Travelling

Terkesima Angels Billabong

10/11/2016Pradikta Kusuma


Tepat sekali waktu kami datang kesini, tak ada air pasang maupun cuaca muram karena semesta nampaknya mendukung kedatangan kami kala itu. Tak perlu juga harus berjalan begitu jauh karena memang tempat yang kami tuju ini hanya selemparan batu saja dari tempat tadi mulai berjalan. Terkesima dan terpesona melihat sebuah surga kecil tersembunyi diantara kokoh tebing bebatuan cadas, ya inilah surga itu… Angels Billabong.


Air sangat jernih terjebak diantara bebatuan tebing karang, membentuk memanjang sekilas nampak seperti sungai tak berarus. Alga alga hijau yang menempel dasar kolam memberikan efek kehijauan dari atas, pantulan sinar matahari menambah kesan indah, samudera di sampingnya nampak bergolak dengan biru pekat airnya. Bak oase di padang tandus nan gersang begitu pula dengan Angel Billabong ini seakan memberikan kesegaran diantara bebatuan tebing nan kering kerontang.

“Ayokk berenang kita….” Ujar Fajar dengan setengah berteriak kepada kami semua.

Pada awalnya aku yang sedikit malas melihat betapa panasnya sinar matahari kala itu apalagi ditambah dengan berenang di tempat terbuka seperti itu, mau jadi apa kulitku yang kusam ini. Tapi setelah melihat kawan kawan yang lain nampak memberikan wajah setuju akan ajakan Fajar, semangat dalam hati pun ikut tumbuh.

Kapan lagi kan bisa berenang di tempat seindah Angels Billabong ini, ujarku dalam hati.

Hati hati ketika melangkah turun
Harus berhati hati ketika melangkah turun ke dasar kolamnya. Karena memang bebatuan tebing di kiri dan kanannya membentuk sebuah cerukan curam yang harus kami lalui. Perlahan lahan dalam melangkahkan kaki karena di beberapa sudut membentuk sudut rucing yang siap melukai kita.

Setelah sukses menjejakkan kaki di dasar kolam, rasa untuk bersenang senang tanpa disadari langsung muncul. Tepat di sebuah cerukan yang membentuk kolam dalam aku pun melompat dengan kegirangan.

Kakiku tak menyentuh dasar cerukan kolam ini, dan ternyata memang dalam ketika aku mencoba membuka mata di ketika berenang di atas permukaan airnya. Namun bergerak maju ketinggian air semakin dangkal. Menuntut kehati hatian kami ketika bermain air agar tak terpeleset maupun terperosok ke dalam kolam yang cukup dalam.

Bermain air di dasar Angels Billabong
Air yang terjebak ini sangat jernih, lumut lumut yang menempel di dasar kolam menambah epic tempat indah ini. Begitupun ombak besar tak ada yang datang masuk dari celah di ujung sana, menjadikan kami bebas mengeksplorasi setiap sudut Angels Billabong.

Namun ketika pada ujung Angels Billabong kita harus ekstra waspada karena memang di ujung sini adalah batas antara kolam dengan lautan lepas dengan gulungan ombak yang besar. Ombak bisa datang kapan saja dan menyeret tubuh ke samudera yang dalam. Karena alam memang tidak bisa ditebak, Terkadang berasa sangat bersahabat namun dilain waktu bisa mematikan.

Ujung kolam langsung berbatasan dengan lautan lepas
Cerukan khas dengan kolam memanjang dengan kubikan air terjebak ini menyimpan sebuah tanya dalam hati. Berapa ratus tahun pasang air laut ini bisa memahat tebing nan kokoh hingga terukir Angels Billabong nan indah seperti ini?, tak ada yang tahu, dan biarlah para ilmuwan yang menjawabnya.

Sekilas kolam ini persis seperti di Kedung Tumpang di Jawa Timur sana, ombak air laut sama sama memahat tebing tebing kokoh hingga membentuk sebuah kolam alami. Mungkin perbedaannya hanya pada panjang kolamnya.. Angels Billabong mempunyai alur kolam yang lebih panjang.

Banyak cerukan di dasar kolam
***

Matahari semakin meninggi dan ombak pun nampaknya semakin menggelora menandakan fase pasang akan segera dimulai. Dan ini pun menjadi penanda kita untuk mengakhiri sifat kekanakan kita di dalam kolam alami dan segera kembali ke atas.  Kembali merayap tebing tebing karang nan tajam satu persatu dari kami sukses kembali ke atas.

Segera kuraih sebungkus nasi yang kami beli dari Toyapakeh tadi pagi. Walaupun badan masih basah namun perut sudah tak bisa dikompromi, begitupun Fajar, Okta, Lintang dan Fauzan segera membuka bungkusan masing masing.


Kami makan dengan lahapnya dibawah pohon rindang tepat disamping Angels Billabong. Mulai makan beberapa suap aku terdiam dan memandang kembali kolam berwarna kehijauan dibawah, aku sadar Angels Billabong tak akan selamanya sama seperti pada awal pembentukannya oleh pahatan ombak. Namun dalam hati aku mencoba untuk berharap agar Angels Billabong tetap alami tanpa ada sampah yang mengotori. Agar kelak anak cucu kita tahu bahwa di Pelosok negeri ini terdapat secuil surga yang jatuh di Nusa Penida.


Catatan
  • Untuk menuju Angels Billabong bisa diakses melalui Pasih Uug, ambil kekanan dari dan tak sampai 5 menit kalian akan sampai.
  • Perhatikan pasang dan surut ombak ketika akan turun ke dasar Angels Billabong.
  • Ketika ombak pasang jangan paksakan turun, cukup kalian nikmati keindahannya dari atas saja. Safety First.
  • Jangan buang sampah sembarangan di tempat seindah ini.

You Might Also Like

4 komentar

  1. ngeriiii mastah,, kangen ngetrip lagi bareng dirimu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayuk mas, jangan kebanyakan ngurus anak :p

      Delete
  2. Duh bikin kangen Angel Billabong. Cakepnya pakai banget ya. pertama ke sini aku gak dapet view ini, airnya coklat keruh karena baru hujan. Kedua kalinya baru dapat warna toskanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang keren banget ini tempat, dan menjadi salah satu telur emas yang ada di Nusa Penida :)

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form