Goresan Alam

Terus Kibarkan Sang Merah Putih

8/16/2013Pradikta Kusuma



Jangan pernah berhenti untuk terus mengibarkan Merah Putih. Bendera merupakan salah satu identitas bangsa. Di balik  wujudnya sebagai benda mati, tesirat sebuah kisah bagaimana perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan sebuah negara. Pertumpahan darah dan air mata mengisi perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan sebuah bendera, merah putih.


Pada tulisan kali ini saya persiapkan untuk menyambut hari kemerdekaan Negara kita kita tercinta yang akan kita sambut sebentar lagi. Kali ini saya akan melihat fenomena rasa nasionalisme tentang bendera kita Sang Merah Putih, tentunya dari sudut pandang seorang pejalan kaki melihat keadaan disekitarnya.

Setiap kali saya mengunjungi sebuah tempat baru khususnya dalam melakukan pendakian gunung saya selalu melihat keadaan yang mungkin sudah dianggap lumrah bagi beberapa orang, suatu yang selalu hampir saya temui disetiap gunung yang pernah saya daki. Dalam melakukan pendakian tentu kebanyakan kita akan bertemu dengan para pendaki lainnya entah mereka sendiri atau rombongan. Jika kita perhatikan lebih dalam lagi terutama untuk para pendaki yang datang beramai ramai pasti disitu juga terdapat atribut atribut yang menunjukkan komunitas atau nama perkumpulan dari para pendaki tersebut. Atribut biasanya terdapat di kaos , kain slayer, banner dan kebanyakan adalah dengan bendera.

Bendera bendera biasanya selalu menancap dimana terdapat tempat tempat lapang yang cocok untuk berkemah. Bendera melambangkan kebanggaan mereka akan organisasi maupun kelompok atau juga untuk “prestise atau mendapatkan pengakuan” bahwa kami “Bendera kami” telah berhasil menapaki daerah ini. Memang perasaan bangga yang sulit untuk dijelaskan.

Beralih menapaki jalan setapak kecil untuk menggapai mimpi yang selalu tertanam dalam pikiran. Sekumpulan pendaki terseok seok, terduduk lesu, mengumpulkan tenaga dan sisa sisa semangat tekat untuk meraih satu tujuan. Setelah berjalan berjam bagaikan semut merayap di kemegahan alam semesta mereka akhirnya sampai  di tujuan akhir yaitu puncak tertinggi.


Puncak Mahameru (G. Semeru)
Raut wajah lelah telah kembali berkat senyum senyum mereka berhasil menggapai mimpi mimpi, sebuah tempat yang selalu ingin mereka tuju. Bendera bendera pun mereka tancapkan dan kibarkan, tetapi ada satu hal yang menarik. Bukan bendera komunitas atau organisasi yang pertama kali mereka kibarkan, melainkan bendera “Merah Putih”.


Puncak Rengganis (G. Argopuro)

Sungguh bergetar hati setiap kali melihat kibaran Sang Merah Putih di puncak puncak tanah tertinggi di negeri ini. Mereka semua telah rela berjalan gontai, melawan bahaya, meninggalkan semua atribut komunitas yang telah mereka tancapkan sebelumnya demi sebuah kebanggaan mengibarkan merah putih di tengah kemegahan alam semesta raya.


Puncak Hargo Dumilah (G. Lawu)

Setidaknya seperti itulah yang saya lihat setiap kali melangkahkan kaki ke puncak puncak tanah tertinggi, rasa nasionalisme akan negeri ini tetap ada dan semoga akan kekal abadi selamanya. Namun tak hanya orang lain yang merasakannya, saya pun mengalami hal yang sama disetiap datang ke puncak gunung gunung dan sebatang kayu di genggaman terikat bendera merah putih yang berkibar. Hati bergetar, Rasa lelah pun sirna, hanya rasa bangga yang terasa di hati.


Tegal Alun (G. Papandayan)

Biarlah orang bilang Negara kita bobrok, pemerintahan tidak becus, ekonomi yang carut marut atau apalah sebutannya, tapi ini tetap tanah air kita dan sudah sepantasnya kita tetap menjaganya, sampai kapanpun juga, dan di hadapan Foto foto Bendera Merah Putih ini saya ucapkan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 68, Merdeka !!!!

Puncak Gede (G. Gede)


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form