Mountaineering

Gunung Pangrango - Perjuangan Menggapai Lembah Kasih Mandalawangi

1/22/2014Pradikta Kusuma


Gunung Pangrango merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat dengan ketinggian 3019 mdpl dan masuk di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. TNGGP adalah kawasan lindung yang mempunyai peranan penting dalam sejarah konservasi di Indonesia yang juga merupakan zona inti Cagar Biosfer Cibodas . Ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980, kawasan ini mempunyai kontribusi signifikan terhadap pengurangan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi pengelolaan kawasan lindung di cagar biosfer sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan daerah sekitarnya. Dengan luas 22.851,03 hektar, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 2 jam (100 km) dari Jakarta. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.


-- Perijinan--

Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu gunung di jawa yang cukup ketat dalam pemberian ijin pendakian. Ada 3 jalur resimi untuk mencapai Puncak Gunung Gede maupun Pangrango yaitu Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana. Namun jika kita ingin melakukan pendakian ke Gunung Pangrango alangkah baiknya kita mengambil jalur Cibodas, karena jarak tempuh ke puncak yang pendek di bandingkan dengan 2 jalur lainnya, dan puncak dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8 -9 jam. Gunung Gede Pangrango bisa dikatakan sebagai salah satu gunung dengan perijinan paling rumit di tanah jawa, karena kita harus daftar secara online dan melakukan validasi untuk mendapatkan simaksi secara on the spot.  Tata cara pendaftaran dan untuk lebih lengkapnya bisa langsung mengunjungi websitenya. Disini.


--Jalur Pendakian--

Dalam perjalanan kali ini kami melalui jalur Cibodas karena jalur paling mudah untuk menggapai puncak pangrango adalah melewati jalur ini. Dari kantor Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, pendaki akan mengikuti jalan setapak sampe pos pemeriksaan pertama. Disini kita wajib untuk melapor kembali dengan menyerahkan Simaksi yang telah kita urus sebelumnya. Semua barang bawaan akan di cek dan tentunya juga dengan personil yang mengikuti pendakian harus sesuai dengan yang tertulis di Simaksi.


Setelah melewati pos pemeriksaan, para pendaki akan melewati jalan setapak batu yang tersusun rapi dengan kiri kanan diselimuti hutan lebat. Jalur akan tampak rindang dan dingin karena Pohon pohon tinggi yang membentuk kanopi alami yang menghalangi sinar matahari masuk. Trek bisa dikatakan landai dan cukup menyenangkan. Sekitar 1 jam berjalan kita akan melewati sebuah jembatan yang membentang di atas rawa yang biasa disebut dengan rawa gayonggong. Pemandangan cukup menarik menggoda untuk diabadikan dalam sebuah jepretan kamera. Diatas rawa ini kita dapat memandang kegagahan Gunung Pangrango yang menjulang dari kejauhan. Berdesir adrenalin ketika memandang puncaknya, dan membayangkan tantangan apa yang akan kami hadapi sebelum dapat menggapainya.

Rawa Gayonggong
Setelah melewati rawa gayonggong tak lama kita akan sampai di pos telaga biru. Sebuah telaga kecil yang berwarna kebiru biruan dipinggir jalur pendakian. Terdapat banyak ikan di dalamnya dan masih terjaga keasriannya. Dinamakan telaga biru dikarenakan banyak ganggang air tawar biru yang hidup di dalamnya dan seakan seakan akan membuat airnya menjadi biru.

Rawa Biru
Berjalan lagi sekitar 60 menit, kita akan sampai pertigaan Pos Panyancangan. Dimana jalur yang mengarah kekanan adalah menuju air terjun cibeureum dan lurus adalah jalur pendakian gede pangrango. Kami sempatkan sebentar untuk menikkmati keindahan air terjun cibeureum sembari melepas lelah. Keadaan cukup ramai dengan pengunjung non pendaki yang bercengkerama dengan dingin air dan udara di tempat ini. Dirasa cukup beristirahat dan mengambil beberapa jepretan mengabadikan deras arus Curug Cibereum kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Air Terjun Cibeureum


Beranjak dari pertigaan air terjun, jalur akan masuk ke dalam hutan yang cukup lebat mengapit dan jalur akan terus menanjak. Jalur masih tetap berbatu batu tertata dengan baik dan berkelak kelok. Setelah beberapa lama kita berjalan, jalur akan sedikit menurun yang menandakan kita sampai di Air panas. Pos air panas adalah sebuah jalur yang mengharuskan kita melewati air terjun berair panas. Dalam kawasan ini kita harus cukup berhati hati dikarenakan jalur yang licin, panas, dan tepat di sisi kanan adalah jurang cukup dalam tempat air panas terjun kembali ke jurang. Jalur berupa batuan licin yang mewajibkan kita berhati hati untuk melangkah. Sekali terpeleset di batu maka cipratan air panas akan langsung terasa di kulit. Kawasan ini juga cocok untuk mandi sauna..hehe.

Air Panas
Selepas dari Air terjun air panans tak lama berjalan setelah melewati kandang batu kita akan kembali bertemu dengan air terjun yang cukup indah, sebuah air terjun yang entah apa namanya. Karena disini tidak ada keterangan yang cukup jelas, namun keberadaannya yang persis disamping jalur pendakian memudahkan kami untuk mengunjunginya. Tanpa pikir panjang saya pun segera turun dan mengambil beberapa jepretan yang sayang untuk dilewatkan.

Air Terjun XxX

Mendaki gunung Gede Pangrango melalui jalur Cibodas kita akan serasa dimanjakan oleh keindahan alam yang ada, mulai dari deras air sungai, kemegahan air terjun dan belantara hutan. Inilah daya tarik tersendiri jika kita melintas dari jalur cibodas ini, alam akan menyajikan keindahannya yang seakan tiada henti untuk memanjakan mata kita.

Beranjak kembali ke jalur, setelah 60 – 90 menit kembali berjalan kita akan sampai di kandang badak. Pos terakhir sebelum percabangan jalur yang akan mengantarkan kita ke puncak gunung gede atau gunung pangrango. Di pos kandang badak ini kami sempatkan beristirahat, sholat dan makan. Ada salah satu juga yang menarik di Jalur Cibodas ini karena sepanjang pos yang ada aka nada banyak Pasukan Nasi Uduk, yaaaa… mereka adalah para penduduk sekitar yang mencari nafkah dengan berjualan nasi uduk, kopi dan camilan di setiap pos. Jika kita malas untuk memasak bisa juga untuk membeli makanan di mereka mereka ini namun dengan harga yang sedikit mahal tentunya.

Pos Kandang Badak
Setelah perut terisi penuh dan tenaga telah pulih inilah saatnya kita melanjutkan perjalanan kembali. Untuk menuju puncak pangrango kita bisa mengikuti petunjuk arah yang ada dengan berbelok arah ke arah kanan di pertigaan. Bagi beberapa kalangan pendaki Pos kandang badak ini merupakan pos terakhir sebelum kembali melanjutkan perjalanan mencapai puncak pangrango, mereka biasa membuka tenda menaruh semua barang dan bermalam disini. Banyak yang beranggapan kalau kita jalur pangrango ini adalah jalur yang berat terlebih lagi jika kita membawa tas besar dengan muatan yang berlebih, karena diperjalanan akan dijumpai banyak pohon pohon tumbang. Tetapi bagi para pendaki yang ingin lebih lama menikmati puncak Pangrango dengan lembah mandalawanginya mereka rela bertempur dengan medan yang berat dengan membawa semua perlengkapan mereka ke atas, hal ini juga yang akan kami lakukan dalam perjalanan kali ini. Kami akan membuka tenda di Lembah Mandalawangi dengan asumsi kita bisa lebih lama menikmati keindahan pangrango.

Persimpangan Antara Gede dan Pangrango
Oke tanpa membuang waktu lagi kita mulai mengambil arah kanan dan menyusuri setapak kecil yang ada. Pada awalnya jalur masih landai tetapi dengan mulai banyak batang batang pohon yang bertumbangan. Hal ini memaksa kami untuk sedikit membungkuk ataupun melompati pohon pohon ini. Jalur menuju puncak ini terasa lebih alami dibandingkan jalur yang kita lalui hingga sampai di kandang badak tadi, karena jalur ke puncak ini sempit menanjak dengan pohon pohon tumbang seakan jalur ini dibiarkan alami oleh pihak TNGGP. Tapi hal ini yang semakin memacu adrenalin kami dan sungguh menyenangkan.

Pohon Pohon Tumbang
Satu persatu pohon tumbang kami lalui dan tak terasa tenaga pun mulai terkuras. Akhirnya jalan kami semakin melambat ditambah dengan jalan yang semakin menanjak tanpa ampun. Jalur mempunya derajat kemiringan antara 45 – 60. Hal ini memaksa kita lebih sering untuk beristirahat. Semakin banyak saja tantangan di jalur ini, pohon tumbang, tanah yang licin dan bahkan di beberapa titik kita harus sedikit melakukan scrambling atau pemanjatan dengan bantuan tangan. Dan akhirnya 10 langkah berjalan 10 menit beristirahat, serta tak terasa hari semakin sore dan sang matahari pun tampak sudah engggan untuk menemani kelelahan kami semua.

Halang Rintang
Ditengah senja kemerahan diantara kelelahan kami tampak dihadapan kemegahan Gunung Gede, kawah aktifnya tampak mengeluarkan asap sulfatara serta sekilas tampak jepretan kamera para pendaki di seberang jauh disana. Sungguh sore yang sangat indah dan tanpa sadar kalimat syukur pun terucap. Sungguh indah negeri ini. Disaat sinar matahari benar benar telah hilang dan dingin malam mulai menyapa kami akhirnya mulai beranjak kembali. Headlamp dan senter pun kami siapkan masing masing dan berharap sinar ini dapat menuntun kami menapaki setapak kecil dengan benar. Jalan setelah tempat kami beristirahat semakin menyempit namun dengan tanjakan yang masih tetap sama. Aku dimalam yang pekat ini menjadi leader di depan sebagai penunjuk arah. Perlu diketahui jalur menuju puncak Pangrango ini mempunyai banyak percabangan, dan jalan yang benar hanya terdapat pita pita kecil yang dipasang pendaki lainnya. Oleh karena itu perlu kehati kehatian dalam memilih jalur yang benar. 


Negeri Sejuta Senja
Setelah 60 menit berjalan belum ada tanda tanda puncak di depan, pohon pohon masih tinggi menjulang itu tandanya dataran puncak masih cukup jauh. Tim bergerak semakin lambat di pekat malam itu bahkan mbak Dian salah seorang wanita di tim kami pun menangis ditengah jalur, mungkin saja dia kelelahan. Tapi kami para lelaki tetap terus menyemangati mereka agar tetap bergerak. Lanjut kembali, jalur menjadi sebuah parit kecil, datar dan tak lagi menanjak aku pun melihat samar samar dalam malam pohon cantigi disekitar kami. 10 menit bergerak kembali cahaya senterku tiba tiba menyinari sebuah tugu tinggi dan disamping terdapat plang bertuliskan Pangrango. Ahhh...akhirnya perjalanan panjang kami telah usai. Semua tim mengucapkan syukur. 


Puncak Pangrango

Tapi bukan puncak ini sebenarnya tujuan akhir kami, Lembah mandalawangi tepatnya dimana kita bisa membuka tenda dan beristirahat. Kami mengambil jalur persis disebelah tugu puncak yang mengarah kebawah, kira kira 15 menit berjalan kami menemui pohon pohon edelweiss dan itu tandanya kita telah sampai di Lembah Mandalawangi. kamipun segera mencari tempat datar dan membuka tenda. Lembah yang seakan tersembunyi diantara puncak Pangrango. Namun pekat malam menyembunyikan keindahan yang sebenarnya. Malam itu mandalawangi tampak cerah dan tak berkabut sama sekali. Bintang bintang tampak gemerlap dibalik malam yang pekat. Tak ingin kehilangan momen saya pun segera mengeluarkan kamera dan mengabadikan beberapa momen malam yang indah itu sebelum masuk ke peraduan mimpi. 



Mandalawangi Berselimut Bintang
Edelweiss Dalam Malam


Pagi hari itu kami dikejutkan oleh suara alarm dari hp, kamipun segera bergegas keluar tenda. Karena kami sadar pagi di alam bebas itu tak boleh untuk ditinggalkan. Pagi itu mandalawangi tampak diselimuti kabut tipis dingin. Sungguh suasana yang tak bisa saya jelaskan kata kata, yang pasti dalam hati akan terasa damai, tenang, dan nyaman. Dan pagi ini aku pun mengerti kenapa dulu Soe Hok Gie sangat senang mengunjungi mandalawangi dimasa mudanya, bagi orang awam pasti membayangkan betapa beratnya menggapai Mandalawangi ini tetapi pagi ini aku bisa merasakan juga kedamaian dan sepi dari Mandalawangi ini. 


Kabut Tipis Di Mandalawangi
Gunung Salak Di Kejauhan

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah"

Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup 
Mandalawangi

Bebas Poliooo

Tak lengkap rasanya berjalan berjalan atau mendaki gunung tanpa mengabadikan momen momen di dalam sebuah rekaman video. Foto memang sudah cukup banyak sudah mewakili rekaman perjalanan kami tapi tampaknya itu kurang bagi saya yang akhir akhir ini keranjingan membuat sebuah video perjalanan pendek. Maka dari itu pada saat melakukan pendakian Pangrango ini saya siapkan semua perlengkapan dengan baik mulai dari kamera, baterai, dan memory card. Namun hasil penggabungan potongan video yang saya buat mungkin masih tampak seperti video amatiran, tetapi tak apalah yang penting dapat merekam memory indah menggapai Gunung Pangrango ini. Salam bebas polio, woyoooooooo

You Might Also Like

76 komentar

  1. wiih keren :D, saya juga nanti tanggal 4 april nanjak ke pangrango kang hehe. Mau tanya dong jalur ke mandalawangi gak sulit kan? takutnya nyasar atau tersesat maklum masih pemula :) mohon infonya kang. maturnuwun :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalur cukup jelas ikuti saja tali2 bendera kecil yang terpasang di ranting pohon. Jalur dengan kemiringan curam dengan banyak pohon tumbang, sangat menguras tenaga :)

      Delete
    2. Okay, terima kasih infonya kang :) #SEMANGAT

      Delete
    3. beneerr.. kalo jalan malem kudu extra hati2, selain licin jg suka gak keliatan pita2 petunjuknya. kemarin 21-22 juni naik ada bbrapa jalur pintasan yg ditutup.
      sempet dapet bonus ujan,, liat bbrp temen hikers yg hampir hypo juga.
      sampe di mandalawangi masihh gerimis..sampe jam 3pagi, liat jam... -3 derajat hahaha (serius) temen di camp sebelah sampe nggigil kedinginan. sleeping bag dobel trashbag tembus dinginnyaaa...
      oiyaa.. pas banget lagi blossom. edelweisnya pada mekaraaan,, kereeen!

      Delete
    4. Wahhh sampe -3 mah udah gak kuat ane bang, hehehehe. Tapi itulah asyiknya mendaki gunung. Salam Lestari :)

      Delete
  2. keren bro... mo nanya jalur pangrango masih sama bro thx.. salam damai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mas :) , jalurnya ya seperti itu penuh dengan pohon tumbang.

      Delete
  3. Rencana saya akan naik k pangrango awal april pas pembukaan pertama april2015 skrg,, kmren pun saya th baru di danau mandalawangi d buper camp cibodass,,,

    Sdh gk sabarr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahhh boleh tuh ajak ajak mas, kangen pangrango juga :(

      Delete
  4. Pengen banget bisa liat Mandalawangi, lembah kasihnya Soe Hok Gie itu secara langsung :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo segera direncanakan kesana supaya mimpinya segera tercapai :D

      Delete
  5. Salam Mas, kami sekumpulan pendaki dr Malaysia ingin ke Mt. Gede dan Mt. Pangrango pada April 2015 nanti. Bisa dapat info untuk guide di sana mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada saat booking pendakian saja.. atau bisa menghubungi pihak Taman Nasional Gede Pangrango. Disana banyak guide jika memang perlu.

      Delete
  6. Informasi pendakian ke Gede Pangrango yang lengkap, terima kasih salam kenal dari lereng Rinjani

    ReplyDelete
  7. Mantap lengkap informasi pendakian ke Gede Pangrarango, salam kenal ke Rinjani mampir tempat kami di Senaru

    ReplyDelete
  8. Nah nah, gunung yang agak deket aja belom kesampaian selain Papandayan dan Pulosari.
    Nggak mau bikin acara ke Pangrango lagi bang tahun ini? *kode*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga ahhh, capek naik gunung -___-

      Delete
    2. Yaelaaah, kegayaan amat lu bang nggak mau capek. Terus maunya naik apaan? Pelaminan? Abangnya kan jomblo bukan???

      Delete
    3. ayoo.. ikut gabung ke pangrango tgl 11
      ada tamu dari jogja nihh..ahahha

      Delete
    4. Capek bangg...udah ga kuat :p

      Delete
    5. Bang edy ngajakin bang dikta ke Pangrango?

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Insha Alloh dlaam waktu dekat mau ke sana juga. mudah-mudahan cuaca mendukung supaya bisa dapet hasil jepretan keren-keren kaya abangnya.. hehe
    boleh tau itu pake kamera apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnnn...pake kamera dslr canon mbak

      Delete
    2. Canon banyak jenisnya keleus abang ganteng.. !-_-

      Delete
  11. Ka,kalo mandalawangi itu adanya di puncaknya banget atau gmn? Nah kalo alun2 surya kencana itu dimananya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mandalawangi berada 5 menit dr puncak Pangrango, Kalo surya kencana ada di Gunung Gede

      Delete
  12. Aslmkum,bgmn kbr pendakian gng pangrango saat ini....?anak sy blum kasih kbar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba hubungi pihak taman nasionalnya saja pak

      Delete
  13. Ah..baca tulisannya jadi kangen Mandalawangi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Langsung cuss berangkat lagi mbak.. hehe

      Delete
  14. Insyaallah mau kesana libur semester ini :D kata temen mandalawanginya keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kata Pak Presiden juga keren banget lohhh :D

      Delete
  15. Foto malem nya keren hahaha itu pke camera apa yah? Beruntung ga kabut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa beruntung banget ga kabut.. pake kamera Canon 650 D

      Delete
  16. baca ini jadi ingat moment2 nanjak ke Pangrango, kangen indahnya Mandalawangi
    keren
    lengkap

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo nanjak mandalawangi lagi mbak :D

      Delete
  17. Mandalawanginya awesome. jadi ada niatan pengen kesana
    tulisannya bagus, jatuh cinta sama puisinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks mbak udah mampir, tapi biar lebih lengkap ya harus cepetan mampir ke Mandalawangi juga. Siap siap ketemu sama jalurnya yang aduhai :D

      Delete
  18. mantabbb.....foto & video nya keren2....

    ReplyDelete
  19. Ada temen yang mau ke Pangrango ga Mas, dalam waktu dekat...
    kita pengen gabung, masalahnya kurang anggota.... Thx
    ditunggu jawabannya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gunung Gede Pangrango masih tutup ini mas, kayaknya april deh baru buka lagi

      Delete
  20. Salam, Bang klo dr kandang badak sampe puncak pangrango brapa jam kira2, sama camp d mandalawangi ada air ga ?? Ane kira2 harus brangkat jam brapa supaya dpt sinrise d puncak pangrango bang ?? ane tgl 5 mei insya Allah mu ksana . . makasih bang, salam Pendaki Tangerang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dari kandang badak sekitar 2 - 3 jam jalan santai bang. Mending ga usah camp di kandang badak langsung mandalawangi saja, karena disana ada mata air dan suasana damai di mandalawangi yang sayang untuk dilewatkan kalau hanya singgah sebentar.

      Delete
  21. bang kalau sunrise di puncak pangrango dapet view bagus gak.
    soalnya mau double summit tp ngecamp pertama di mandalawangi, masih mikir mau turun ke kandang badak trus lanjut gede sblm shubuh atau sunrise dl.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mending sunrise dulu saja mas daripada sunrise di tengah jalan. View ada tapi ga terlalu terbuka seperti di puncak gunung gede mas.

      Delete
  22. bang, itu puisi nya buatan abang???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu bikinan Alm. Soe Hok Gie .. mana bisa aku bikin kata sepuitis itu :)

      Delete

















































    2. hehe iya kang, baru ngeh sekarang itu puisi alm Soe Hok Gie

      Delete
  23. tanggal 1 juli mau kesana, saya pemula. thanks buat infonya.. jika ada rekan2 yg mau bareng, silahkan email yohanes.sembiring@cbn.or.id salam lestari

    ReplyDelete
  24. membaca ini sy jadi terharu dan mataku ber kaca2.... Aku kembali tringat saat aku masih remaja.. skitar tahun 1972 dst... hampir 2 minggu 1x aku dan tman2 serta banyak grup pencinta alam lainya... mudahnya kami naik turun dan kluar masuk pangrango gede cibodas..... Aku masih bisa membayangkan indahnya dipuncak kedua gunung itu... dinginya dan nafas berasap pun bisa kubayangkan ketika bangun pagi dan kluar tenda di lembah mandalawangi... Saat itu jika turung gunung dapat aku tempuh hanya dengan waktu 90 menit.... karena kami sering balapan lari kalau turun gunung,, walau ransel cukup berat tergantung di punggung.... Sepi dan sempitnya kandang badak badak waktu itu masih bisa kubayangkan... dengan sebuah cerobong asap dan dasar bangunan yg masih tersisa waktu itu. Saat itu, rumah penduduk didesa sekitar kaki gunungmenjadi basecamp kami sebelum brangkat saat subuh... Masih teringat dengan nenek Komeng dan Aki" pmilik rumah tmpat kami menginap. mereka sudah almarhum skitar 25 tahun yg lalu.... Dan usiaku saat ini sudah 58 tahun... namun banyak orang mengira usiaku saat ini masih 40 an... itu karena dulu aku adqlah pencinta alam bahkan sampai skarang.... Masih kuatkah aku naik ke puncak gunung itu saat ini???? Aku yakin masih bisa... tapi tentu speed sudah berkurang.. walaupun saat ini hampir tiap hari saya bersepeda ke kantor demi menjaga kesehatanku...... Trimakasih utk situs ini yg membuat aku teringat akan indahnya masa remajaku.... (Ronnie Endey)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama Pak Ronnie Endey, terima kasih juga telah berbagi cerita tentang keadaan Gede Pangrango pada masa lalu. Membaca cerita bapak saya ikut membayangkan betapa asiknya masa remaja bapak dulu, dan pasti gunung ini masih alami, bersih dan sepi tak seperti pada saat ini perlahan lahan rusak oleh sampah dari para pendaki.

      Delete
  25. Sama-sama Tksh... saya punya 2 foto jadul (1973) situasi kandang badak n mandalawangi. Bgmana caranya untuk bisa saya share disini ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disini tidak bisa untuk share foto pak, karena keterbatasan fitur mungkin.

      Delete
  26. mas maaf saya mau tanya emang iya bukan klo naik ke pangrango ga boleh nyalain Api di malam hari?? saya denger2 katanya mitosnya begitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget mas, ga boleh bikin api anggun kalo naik gunung. Mitosnya sih sering bikin kebakaran hutan di gunung, Eh ini bukan mitos sih tapi fakta.. hehe

      Delete
  27. indah bener, belum kesampean ksini gw

    ReplyDelete
  28. infonya bagus, dan sangat membantu.. terimakasih :)

    ReplyDelete
  29. Mas, yang di Mandalawangi debit mata airnya banyak gak? Kalo untuk masak, bikin kopi, dll, bisa ngandelin mata air atau perlu bawa dari bawah? Tks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mandalawangi debitnya banyak jadi tak perlu bawa banyak air dari bawah mas

      Delete
  30. Bang Dikta, akhir bulan ini rencana saya mau ke Pangrango sm temen2, serius di madnalawangi airnya banyak bang? soalnya kata temen ga ada air jadi camp di kandang badak aja. saran dong bang, enaknya mulai nanjak jam brp ya biar ga kesiangan? soalnya rencana naik dr cibodas pagi2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu waktu aku kesana sih ada mata air dan jadi kayak sungai kecil gitu. Tapi entah kalo sekarang udah kering y.. Kalau ngecamp di kandang badak paling enak berangkat subuh2 biar ga terlalu siang tiba di puncak

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  31. Bang dikta minta info dong
    Kalo misalkan dari kandang badak ke puncak pangrango jelas ga?
    Maksudnya bercabang gimana bang?
    Rencana nanti summit berangkat subuh
    Maaf pemula bang makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jalur jelas kok bang, tinggal ikuti saja pasti sampe puncak pangrango

      Delete
  32. Keren bang fotonya apalagi pemandangan malam hari dilembah mandalawangi dengan jutaan rasi bintang yang cerah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bang, momennya memang pas. Cuaca juga sedang cerah cerahnya, makasih udah mampir bang :)

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form