featured Travelling

Lemo - Tana Toraja [2]

10/06/2015Pradikta Kusuma


Siang itu tampak kota Rantepao sangat cerah, awan hitam yang menaungi kota kecil ini tadi pagi telah hilang entah kemana. Panas terik namun dengan cuaca yang sejuk itulah ciri khas kota rantepao yang memang berada di ketinggian. Gunung Sesean dimana terdapat batutumonga bertengger di badannya kini menampakkan wujudnya di kejauhan. Begitu juga bukit bukit lain yang mengililingi kota Rantepao seakan berlomba lomba untuk menampakkan keindahannya. Cuaca panas seperti ini pun semakin  membakar semangat kami untuk menjelajah lebih jauh keindahan di Tana Toraja.



Melihat selembar peta yang mulai lusut kami berencana untuk mengunjungi tempat pemakaman adat paling terkenal di Tana Toraja yaitu Kete Kesu, Londa, dan Lemo.Karena memang juga tempat wisata ini satu arah dan berada tidak jauh dari jalan poros Makale – Rantepao. Tapi tujuan itu kami balik, Kami ambil jarak paling jauh terlebih dahulu karena untuk efisiensi tenaga juga untuk mengatur waktu yang pas, karena apa? Karena di Kete Kesu akan diselenggarakan Toraja International Festival pada sore harinya dan kami akan sangat penasaran dengan festival tersebut.

Jalur poros Makale – Rantepao kami lalui untuk kedua kalinya karena tadi pagi tadi bis yang kami tumpangi juga pasti melewati jalan ini. Namun ada yang berbeda, pagi tadi jalanan tampak gelap, berkabut serta diselingi gerimis tapi siang ini matahari telah melenyapkan semua itu. Kali ini yang ada hanya panas, kami harus menggunakan jaket, dan masker saat berkendara karena untuk menghindari debu dan sengatan sinar matahari. Jalanan pun tampak lebih hidup dengan lalu lalang kendaraan yang cukup ramai di jalur yang berkelak kelok ini. Kami pacu motor dengan kecepatan sedang sambil menikmati suasana sekitar.

Lemo

Tujuan kami siang itu adalah Lemo, situs pemakaman adat pertama yang akan kami kunjungi. Berbekal peta lusut ini pun kami memacu kendaraan hingga menemui plang kecil di kiri jalan yang bertuliskan “Lemo”. Harus hati hati dan jangan terlalu cepat memacu kendaraan agar tak belokan ini tak terlewat, karena plang tulisan ini sedikit agak kecil.

Jalur pun berubah dari semula aspal mulus menjadi aspal yang sudah mengelupas menjadi kerikil batu batuan. “tempat wisata yang terkenal sampai mancanegara masak jalannya seperti ini?” pikirku... Penunjuk arah juga kurang jelas. Berdecit decit motor yang kami tunggangi melewati jalanan menuju lemo. Semua ini tak menyurutkan kami untuk terus melaju namun dalam hati aku pun ingin pemerintah Kabupaten Tana Toraja lebih memperhatikan hal kecil seperti ini agar pariwisata di Tana Toraja makin maju.


Perbukitan Disekitar Lemo
Kamipun akhirnya tiba di pelataran Lemo, tampak hanya 1 mobil dan beberapa sepeda motor yang ada di parkiran kala itu. “Sepi sekali pikirku” apa ini bukan musim liburan yaa.. hahaha. Tapi justru ini yang mengasikan karena kita bisa lebih nyaman untuk menikmati suatu destinasi wisata tanpa terganggu dengan tingkah polah wisatawan lain. Tapi ini wisata kuburan bosss, yakali kita sendirian di dalamnya? Bisa malah uji nyali jadinya. Tapi tak usah takut karena ini siang hari dan nanti kita pasti bisa foto foto sepuasnya. Motivasi yang setidaknya sedikit menghilangkan rasa takut. Dan dengan membayar tiket sebesar 10 ribu per orang yang sudah include dapat menggunakan toilet sepuasnya tanpa tambahan, hehe.


Situs Pemakaman Lemo
Menyusuri setapak tangga yang menurun dari kejauhan sudah tampak ciri khas dari situs Lemo ini yaitu tempat pemakaman khas Toraja yang berada di dinding tebing yang menjulang tinggi. Aura kematian tiba tiba hadir berpadu dengan harmanoni alam perbukitan, Sungguh eksotis.

Lemo yang berarti jeruk, nama ini diambil dari sebuah tebing berbatu paling besar disana yang menyerupai sebuah pori pori kulit jeruk raksasa. Dan pada mulanya di Lemo ini hanya para bangsawan suku Toraja yang boleh dimakamkan dan di depan lubang akan di tempatkan Tao Tao atau boneka yang mempresensikan keadaan mereka sebelum meninggal dunia.



Melangkah mendekat tampak karangan bunga tersebar di bawah tebing pemakaman yang menandakan beberapa hari lalu ada seseorang yang baru dimakamkan disini. Aroma kematian semakin menyeruak dan memberikan pertanda jika kami yang mengunjungi makam ini akan bernasib sama dengan mereka yaitu berjumpa dengan kematian.

Walaupun aura kematian di tempat ini semakin besar namun tak ada aura menyeramkan yang ditampilkan hanyalah betapa kaya budaya di Tana Toraja ini. Melihat tebing tinggi dengan lubang lubang makam yang tampa anggun dengan Tao Tao nya aku pun terkesima. Bagaimana cara mereka memahat batu cadas seperti ini? Dan Bagaimana pula cara mereka membawa jasad sampai di puncak tebing sana?



Tao tao pun menambah semarak situs pemakaman di Lemo ini. Jika diperhatikan Tao Tao ini mempunyai pose yang sama yaitu dengan tangan kanan mengadah keatas sedangkan tangan kiri menghadap kebawah. Ada filosofi di balik ini yaitu Hal itu memiliki arti meminta dan memberkati, posisi tangan tersebut mencerminkan posisi antara yang hidup dan yang mati. Manusia yang telah meninggal membutuhkan bantuan keturunannya yang masih hidup untuk mencapai surga melalui upacara adat yang bisa menghabiskan hingga milyaran rupiah, sedangkan yang hidup mengharapkan berkah dari yang mati untuk tetap menyertai kehidupan anak cucu mereka.


Tao Tao
Dari tebing cadas ini cobalah berjalan ke arah kiri. Meskipun jalurnya nampak kurang terawat dan berupa jalur tanah sempit diantara ilalang kalian akan menemukan sisi lain dari situs Lemo. Tebing tinggi masih menghiasi namun dengan keadaan lubang pemakaman yang lebih tua dari yang pertama tadi. Hal ini dapat kita lihat dari penampakan lubang itu sendiri. Kayu kayu penutupnya sudah sangat lapuk dimakan waktu tumbuhan sekitar juga berkembang liar dan bahkan di beberapa lubang tampak tulang belulang yang muncul dan berjatuhan. 


Tampak Tulang Keluar Dari Lubang Pemakaman
Menurut penuturan sang penjaga lubang pemakaman di lemo ini berukuran 3 x 5 meter yang bisa berisikan satu keluarga. Lubang lubang dibuat dengan cara dipahat dengan waktu berminggu minggu bahkan berbulan bulan. Posisi setiap lubang juga disesuaikan dengan garis keturunan dan derajat dari masing masing orang. Semakin tinggi lubang maka semakin tinggi pula derajat mereka.

Wingit itu yang bisa aku gambarkan, apalagi dengan hanya kita pengunjung satu satunya. Bahkan si Arif sempat tak mau berjalan lebih jauh dan memilih untuk kembali ketika melihat sebuah tulang rahang teronggok di sebuah batu. Bagiku ini bukan sebuah ketakutan yang dihadapi tapi sebuah pengalaman yang harus dinikmati. Rahang ini bisa menjadi sebuah objek foto yang menarik, boleh kita memotret apapun yang ada di Lemo namun jangan asal asalan karena kita juga harus menghormati mereka yang sudah tiada di tempat ini.


Sisi Lain Dari Lemo
Tak perlu kalian takut, cobalah  kalian meresapi dan memaknai apa yang kita lihat dan temukan maka kalian akan mengetahui esensi dari sebuah perjalanan itu sendiri. Jadi kenapa masih ragu? segera rubah uangmu menjadi tiket dan mari berwisata ke Tana Toraja.

Cerita Sebelumnya


Cerita Selanjutnya

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form