setengah jam paling juga sudah landai”. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan, setengah jam, 1 jam tanjakan malah semakin menjadi jadi tanpa ampun. Menurut saya ini adalah jalur terberat di Selabintana ini, trek menanjak dengan kemiringan bervariasi antara 45 – 60 derajat, bahkan terkadang jalur berubah seperti parit sempit yang menanjak. 90 menit pun berlalu dan disini pun saya ingin memaki maki Resi dan Teman Volunteer Panthera yang lain “Fix..mereka hanya memberi harapan pada kami tadi, namun kenyataannya jalur menanjak ini adalah PHP Besarrrrr”. Hanya 100 meter menanjak katanya sihh…tapi perasaan ini jalur 10.000 meter yang tiada habisnya. Bahkan dijalur ini saya untuk pertama kalinya tampak sedikit ingin marah dan kesal dalam berjalan, bahkan sekedar untuk mengeluarkan kamera pun saya ogah.

Waktu pun semakin mendekati senja. Saya pun tertinggal jauh dibelakang hanya berdua dengan Si Yohan. Kami berdua sangat kelelahan dan kehilangan energi seiring dengan perut kami yang semakin membuncit. Di sini kami menemui jalur berbatu licin dan sedikit becek, terdapat tali yang membantu kami untuk tetap bergerak naik. Dengan sisa sisa tenaga kami lalui itu dan Alhamdulillah di tengah deras peluh alam telah menyuguhkan keindahannya, keindahan negeri sejuta senja.


Negeri Sejuta Senja

Berjalan kembali Nampak tanjakan sedikit lebih berkurang namun tetap dalam lingkupan hutan. 30 menit dari tanjakan berbatu kita akan segera sampai di pertigaan Gunung Gemuruh. Disini kita harus mengambil arah kiri. Dari pertigaan ini jalur akan terus menurun hingga kita keluar hutan dan bertemu dengan padang luas di alun alun surya kencana barat.

Dan akhirnya kita sampai di Surya Kencana tepat pukul 18.30, ahhh sungguh perjalanan yang sangat melelahkan dan terkesan sangat jauh. 11,5 jam kita berjalan dari pagi hingga malam ini. Kita pun segera berjalan kembali menuju tempat camp di samping aliran sungai yang membelah Alun Alun Surya Kencana ini. Malam itu tampak langit memendarkan kegembiaraannya, semburat bintang bintang tampak menemani kelelahan kami malam itu. Namun sayang kali ini tak bisa saya abadikan karena fisik saya yang benar benar kelelahan dan hanya bisa mendekam dalam tenda pada sisa malam yang ada.


Camp Di Alun Alun Surya Kencana
Sebelum saya bercerita kembali mengenai perjalanan ke puncak, disini saya akan mendeskripsikan tentang keindahan Surya Kencana terlebih dahulu. Ya hitung hitung sebagai racun buat kalian kalian yang membaca tulisan ini. 
Alun – alun Surya Kencana adalah sebuah dataran seluas 5 hektar lebih yang ditutupi oleh indahnya hamparan bunga Edelwies berada di ketinggian kurang lebih 2.700 Mdpl, terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Ribuan tanaman Edelweiss tersebar di padang hijau yang luas ini, di setiap sudut pasti terdapat bunga abadi ini. Surya kencana memang menjadi surga para pendaki Gunung Gede ini. Namun sayang pada saat kami berkunjung kesini sang bunga abadi sedang belum berbunga masih kuncup kuncup kecil. Sumber air membentuk sebuah aliran sungai kecil yang membelah Surya Kencana di bagian barat. Air sungguh sangat jernih dan bisa untuk langsung diminum. Sebuah tempat yang sempurna atau yang bisa saya katakan adalah secuil surga dari sejuta surga yang Tuhan ciptakan di Nusantara ini.


Alun Alun Surya Kencana Background Puncak Gede

Indahnya Surya Kencana


***

Pukul 04.30 alarm pun berbunyi nyaring dan membangunkan seisi tenda. Malas sebenarnya untuk membuka mata tapi bayangan bayangan sunrise di Puncak Gede membuat saya terbangun dan bersemangat. Seusai sholat subuh satu persatu anggota telah bersiap untuk summit attack kecuali Yohan yang tampak malas malas dan akhirnya dia pun menawarkan diri untuk menjaga kelengkapan tenda. Dan disini pun saya berkesimpulan bahwa Polio yohan semakin akut, hahaha.

Untuk menuju puncak kita akan melewati jalur berbatu yang telah tertata rapi dengan kemiringan yang relatif menguras tenaga sekitar 45 derajat. Perlu waktu 60 menit untuk melaluinya. Jalur menuju puncak melintas diantara pohon pohon cantigi yang indah. Tampak riuh rendah pendaki di atas sana yang menandakan kita akan segera sampai di Puncak Gede. Melangkah kembali akhirnya kita bertemu dengan tali yang memanjang dan membatasi pinggiran kaldera dengan kawah. Berpaling ke kanan kita akan melihat Plang bertuliskan 2956 mdpl yang artinya kita telah sampai di puncak tertinggi Gunung Gede. Alhamdulillah saya pun sukses untuk menuntaskan 3 jalur pendakian resmi Gunung Gede.


Inilah Nusantara

Berjalan ke arah kiri kita akan melihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Di spot ini kita dapat melihat secara 360 derajat pemandangan dari ketinggian. Memang puncak gede adalah puncak yang terbuka dan inilah kelebihannya, hanya ada pohon cantigi cantigi kecil yang menemani. Berbeda dengan puncak Pangrango yang tertutup hutan lebat sehingga pemandangan pun terbatas. Tampak diseberang pagar pembatas uap dari kawah gede tampak mengepul, dan memang gunung ini adalah gunung berapi tipe B yang berarti gunung aktif tetapi dengan aktifitas yang bisa dibilang sangat kecil saat ini, atau yang bisa saya artikan Gunung yang hidup segan mati tak mau.



Gunung Pangrango & Kawah Gunung Gede

Dari sini kita bisa menikmati keindahan Gunung Pangrango yang tampak kerucut. Bentuknya pun menyiratkan betapa berat trek untuk mencapai puncaknya. Bagi kalian yang penasaran bisa dibaca DISINI. Dibelakangnya tampak 2 puncak Gunung Salak yang selalu menggoda saya untuk mengajak saya mendaki hingga puncaknya. Insha Allah suatu saat akan ku daki engkau Salak segede gunung. Dan kemudian melongok ke bawah tampak warna warni di tengah hijau Alun Alun Surya kencana, bak sampah yang bertebaran.



Gunung Salak Dari Kejauhan


Dan kalimat terakhir di perjalanan ini adalah ucapan Terima kasih untuk kalian para pecel “Pendaki Cepat Lelah Lemes Letoy” yang telah bersama sama melintasi trek Selabintana kali ini. Senyum dan canda kalian membuat kita semua tetap bisa melangkahkan kaki bersama sama menikmati keindahan alam sang pencipta ini. Sekali kali lagi kalian luar biasaaaa…hehehe. Dan janganlah kalian lupa untuk tetap berteriak Salam Sehat Bebas Poliooooo… Woyoooooooooooo.

Bebas Polioooo,... Woyoooooooo



You Might Also Like

26 komentar

  1. Kereeeen tulisannya, bisa di follow nih buat racun kalau mau naik gunung. hahahah

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah. .. . .dapat ceritanya saja sudahh kayak ikut mendaki. Siippp saluut, mbak2nya hebat. Pendakian yang bisa ngajak yang tinggal di Jogja di mana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks y mbak :), di jogja banyak sekali perkumpulan pejalan yang suka naik gunung, googling aja mbak.

      Delete
  3. wah, mas pradikta dkk,,seru bngt t kyaknya. bner2 meracuni otak, menyentuh simpul saraf liar saya, heheh. kpan2 saya mesti ksana nih.....crita selanjutnya coba ke kawah ijen mas. tu jg gk kalah serunya sama bromo n tentunya g.gede ini..saya ada critanya dkit nih, kunjungi saya ya,,tq

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mas Idris. Ayoo berkunjung ke Gunung Gede mas :)

      Delete
    2. ok mas, nyari tmen dlu biar rame. hehe

      Delete
  4. bang maaf boleh tolong isi kuesioner skripsi saya tentang adventure di Sukabumi. salah satunya tentang hiking ke Gede via Selabintana. ini link nya docs.google.com/forms/d/1FxYxWzLHOKDz5e137ovi5jxmB5skLXn-fbMs80TROmg/viewform?usp=send_form

    terimakasih :)

    ReplyDelete
  5. wah selamat kang tripnya hebat, catpernya racun bngt haha..kebetulan waktu tgl 10 - 11 Mei 2014 kemarin sy ma adik sy yg kelas 1 SMA juga muncak ke gunung gede via selabintana dan turun via cibodas,,tanjakannya emg serasa ga abis2 hehe,,dan berasa banget alaminya *mungkin karena kita ngetrack b'2an doang kali ya,,hehe
    kpn2 boleh lah bareng hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang jalur selabintana paling top dari yang lain :p, kapan2 ayoklah kita jalan jalan ke gunung bareng :)

      Delete
  6. Mas, aku lagi bakal manjat gede tanggal 4 september via cibodas terus lanjut ke puncak Pangrango... Punya tips? Cuaca nya bagus enggak ?? Bingung deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk cuaca saat ini tidak bisa ditebak, Kalo lagi hujan ya itung2 dapat bonus mas, hehehe

      Delete
  7. Informasi petualangan yang lengkap, salam kenal dari lereng Rinjani Sembalun

    ReplyDelete
  8. Mas sya & tman2 sbtu bsok mau manjat ke gede via salabintana, untuk pengambilan simaksi apa harus ke cibodas dlu yah...? thax

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener mas, semua simaksi harus di urus di pintu di Cibodas

      Delete
  9. Saya orang sukabumi tp blm pernah Sukaraja 30 mnit menuju PH tp blm pernag lewat jalur ini. Payahbda ah hahaaa top mas Sukes selalu salam polio

    ReplyDelete
  10. Saya orang sukabumi tp blm pernah Sukaraja 30 mnit menuju PH tp blm pernag lewat jalur ini. Payahbda ah hahaaa top mas Sukes selalu salam polio

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan kapan harus dicoba mas biar jadi orang Sukabumi yang hitss.. hehehe

      Delete
    2. waa, buat pemula lebih enakan jalur cibodas, gunung putri, atau selabintana?

      Delete
    3. Lewat cibodas saja lebih aman, karena air ada dimana mana

      Delete
  11. Via salabintana alhamdulillah sudah saya lewati pokona wanjaiiiii

    ReplyDelete
  12. mau naik gunung gede pangrango butuh guide....
    kami siap melayani dengan rute Selabintana (PH)-cileutik-alun2 Suryakencana. biaya akomodasi dan perlengkapan mendaki dan berkemah disediakan customer,, kami hanya sediakan guide penunjuk jalan,penunjuk tempat ziarah, bukan porter, porter sesuai pesanan bisa kami sesiakan,...

    fast respon
    WA 089631859081
    SMS 085693845154

    alamat jln wisata PH kp Nagrog selabintana Sukabumi.
    lewat jalur selabintana yah...

    ReplyDelete
  13. 2x muncak ke Gede, 2x juga lewat jalur yang sama, selabintana - cibodas. Cuma gak enak kalo lg musim kemarau, kali di surya kencana debit airnya kecil. Pernah nemu momen yang gak enak, liat para pendaki2 sableng a.k.a g*blog waktu pada buang hajat disitu. overall Gunung Gede lumayan lah buat pemula

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kok buang hajat di aliran air? padahal kan itu sumber air minum satun satunya disana y bang

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form