Mountaineering Travelling

Gunung Ijen - Kawah Yang Memberi Kehidupan

9/19/2014Pradikta Kusuma


Sebuah gunung yang lebih dikenal dengan nama kawah ijen ini memang begitu mempesona siapa saja yang mengunjunginya. Gunung ini berdiri kokoh dengan ketinggian kurang lebih 2368 mdpl, dengan ketinggiannya menjadikan udara dingin sebagai teman setianya. Sungguh sajian alam menakjubkan yang akan kita temui di ujung Pulau Jawa tepatnya di Kabupaten Banyuwangi.

Malam itu entah kenapa aku tidak bisa menutup mata ini lebih cepat, padahal badan ini terasa sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang sehari penuh menuju Green Bay. Entah kenapa juga mulut ini tak bisa berhenti tertawa dan tersenyum malam itu. Bukan karena bintang dan bulan bertaburan karena ada bidadari jauh disana yang sedang menemaniku malam itu walaupun hanya suara yang bersua dari ujung handphone, tapi…ahhh sudahlah cerita indah itu hanya untuk kami berdua. Disini aku akan menceritakan hal selain cinta yaitu jalan jalan yang tentunya lebih menarik untuk kalian baca.Untuk kalian yang belum sempat membaca cerita cerita seru aku di Banyuwangi  bisa kalian klik link dibawah.
Atau jika kalian malas untuk membaca semunya kalian bisa duduk santai sambil melihat video pendek yang aku buat dalam perjalanan. Kali ini alu memilih 3 Destinasi untuk menikmati kekayaan alam di Kabupaten ini diantaranya adalah Taman Nasional Baluran, Green Bay, dan Kawah Ijen. Untuk lebih jelas bagaimana gambaran dari ketiga destinasi kali ini silahkan kalian klik tautan video aku dibawah ini.



Setelah 2 destinasi di atas yang telah aku kunjungi, malam ini… eh bukan, tepatnya pagi ini aku akan mengunjungi destinasi terakhirku di Kabupaten Banyuwangi ini yaitu Gunung Ijen atau Kawah Ijen. Dalam perjalanan kali ini aku akan ditemani oleh beberapa saudara saudara yang sangat baik hatinya ada Mas Fharul, Dek Jasmine, dan Dek Ferdi. Kami berempat akan bangun jam 1 dinihari untuk menuju Paltuding. Mengapa sepagi itu? Yaaa karena kami akan mengejar Blue Fire, apalagi itu Blue Fire?, yaa api berwarna birulah yang konon katanya hanya terdapat 2 di dunia yaitu di Islandia dan di Kawah Ijen, Indonesia beruntung sekali yaa kita hidup di negeri tercinta ini.

Aku pun terbangun pagi itu tapi entah mengapa jam dinding menunjukkan jam 2 dinihari, padahal rencana awal akan bangun jam 1 tapi kenapa alarm ini tidak berbunyi?, kebiasaan buruk kembali terulang alarm aku matikan dan kembali tidur…ahhh dasar pemalas, aku pun langsung bangun dan bergegas membangunkan saudaraku yang lain. Dengan perlahan lahan karena takut membuat gaduh pagi itu kami bersiap siap menuju Paltuding untuk memulai pendakian. Mesin mobil pun kami nyalakan dan segera bergerak meninggalkan rumah. Baru keluar gang komplek, suara gluduk gluduk pun terdengar, suara apa itu? ternyata ban mobil kami bocor, ahhhh siallll gumamku. Mungkin ini karena 2 hari mobil ini aku ajak offroad di Baluran sampai Green Bay, atau mungkin juga mobil ini mulai lelah. Mau tak mau akhirnya kami kembali kerumah dan mengambil kunci mobil yang lain tanpa mengganti ban mobil yang bocor tadi. Karena insiden ini kami kehilangan banyak waktu dan cukup pesimistis untuk mengejar malam dan melihat blue fire.


Paltuding
Mobil pun kami pacu secepat mungkin tapi karena jalan yang berkelak kelok dan menanjak, kami sampai di Paltuding sudah hampir jam 4 pagi. Ahhhh kita sudah tak bisa lagi melihat Blue fire, karena dari Pos Paltuding ini kita harus berjalan kaki menuju kawah Ijen selama 1,5 – 2 jam, tapi semua juga tergantung dari fisik masing masing. Di pos paltuding biaya parkir mobil sebesar 10k dan 3k/orang. Sangat sangat murah kan dibandingkan harga tiket masuk Dufan. Karena waktu yang tak lagi memungkinkan target realistis kami hanyalah menikmati Sunrise di kawah ijen, sedikit ada penyesalan karena aku tidak bisa melihat keindahan dari Blue Fire yang tersohor itu namun tak apalah toh aku juga masih bisa menikmati keindahan alam raya di Cagar Alam Ijen ini.


Pemandangan Sepanjang Jalur Pendakian

Kami pun segera melangkahkan kaki, berbekal dengan senter kami mulai mengikuti jalur yang konstan menanjak dengan kemiringan antara 30 – 45 derajat. Dengan kemiringan seperti itu cukup membuat persendian kaki ngilu dan nafas pun ngos ngosan. Jalur sangat lebar namun kalian harus tetap waspada agar tidak tergelincir karena trek berupa tanah miring mulus yang padat apalagi jika berjalan pada pagi yang masih gelap. Aku pun tertinggal di urutan paling belakang dibandingkan 3 saudaraku yang lain, entah kenapa kali ini aku terasa lebih ngos ngosan atau mungkin karena efek habis puasa sebulan dan puasa ngetrip juga, hahahaha.


Papan Pondok Bunder

Tempat Penimbangan Belerang Pondok Bunder

Kurang lebih setengah jam kami tiba di sebuah pos yang bernama Pondok Bunder. Menurut informasi pos ini merupakan cek point untuk para penambang belerang, maksutnya disini adalah tempat dimana para penambang bisa menimbang belerang yang mereka ambil dari kawah dan dinilai berapa harga untuk belerang mereka itu. Walaupun pagi gelap itu di pos bunder hanya menyisakan tempat gotongan belerang para penambang tapi aku sudah bisa membayangkan betapa berat pekerjaan mereka ini. Belerang yang ada di pundak mereka hampir 25 kg dan mereka harus menempuh jalur yang berat dari kawah hingga turun ke Pos Paltuding. Dalam hati aku bersyukur karena datang kesini sebagai wisatawan yang bisa menikmati alam yang luar biasa indah ini tapi dalam hati yang terdalam juga tersirat kesedihan untuk para penambang ini, mengapa di negeri yang kaya akan hasil alamnya ini kita masih harus bersusah payah seperti ini hanya untuk dapat menyambung hidup setiap harinya. Kenapa di tanah mereka sendiri yang sangat kaya, mereka tetap menjadi buruh angkut belerang. Sampai kapan nasib mereka akan berubah? Kapan mereka akan merdeka dari semua ini?. Tapi satu yang pasti bagaimanapun keadaan kita jika kita mampu untuk mensyukuri semua maka hidup ini akan selalu berujung indah dan bahagia seperti senyuman dari para penambang yang terkembang membalas sapaan dari kami para wisatawan.

Keranjang Belerang Bawaan Para Penambang
Para penambang belerang disini juga memiliki kerja sampingan yaitu menjual kerajinan yang terbuat dari belerang. Pernak pernik hiasan kecil yang menarik berbentuk macam macam ada kura kura, burung, hello kitti, pohon cemara dll. Hiasan ini mereka jual seharga 5 ribu - 20 ribu tergantung besar kecil bentuknya. Disini pun saya sempatkan membeli belerang yang berbentuk Love berdampingan dengan Hello Kitty dan bertuliskan kawah ijen 2014. Untuk kalian yang berniat membeli alangkah baiknya kita tidak serta merta menawar dengan harga rendah setidaknya bisa sedikit menolong finansial mereka, karena saya tahu hasil dari menambang belerang tidak sebesar dengan resiko yang mereka hadapi.


Hiasan Dari Belerang
Selepas pos bunder jalanan akan kembali menanjak tetapi dengan vegetasi tanaman yang Nampak sudah mulai berkurang. Tampak di bawah kelap kelip lampu kota Banyuwangi seperti bintang yang berada di bawah kita. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dan bisa sedikit mengurangi rasa kelelahan kami. kurang lebih 20 menit dari pos bunder jalur akan tampak semakin landai dan melipir di sebelah bukit. Ini pertanda kita akan segera sampai di bibir kawah Ijen. Namun sebelum sampai di kawah cobalah kalian menengok di sebelah kanan. Subhanallah, permadani awan bak menyambut kedatangan kami dengan senyuman. Tampak disebelah kanan ada sebuah gunung indah yang berwarna hijau namun informasi mengenai nama gunung itu yang tidak aku temukan hingga saat ini.


Gunung Raung Dari Kejauhan

Gunung Yang Berselimut Awan
Di kejauhan ada gunung yang tampak datar di puncaknya, itu adalah Gunung Raung dengan kalderanya yang megah hingga dari kejauhan gunung ini tampak terpenggal di atasnya. Lautan awan pagi itu tampak bergulung gulung dibawah kaki, kami tidak terbang tapi kami sanggup berjalan untuk berada di atas awan. Bukan kali pertama aku melihat gumpalan awan berada dibawah seperti ini tapi tetap saja rasa takjub dan syukur hinggap kembali ke dalam hati ini. Sungguh besar dan indah negeri ini kawan.

Berjalan kembali jalur akan semakin landai dengan pemandangan lepas di sisi kanan, kalian harus tetap berhati hati. kurang lebih berjalan 10 menit tak berapa lama kami akhirnya tiba di bibir kawah ijen. Tepat disini pun kami menikmati sunrise pagi itu. Sinar matahari pertama yang menyinari pulau jawa, ya inilah Sunrise Of Java itu kawan.


Spektrum Warna Pagi Itu

Perasaan menyesal kembali datang karena Blue Fire telah menghilang seiring dengan terbangunnya matahari pagi itu. Kenapa harus ada insiden alarm hingga ban bocor, tak apalah pikirku. Mungkin Yang Kuasa ingin aku kembali lagi suatu saat di tempat yang indah ini dan bisa menyaksikan si Api Biru. Jika kita ingin melihat blue fire kita harus menuju jalur turun ke kawah, karena posisi api biru ada persis di tengah kepulan asap belerang tempat para penambang mengambil belerang. Namun ada hal yang sedikit aneh menurutku walaupun sebelumnya aku belum pernah kesini. Jalur turun ke kawah di tutup dengan portal dan ada seorang penjaga disana, kenapa seperti itu? Usut punya usut saat ini jika kalian ingin melihat secara dekat blue fire di kawah kalian harus menggunakan jasa guide yang telah stand by disana, untuk biaya sendiri aku kurang tau. Namun yang jelas aku lebih setuju karena lebih bisa mengurangi wisatawan yang turun karena memang turun ke kawah adalah hal yang membahayakan terlebih jalur yang ekstrem, asap belerang yang sangat pekat, dan suhu air kawah yang paling asam di dunia dengan suhu bisa mencapai 200 derajat.


Blue Fire (Sumber)

Sungguh pagi yang indah dengan hembusan dingin angin, tampak dibawah kepulan asap belerang tampak tebal. Warna hijau dari kawah ijen yang seakan menjadi pemanis spectrum warna jingga matahari paagi itu. Tampak di belakang kami berdiri dengan kokoh dinding curam gunung merapi yang sudah tak aktif. Keindahan itu tampak seakan seirama dengan matahari yang semakin meninggi di atas cakrawala. Pemandangan yang sungguh mempesona mata kita. Tenang dan nyaman setiap kali aku berada di ketinggian, perasaan inilah yang selalu membawa kakiku untuk terus melangkah menggapai tanah tanah tertinggi di negeri ini.


Kawah Gunung Ijen
Sisi Kawah Tempat Tambang Belerang
Dinding Kaldera Ijen

Jika kalian lebih ingin menikmati suasana yang epic dan mempesona alangkah baiknya kalian datang pada pagi hari. Karena pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati semua suasana di gunung karena pada saat itu kemungkinanan besar kabut belum ada dan cuaca juga sedang bagus bagusnya.


Yeahhhh
Satu kata terakhir untuk kita semua yang cinta akan travelling mohon untuk lebih memaknai kata "Take nothing but pictures leave nothing but footprints, kill nothing but time." saya yakin semua Destinasi Wisata akan terjaga kelestariannya, Salam Bebas Poliooo… woyooooooooooo.


You Might Also Like

4 komentar

  1. Bulan lalu aku jalan ke Ijen bertiga, cewek semua. Niatnya sih mau ngejar bluefire, kita udah turun juga. Cuma setengah jalan menuju dasar itu kita nyerah karena asap belerangnya yang berasa nyolok mata -____-
    Tapi keliatan sih bluefirenya yang cuma ada 3 titik, hehehe. Dan itu adalah jalur turun terparah yang aku rasain! Paginya sunrise disana cantiiik banget. Warna merah-pink-ungu dipadu sama gunung Raung yang lagi ngeluarin asap :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ewooo super sekali cuman cew bertiga dateng ke ujung timur jawa lagi.. Hahaha, tapi sayang gak mampir kawah wurung. Padahal tempat itu juga top

      Delete
  2. Lhoooo....harus ke sana lagi, Mas, buat liat langsung blue fire-nya. Romantis romantis gimana gitu. Suer... Hehehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah kesana lagi sebulan lalu, itupun kesiangan gegara adeku nafasnya engap. Ilang deh blue firenya {--___--}

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form