Mountaineering

Gunung Latimojong - Jalur Panjang Menuju Rantemario (1)

6/09/2016Pradikta Kusuma


Jalan setapak kecil yang pada mulanya normal dan tanpa ada halangan berarti kini berubah. Tiba tiba ada sebuah jembatan mungil terbuat dari 2 buah bilah kayu kecil melintang diantara tebing dan tepat di bawah jembatan menganga sebuah jurang dalam yang siap menyambut kelengahan kita dalam melangkah. 



Di sisi tebing terlilit sebuah kayu rotan panjang sebagai pegangan tangan dalam melangkah melewati jembatan. Sekilas memang mudah untuk dilalui, dan dengan penuh keyakinan aku pun melangkah dengan mudahnya.

Namun tak begitu jauh dari jembatan ini terdapat lagi sebuah jalur melipir sebuah tebing batu yang cukup curam. Lagi lagi terlilit sebuah rotan yang kali ini tersambung lebih panjang lagi, merefleksikan jalur yang sudah menanti di depan mata.

“Jalan aja dulu cen, biar aku rekam dari sini. Mantap nih jalur kalo direkam” begitu aku berkata kepada acen si Bapaknya Jalanpendaki.com

Dengan bersemangat merekam pergerakan acen yang begitu enaknya melewati jalur melipir tebing ini. Sedikit cek layar display dan mematikan kamera kini giliranku untuk melangkah.

Jalur Yang Cukup Menguji Adrenalin
“Gantian rekamin aku ya cen, mantap nih kalau dimasukin video nantinya” celotehku kepada acen yang sudah siap siaga memegang kamera actionnya.

Sebelum melangkah aku coba melongok ke jurang dalam yang ada di depan, “Dalam sekali jurang ini pikirku”

“Bismillahhh….”

“Srettttt…..brukkkk….brukkkkkkk”

Kakiku terpeleset tepat di bebatuan licin akibat air yang mengalir dari atas tebing. Tanganku memegang erat rotan yang terpasang. Aku bergelantungan tepat diatas jurang dalam yang menganga.

Mukaku mungkin pucat pada saat itu, dan kini aku hanya bergantung pada sebuah rotan, tak bisa bergerak ke kiri dan ke kanan karena memang tak ada tumpuan untuk mata kaki hanya ada jurang yang siap menanti.

“Hahahahaha….” Teriakan kencang terdengar dari mulut Acen, dengan kamera yang masih mereka dia terus menertawaiku.

“Tolongin dongg, gimana nih… matiin dulu itu kamera, jangan ngerekam mulu” kesal aku melihat tingkah dia.

Hanya Berpegang Rotan
Dengan uluran tangan dari Acen aku coba untuk menggerakkan badan kesamping dan mencari tempat datar. Kaki bergetar, jantung berdegup kencang, dada pun terasa sangat sakit mungkin tadi terantuk bebatuan dan juga entah bagaimana nasibku jika tadi aku tak berpegangan cukup kuat di rotan.

Setelah dirasa cukup aman Acen kembali tertawa tawa puas diatas nasib temannya yang sedang di ujung tanduk.


***

Pendakian Gunung tertinggi di Sulawesi ini dimulai dari Desa Karangan, Desa cantik yang berada di atas awan. Satu pagi yang sangat cerah mengantarkan kami memulai langkah menempuh perjalanan yang mungkin tak bisa dikatakan mudah karena Latimojong terkenal akan jalurnya yang berat. Semua bayangan itu sudah hinggap di kepala, namun semangat yang tetap mendorong langkah.

“Eehh ini ya yang namanya pohon Melinjo” dengan lugunya si Anna berkata.

Sontak aku dan Bang Ipang pun tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan lugu itu. Mana ada pohon kopi terbaik di tanah Sulawesi ini dikata Melinjo, ahh dasar Anna.

Dan memang vegetasi awal kita melangkah akan melalui perkebunan kopi yang membentang luas. Pemandangan sangat terbuka menjadikan kami dapat mengedarkan pendangan ke segala penjuru, dan mencoba menebak nebak yang mana puncak dari Latimojong itu. Ahhh puncak jangan terlalu dipikirkan, jalani saja semua maka puncak pun akan mendekat dengan sendirinya.

Jalur Awal Diantara Pepohonan Kopi
Pohon kopi yang ditanam renggang dan tak terlalu tinggi sukses membuat sinar matahari dengan bebasnya menerpa kulit dan membuatu berpeluh deras. Namun dengan gurauan sepanjang perjalanan diantara kami semua membuat ujian awal ini tak begitu terasa walaupun jalur yang kami lalui semakin menanjak saja rasanya.

Dengan keadaan yang seperti itu kami membutuhkan sekitar 90 menit untuk tiba di Pos 1. Sama seperti sebelumnya di Pos 1 ini adalah tanah datar tanpa ada pepohonan sedikitpun. Sangat panas, hingga aku akhirnya aku tak berlama lama disini dan berjalan sedikit keatas berteduh di bawah pepohonan kopi yang tak begitu rimbun.

Aku terduduk diatas kayu lapuk tepat di bawah pohon kopi yang lumayan rindang untuk berteduh. Sembari mengatur nafas aku menikmati semua sajian alam yang ada. Dari sini aku dapat memandang Pos 1 disana yang tandus dan banyak bekas pepohonan yang di tebang.

Memalingkan pandangan kesamping ternyata bekas pohon ditebang pun ada di sepanjang jalur yang akan kami lalui. Di beberapa tebing sangat miring pun nampak pepohonan tumbang. Sedih melihat ini semua, dan ini juga pasti kelakuan para warga yang membuka lahan untuk ditanami pohon kopi nantinya.

Gersangnya Pos 1
Aku berjalan kembali menyusuri tanah tandus diantara kayu kayu hangus. Dan tepat sebelum kembali masuk hutan aku berhenti, menengok kebelakang aku bisa melihat jelas jejak keserakahan manusia dalam mengelola alam. Dalam hati aku panjatkan sedikit harapan, semoga sampai disini sampai batas hutan ini, tak ada lagi yang kalian rusak. Sudah banyak sekali kemurahan alam kaki Latimojong yang dapat kalian ambil maka sudah semestinya kalian menjaga semuanya.

Pegununganan Latimojong ini adalah rumah dari banyak spesies tumbuhan endemic Sulawesi. Disini hidup pula Anoa yang populasinya kian terancam, Babi Rusa, Kera, dan spesies burung berbulu indah dan bersuara merdu seperti Burung Maleo. Aku beruntung sedang berusaha mewujudkan mimpi dan angan di tempat sekaya ini.

Jalur semakin menanjak saja dan tetap tak memberikan kami nafas lega. Namun vegetasi hutan yang mulai rapat memberi kesempatan pada kami untuk menghirup nafas lebih segar. Jalur basah dan sesekali berlumpur di beberapa titik membuat langkah kaki semakin berat untuk melangkah.

Hingga akhirnya aku menemui jalur sulit dan terjadilah kejadian seperti awal cerita. Setelah kejadian tadi kaki ini rasanya terus bergetar dan semakin berjalan perlahan terlebih ketika menemui jalur menurun yang cukup curam. Dan memang perjalanan menuju pos 2 di jalur pendakian Latimojong ini akan terus menurun hingga bertemu aliran sungai di Pos 2.

Suara gemuruh air sungai terdengar begitu kencangnya. Dari suaranya saja dapat menggambarkan derasnya debit air yang mengalir. Jalur menurun telah purna tugasnya berganti dengan tanah datar melipir sungai.

Pos 2
Dan inilah pos 2, pos yang cukup unik karena terletak dibawah bebatuan tebing besar dan tepat berada di bibir sungai yang berarus sangat deras. Tak banyak lahan datar dan hanya mungkin dapat menampung sekitar 4 – 5 tenda saja karena emang seyogyanya Pos 2 ini hanyalah pos untuk persinggahan saja.

Air yang mengalir dari sungai ini sangat jernih dan sangat segar, jadi tanpa keraguan kami semua pun langsung mengambil air untuk minum dari sungai ini. Namun tetap berhati hati karena derasnya arus sungai dapat menyeret siapa saja kedalalamnya.

Sembari menikmati kesejukan air yang mengalir di sungai satu persatu anggota pendakian ini mulai berdatangan, mulai dari Shinta, Anna, Sulis, Lidya, Rafli, Bojes dan yang terakhir Ipang sebagai penyapu ranjau di paling belakang.

Aliran Sungai Di Pos 2
“Jalur setelah pos 2 ini adalah yang paling berat”

“Tapi cuman sebentar, 45 menit aja kok” kata bang Ipang memberi kata kata semangat untuk kami semua.

Beranjak dari Pos 2 tanjakan nan aduhai sudah menanti di depan mata. Tanjakan demi tanjakan tanpa bonus mendatar menjadi sajian utama untuk kami lewati. Pegal di pundak dan lutut pun semakin terasa. Namun dengan langkah mantap kami libas semua yang ada hingga mencapai Pos  3 dengan waktu kurang dari 1 jam.

Pos 3 kami lewati begitu saja karena memang fisik yang masih oke dan dengan target kami akan mencapai Pos 5 sebelum malam menjelang. Lambat laun berjalan energi yang ada pun semakin terkuras rasanya dari otot otot ini. Menapaki tanjakan dengan sudut kemiringan tajam seperti ini langsung membuat tegang engsel tumit dan lutut, apalagi buat aku yang cukup jarang untuk berolahraga.

Anna yang menjadi leader perjalanan menuju Pos 5 ditemani Rafli, Sulis, Lidya, Anna, Bojes dan Acen. Entah anna kesurupan apa hingga langkah kakinya begitu cepat tidak seperti menuju pos 2 tadi, dia terkesan lambat dan tertinggal. Apalagi ditemani dengan hentakan music dari speaker Bluetooth kecil yang Rafli bawa semakin cepat pula langkah mereka meninggalkan aku dibelakang.

Aku tak buru buru bernafsu untuk mengejar kawan kawan yang  di depan. Aku lebih memilih untuk berjalan santai menapak dengan jenjang langkah rapat. Naik sedikit demi sedikit sembari menikmati hawa segar menyeruak dari pepohonan rapat disepanjang jalur pendakian.

Hutan Rapat Di Sepanjang Jalur
Entah berapa menit berjalan hingga akhirnya aku tiba di Pos 4. Aku letakkan keril yang sedari tadi menempel di punggung dan mencoba merebah bersandar di salah satu pohon besar nan nyaman. Terengah engah, energi makan siang di Pos 2 tadi telah habis rupanya atau memang aku yang terlalu sedikit makan tadi.

“Ayo mas jalan lagi” timpal semua kawan kawan melihat aku masih duduk santai.

“Duluan aja dulu, nanti aku susul kalian” timpalku pada mereka semua.

Dan dalam sekejap mata mereka pun bergerak cepat masih dengan diiringi suara music mengalun kencang.

Beberapa menit berdiam akhirnya aku bangkit dari duduk dan menatap nanar jalur pendakian yang ada di depan mata. Mendengus pelan dan bertanya dalam hati “Berapa lama lagi sampai pos 5 ini ya?”.

Kembali aku berjalan pelan karena menyadari energi sudah mulai terkuras. Di depan terhampar tanjakan dan tanjakan yang seolah tiada habisnya. Berjalan dengan pelan ditemani kicauan burung burung setiap aku menemukan tanah datar nan nyaman aku sempatkan untuk beristirahat walau hanya sebentar.

Tak terasa waktu semakin sore dan kabut pun mulai pekat tersedak di antara rimbun pepohonan. Sinar matahari pun nampaknya sampai tak kuasa untuk menembus tebalnya kabut kala itu. Suasana yang tadi cerah menyegarkan kini berganti sendu dan muram.

Kali ini aku benar benar berjalan sendiri diantara kabut pekat ini. Rintik hujan pun mulai turun, tidak terlalu deras namun membawa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Dedaunan bergerak keras seiring dengan hembusan angin yang mulai kencang. Mungkin bagi sebagian orang berjalan di tengah hutan dengan pekat kabut seperti ini adalah kengerian namun saat itu aku lebih memilih untuk duduk dan sedikit memejamkan mata menikmati semua.

Tiba tiba ada suara melenyapkan lamunanku “Permisi ya mas…, yang lain kemana kok sendirian aja?”

Ahh ternyata ada kawan kawan dari Makassar yang datang menyusulku. Dalam perjalanan menuju Desa Karangan mereka bertiga sempat satu jeep dengan kami semua. Mereka adalah Daus, Rizky, dan Takim.

Mereka mendahului aku yang tengah terduduk. Berjalan tak begitu kencang dan nampaknya nafas mereka juga tersengal sengal dan wajahnya menyiratkan hal sama yang aku rasakan. Jalur antara Pos 4 dan Pos 5 ini begitu panjang, dan terasa sangat lama.

Aku masih terduduk sampai mereka bertiga pun hilang dari pandangan. Dan tak beberapa lama Shinta yang sedari pos 2 berjalan di belakang ditemani Bang Ipang sukses menyusulku. Namun kali ini bang Ipang tak terlihat sepertinya tertinggal jauh dibelakang dan usut punya usut Bang Ipang berjalan lambat karena memanggul 2 keril akibat Shinta sedikit cedera dan kelelahan di tengah perjalanan.

Di tertatihnya langkah terdengar sayup sayup keramaian orang di kejauhan. Jalur semakin datar, suara itu semakin mendekat. Langkah kami pun semakin cepat. Jalur menanjak akhirnya menemui ujung setelah berjalan sekitar 4 jam dari Pos 2 akhirnya aku menginjakkan kaki di Pos 5.



Setelah bertemu kawan kawan yang lain, aku meletakkan tas ditanah. Penderitaan telah sirna. Merebah kembali sambil aku pandangi plang bertuliskan Pos 5 menancap kokok di salah satu pohon. Dan diantara rimbun pepohonan terlihat sebuah bayangan besar memanjang.


Memicingkan mata aku melihat sebuah bukit tinggi membentuk benteng besar dikejauhan. Mungkin puncak Rantemario ada di bukit tinggi itu, aku kembali membayangkan jika masih belum purna tugas dari jalur jalur menanjak ini, masih ada hari esok yang menanti kami semua. Jelas terbayang bagaimana perjuangan kami esok untuk meraih tanah tertinggi di Sulawesi. Kini saatnya beristirahat, mengisi kembali tenaga yang telah hilang dan selamat sore.

Cerita Selanjutnya


Kujejakkan Kaki di Rantemario


Cerita Sebelumnya

Desa Karangan, Desa Cantik Diatas Awan

You Might Also Like

8 komentar

  1. Mas, adeganmu yang jatoh itu akan segera terbit di VLOG ku ahhahhaahhaaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkwk, ditunggu deh, mau liat aktingnya bagus apa enggak

      Delete
  2. ������������,, ditunggu cerita berikutnya mas dikta

    ReplyDelete
  3. penasaran sama cerita lanjutannya. Jalur yang dilalui kelihatan memacu adrenalin :D

    ReplyDelete
  4. Cup tempat minumnya "the mountain is calling and i must go" Beli dimana gan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga tau gan...itu punya temen, cuman pinjem buat properti foto..hehe

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form