Memotret matahari terbit atau biasa yang kita sebut sunrise memang merupakan suatu kepuasan tersendiri, butuh pengorbanan yang lebih daripada dibandingkan mengabadikan momen di siang hari. Mencari lokasi yang tepat, bangun lebih awal sembari mempersiapkan alat fotografi di dalam kegelapan. Apalagi jika kita ingin mengabadikan sunrise di puncak gunung, ini lebih membutuhkan pengorbanan karena hawa dingin yang menusuk tubuh, keengganan kita meninggalkan kehangatan di sleeping bag, dan perjalanan menuju ketinggian yang pasti berat karena kita harus memanggul tas keril di tambah peralatan fotografi yang tak sedikit.
Pernah aku membayangkan sebuah tempat dimana tak ada malam, tak ada siang, yang pasti tak ada perpindahan waktu dan cahaya. Yang ada hanyalah langit dengan perpaduan warna jingga, merah, hitam dan sedikit biru. Inilah spektrum warna dari sebuah senja. Semua tampak siluet siluet indah diantara temaram cahaya. Yaa… inilah cerita dari negeri sejuta senja.
"Patriotisme tidak mungkin tumbuh
dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat
kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat
dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat kerena itulah kami
naik gunung (Soe Hok Gie)"


