Travelling

Tana Toraja - Alasan Kenapa Harus Kesana [1]

9/22/2015Pradikta Kusuma


Tana Toraja yang berarti tanah dari para raja. Kekayaan budaya yang mereka miliki masih bertahan di tengah arus perubahan kebudayaan yang menerjang. Kekayaan alam pun masih mereka jaga sesuai dengan kodrat mereka mati adalah untuk kembali bersatu kepada alam. Tana Toraja adalah sebuah impian kecilku, impian yang kini telah terwujud.



“Mbak tiket bus ke toraja untuk 2 orang masih ada ?”

“Masih ada mas untuk keberangkatan jam 10 malam, kebetulan masih ada seat tapi paling belakang ya mas” dengan logat khas makassar yang sangat kenta

“Gimana nih bro? Tempat duduk paling belakang?”

“Sikaatttttt” pungkasku lebih meyakinkan teman semasa SMA dulu yaitu si Arif.

Dan akhirnya ... tiket ke Tana Toraja pun di tangan. Bayang bayang akan semua keindahan pun makin melintas kesana kemari di dalam pikiran, impian bisa menjejakkan kaki di Toraja pun sebentar lagi akan terwujud.

Kami menggunakan jasa bus Bintang Prima, pool bis malam itu tampak ramai sekali. Para penumpang tampak duduk berjajar sembari menunggu bis keberangkatan mereka. Bis bis pun tampak berjejer dengan berbagai tujuan diantaranya ke Palopo, Toraja, dan Pare Pare. Apa mereka ini semua wisatawan? Ternyata bukan. Mereka adalah para perantauan yang mencari nafkah di Makassar dan berniat pulang ke kampung mereka, apalagi ini libur panjang.

Kemewahan  Khas Dari Bus Bus Sulawesi
Bis bis di makassar tampak mewah dengan berbagai macam corak seperti bis malam di pulau jawa pada umumnya. Tapi begitu aku melangkahkan kaki kedalam badan bus, tampak kemewahan dan kenyamanan yang lebih dibandingkan bis bis malam di pulau jawa. Seat dengan jarak yang sangat lebar dipadu dengan seat jok yang sangat tebal. Wahh... bakal tidur nyenyak semalaman nih pikirku.

Dan... benar saja begitu tepat pukul 10 malam dan bus melaju aku merasakan kenyamanan dari bus ini. Excited, karena ini pertama kali merasakan melaju di jalur pulau Sulawesi. Aku pun tampak antusias melihat jalanan, tapi itu hanya sebentar karena kenyamanan bus ini membuat mataku tak kuat untuk membuka lebih lama. Akhirnya akupun tertidur sepanjang perjalanan ke Toraja.

8 jam waktu tempuh dari makassar ke toraja, tapi percayalah waktu sepanjang itu tak akan terasa di dalam bis yang nyaman seperti ini. Hingga teriakan sang kondektur bis membangunkan tidurku “Makaleee...Makaleee”. Oh ternyata sudah hampir sampe makale dimana kota ini merupakan ibukota tana toraja bagian selatan. Namun bukan disini tujuan akhir kami melainkan kota Rantepao, dari semua referensi menganjurkan kita turun di Rantepao saja karena fasilitas untuk wisatawan yang lebih banyak dan lebih dekat untuk menuju destinasi utama di Tana Toraja.


Kota Rantepao
Sepanjang perjalanan dari Makale menuju Rantepao ini aku merasakan kalau aku benar benar sudah berada di Tana Toraja. Sepanjang jalan aku bisa dengan mudah melihat tongkonan yang berada di depan rumah rumah penduduk. Di tengah persawahan kerbau kerbau besar pun tampak gembira menyambut pagi. Tak sadar senyumku pun mengembang melihat semua itu, aku sudah berada di Tana Toraja.

“Rantepao... Rantepaooo” kondektur kembali berteriak. Kami pun segera bersiap untuk turun walaupun dengan muka bantal yang belum hilang. Begitu turun dari bis kami langsung disambut dengan gerombolan tukang ojek dan bentor.

“Mau kemana mas? Ayo dengan saya akan saya antar keliling toraja” kata dari sang tukang ojek. Tapi aku pun menolak dengan halus rayuan mereka semua “kami sudah ada yang jemput pak, terima kasih”. Aku dan arif pun langsung melenggang meninggalkan mereka sambil membuka aplikasi Map di hape.

Tujuan kami adalah menuju Bagus Tourist Information Center di Jalan Mongonsidi, tempat dimana kami akan menyewa motor. Menurut Maps tak terlalu jauh untuk menuju kesana, okelah kalo begitu kami akan berjalan kaki saja sembari pemanasan kaki setelah berdiam di atas bis selama 8 jam. Dan benar saja hanya cukup 10 menit berjalan kami sampai di Bagus TIC, disana kami langsung disambut dengan ibu ibu yang sangat ramah.

Bagus TIC berada tepat di kawasan alun alun Rantepao. Disana kami menyewa satu buah motor matic dengan harga 100 ribu pemakaian sampai jam 5 sore namun jika lebih maka akan dikenakan biaya tambahan 20 ribu perjam. Namun dengan nego kelas kakap akhirnya kami mendapatkan 1 jam extra hingga jam 6 sore nanti, rejeki anak sholeh. Disini pun kita bisa meminta informasi sebanyak banyaknya tentang toraja dan pasti akan dijelaskan secara gamblang apa saja yang ada di Toraja. Kami pun diberikan sebuah peta sederhana yang menunjukkan tempat tempat tujuan wisata.

“Mumpung masih pagi mending masnya menuju Batutumonga terlebih dahulu, pemandangan disana bagus kalau masih pagi mas” tutur ibu ibu di Bagus TIC. “Kete kesu dan lain lain mending siang hari saja, apalagi disana sedang ada acara Toraja Internasional Festival” tutur ibu ibu lebih lanjut.




Okelah, saran yang sangat tepat menurutku. Udara pagi rantepao yang menusuk tulang membuatku tak betah kalau hanya berdiam diri. Setelah mengisi penuh tangki motor dengan bahan bakar, arif sebagai joki motor segera memacu menuju arah utara sesuai dengan petunjuk yang ada di peta.

Jalur basah setelah gerimis turun tadi pagi, bukit bukit yang mengelilingi rantepao pun masih berselimut kabut tipis memaksa kami berdua mengigil di atas motor yang melaju. Di kiri kanan akan sangat mudah kami menemui tongkonan khas Toraja. Sempat beberapa kali kami berhenti takjub sambil melihat keindahan arsitektur tongkonan.

Tongkonan adalah rumah tradisional masyarakat Toraja. Terdiri dari tumpukan struktur kayu yang atapnya seperti tanduk dan dihiasi dengan ukiran serta warna merah danhitam. Kata “tongkon” berasal dari bahasa Toraja yang berarti tongkon “duduk” atau duduk bersama. Dan itulah salah satu fungsi Tongkonan, sebagai tempat untuk bermufakat.


Menuju Batutumonga
Motor kami pacu dengan kecepatan sedang mengikuti jalur berlika liku dengan aspal yang cukup mulus. Udara dingin tetap menemani sepanjang perjalanan, di beberapa sudut tampak lahan persawahan yang berundak undak mengikuti kontur dari tanah yang memang berada di perbukitan. Sekilas persawahan ini seperti yang ada di ubud bali namun dengan suasana yang berbeda, ini suasana toraja bung. Di antara persawahan dan perbukitan pasti kita akan dengan mudah menemui rumah tongkonan yang berdiri dengan cantik seanggun alam tana toraja ini.

Sepanjang Perjalanan
Di beberapa sudut jalan pun kami menemui masyarakat asli toraja sedang menuntun kerbau, dengan sedikit raut yang agak kesusahan mereka tetap berusaha menarik kerbau sebesar pick up yang tampak malas untuk berjalan itu. Namun itulah harta terbesar mereka, kerbau kerbau ini bisa berharga sampai puluhan juta rupiah bahkan untuk untuk kerbau bule yang berwarna putih bisa dihargai sampai ratusan juta rupiah. Terbayang kan betapa berharganya kerbau di Tana Toraja ini?

Kerbau Tedong
Batutumonga

Ternyata menuju batutumonga ini lumayan jauh juga, atau mungkin kami yang terlalu lambat memacu motor dan beberapa kali berhenti untuk berfoto ria di perjalanan. Perjalanan selama 8 jam di bis serasa hilang tak berbekas setelah melihat keindahan alam Tana Toraja, baru memulai perjalanan saja sudah seperti ini apalagi nanti kita eksplore seluruhnya.


Batutumonga adalah suatu dataran tinggi di tanah Toraja tepatnya di lereng gunung sesean, sebenarnya tidak ada yang istimewa disini namun saat ini menjadi salah satu destinasi yang patut untuk kunjungi karena keindahan alam yang ditawarkannya dan jika beruntung kita bisa menyaksikan awan yang ada di bawah tempat kita berada, bagaikan negeri di atas awan.

Batutumonga
Namun sayang saat itu kami mungkin sudah terlalu pagi atau mungkin juga sedang suasana kemarau jadi awan tebal seakan menghilang dari langit pagi itu. Keseluruhan kota Rantepao terlihat jauh di bawah sana yang menandakan kami sebenarnya berada di tempat yang cukup tinggi. Melepas lelah dengan duduk di gazebo yang ada kami menyeruput kopi yang mulai dingin karena suhu dataran tinggi sambil menikmati semua sajian alam di batutumonga ini.

Kota Rantepao Di Kejauhan

***

Setelah puas menikmati semua kami harus segera kembali turun ke Rantepao untuk mengeksplore lebih jauh Tana Toraja ini. Perjalanan turun ternyata lebih cepat karena jalanan yang terus turun dan motor pun kami pacu tanpa henti mengikuti jalur yang berliku. Di tengah perjalanan kami menemui sebuah plang bertuliskan Museum Na’ Gandeng, museum seperti apa itu? Daripada penasaran kami akhirnya berbelok arah menuju museum ini.

Museum Ne’ Gandeng

Dari jauh museum ini tampak jelas dengan beberapa tongkonan yang berjajar rapi. Lokasi museum ini berada di tengah persawahan yang mulai menguning. Tampak beberapa petani sedang memanen padi mereka. Perpaduan harmonis antara kegiatan masyarakat setempat dengan latar belakang kekayaan budaya tana toraja.

Jejeran Tongkonan

Setelah mengisi buku tamu dan membayar retribusi tiket sebesar 10 ribu rupiah kita bisa menikmati keindahan budaya yang ada di museum ini. Menurut penuturan sang penjaga loket pada mulanya tempat ini merupakan tempat pelaksanaan prosesi kematian keluarga yang bernama Ne’ Gandeng pada tahun 1994 silam. Semasa hidup Ne' Gandeng sangat memperhatikan kehidupan masyarakat sekitar. "Bahkan Ne' Gandeng usulkan listrik masuk desa dan biayanya dari menjual kerbau pribadinya.



Selain digunakan untuk keturunan keluarga Ne’ Gandeng tempat ini juga bisa digunakan oleh warga toraja yang akan melakukan prosesi pemakaman serupa. Tempat ini juga merupakan yang pertama di resmikan oleh pemerintah Toraja Utara sebagai museum komplek prosesi pemakaman di tana toraja. Banyaknya rumah Tongkonan di tempat ini bermaksud jika sedang ada prosesi pemakaman, tongkonan ini bisa dipergunakan oleh keluarga atau tamu sebagai tempat menginap.



Aku dan Arif menyempatkan untuk masuk ke salah satu Tongkonan tentunya dengan seizin pengelola terlebih dahulu. Terdapat 3 lantai dalam tongkonan ini, dilantai yang pertama terdapat beberapa contoh kulit kerbau yang diawetkan saat prosesi pemakaman dahulu kala. Naik kelantai dua terdapat balkon luas untuk menikmati semua pemandangan yang ada, dan mungkin ruangan ini yang biasa digunakan untuk tamu atau keluarga menginap saat prosesi pemakaman karena ruangan yang cukup luas. 




Tao Tao
Naik kembali ke lantai 3 ruangan semakin menyempit dengan isi beberapa contoh patung. Tao tao nama dari patung ini, merefleksikan orang toraj yang telah meninggal dan mereka membuat tao tao ini untuk di tempatkan di pemakaman orang yang bersangkutan. Tao tao dibuat semirip mungkin dengan aslinya oleh karena itu orang tana toraja juga dikenal memiliki skill pahat yang sangat hebat.


Bersambung 

You Might Also Like

4 komentar

  1. Udah lama nggak ngopi sambil lihat pemandangan bagus :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi selama ini ngopi sambil liat apa? :D

      Delete
  2. perpaduan alam dan kebudayaan mantep banget ya tana toraja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, juara banget deh Tana Toraja ini :D

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form