Travelling

Pantai Kelingking, Satu Lagi Keindahan Dari Nusa Penida

10/26/2016Pradikta Kusuma


Subhanallah….. semua kalimat pujian seakan keluar dari mulut ketika kami melihat apa yang ada dihadapan kami. Sebuah tebing curam langsung berhadapan dengan samudra yang sangat luas, dan tepat di ujung tebing muncul sebuah tebing yang lebih rendah menjorok indah. Inilah Pantai Kelingking yang sukses memukau kami semua.




Saatnya melupakan perasaan takut akan ketinggian dengan berdiri tepat di bibir tebing di tempat yang juga sering disebut “Kelingking secret point” ini. Surga seakan lebih dekat ketika hamparan pantai nan indah memukai kami tepat di depan mata.

“Duh gusti… jika dunia saja engkau buat seindah ini apalagi yang Engkau namakan Surga, pasti berkali lipat keindahan yang ada di dunia ini” . Perasaan seketika berkecamuk, apakah aku bisa menuju surga yang sesungguhnya?

Tapi memang ketika berkunjung ke tempat tempat indah di berbagai pelosok negeri ini aku rasa semakin bisa mendekatkan diri ke pada sang pencipta, karena seberapa kecil kita di antara megah alam semesta ini.

Keindahan Pantai Klingking sangat mempesona
Diatas bibir tebing yang sempit ini kaki kaki kami mulai menjelajah untuk menikmati keindahan yang ada dari berbagai sudut. Kepala kami menengok ke kanan dan ke kiri dan tangan pun tak bisa berhenti untuk tak memegang kamera dan mengabadikan semua yang ada.

Pantai kelingking hanya milik kami berlima, tak ada pengunjung lain yang datang. Maka dari itu kami seakan lebih puas menikmati semua. Dan tiba tiba muncul kepala Mas Fauzan dari balik rerimbunan semak semak dengan nafas yang tersengal.

“Dari mana mas?” tanyaku padanya

“Dari bawah sana… aku ingin tahu apa bisa turun ke bawah pantai” sahut Mas Fauzan bersemangat

“Pantesan dari tadi udah ilang aja, kirain kecebur kebawah” sahutku kembali

“Jalurnya curam banget, dan kanan kiri langsung jurang tapi ada jalan setapak kecil menuju pantai di bawah, suatu saat aku harus balik lagi kesini bro…”

Wah jiwa petualang Mas Fauzan besar juga pikirku… namun memang bagi para pecinta petualangan alam tempat ini begitu menggoda, dari atas sini terlihat di kejauhan ada sebuah pantai tersembunyi dengan pasirnya yang begitu putih. Seakan melambai lambai mengajak kami semua untuk berkunjung.

Mas Fajar setelah mencoba jalan menuju pantai di bawah sana
Namun sepertinya tak mudah, dengan sudut kemiringan tebing yang lebih dari 45 derajat ditambah cerita dari mas Fauzan tadi sudah terbayang betapa beratnya untuk turun kebawah apalagi nanti waktu perjalanan pulang kita pasti akan kembali mendaki tebing tinggi ini.

Dan aku kembali termenung, memang untuk mencapai surga itu tak mudah. Harus ada perjuangan untuk menggapainya. Begitupun manusia hidup di dunia ini semua harus berjuang untuk bisa masuk ke pintu surga yang sudah disediakan, namun itu tergantung tekad dan keinginan kita untuk bisa mencapainya.



***

Setelah dirasa cukup puas Fajar mengajak kami semua untuk segera berbalik arah meninggalkan tebing pantai Kelingking. Sekali aku memandang luas sambil berkata dalam hati bahwa kakiku telah sahih menginjakkan kaki di salah surga indah di pelosok Indonesia.

Mesin motor meraung keras seakan ingin berkata kepada kami “beban kalian terlalu berat, aku tak sanggup”. Mendengar suara parau mesin ini aku meminta mbak okta untuk turun dan berjalan, tak begitu jauh memang namun sangat curam.

Tepat setelah jalan menanjak tadi aku melihat ada seorang ibu ibu yang sudah renta duduk dibawah pohon yang cukup rindang sambil menjajakan beberapa kelapa muda yang ia tumpuk di sampingnya.


Duduk termenung menunggu para pengunjung datang untuk mencicipi dagangannya. Namun tidak untuk hari ini, Pantai Klingking nampaknya sepi hanya ada kami berlima yang datang. Aku pun inisiatif mengajak yang lain untuk istirahat dulu sambil menikmati kelapa muda.

“Berapa kelapanya satu bu?” tanyaku padanya

“15 ribu nak” sahut sang ibu dengan logat khas Balinya.
Mahal juga pikirku.. namun setelah berdiskusi dengan yang lain kami akhirnya memesan 4 biji kelapa. Sekedar untuk berbagi rezeki untuk warga sekitar, kita jangan hanya menikmati keindahannya saja namun jika kita mampu tengoklah warga warga pelosok seperti ibu ini. Tak perlu muluk muluk hanya dengan hal kecil membeli apa yang mereka jajakan sudah sangat membantu perekenomian berjalan dengan baik.

Sambil menyedot air kelapa yang segar ini aku sedikit membuka obrolan dengan sang ibu.

“Sudah berapa lama bu jualan kelapa disini?” tanyaku.

“Mungkin hampir satu tahun ketika pantai klingking ini mulai rame nak, sabtu minggu saja kalau hari biasanya hanya berladang disana” sambil menunjuk ladang berbatu tandus yang mungkin hanya bisa ditanami ubi ubian saja. Dalam usianya yang renta sang ibu masih mempunya sorot mata semangat untuk menjalani hari hari.

Tiba tiba datang sesosok pria paruh baya ke tempat kami bersantai “Foto disana bagus lho mas” sambil menunjuk arah pohon tak berdaun yang menyisakan batang pohon menancap di atas tanah.

“Saya putu anak ibu itu mas” sahutnya sebelum aku sempat bertanya padanya.

“Saya ada tangga jika mau naik mas, aman kok”

Tanpa banyak dikomando Si Lintang dan Fajar sudah berlarian menuju pohon eksotis ini untuk bergantian foto diatas. Bli putu pun mengambil tangga dari bambu dan membantu Lintang untuk naik ke atas pohon. Fajar pun mengkomando dari bawah gaya yang tepat untuk mendapatkan hasil foto yang maksimal.

Pohon Eksotis
Tapi memang pohon ini memiliki keunikan tersendiri dimana dia satu satunya pohon mati diantara pohon berwarna kehijauan disekitarnya. Tak ada daun sama sekali, hanya batang pohon berlatar birunya air laut dibelakang. Satu kata eksotis. Aku dan fajar pun merekam beberapa momen yang kami bekukan dalam bingkai kamera. Sebuah hal kecil dan terkesan biasa namun menyiratkan kenangan yang akan membekas dari hari ke hari.


Matahari semakin lama pun nampak semakin condong ke barat menandakan kami segera harus bergegas untuk kembali ke Toyapakeh tempat dimana penginapan kami berada. Setelah membayar kelapa muda dari sang ibu dan memberikan tips untuk Bli Putu kami pun bersiap untuk berpamitan. Aku menyedot air kelapa yang tersisa di dalam batok dan aku sadar betapa hari ini adalah hari yang menakjubkan setelah dapat melihat Pasih Uug dan Angels Billabong dari dekat kini aku bisa menikmati salah satu lagi surga yang ditawarkan di Nusa Penida.

“Kami pamit dulu ya Bu, Bli Putu..”

“Ati ati ya nak dijalan, kapan kapan mampir kesini lagi” sahut sang ibu sambil tersenyum ramah

“Hati hati ya mas, terima kasih” Bli Putu pun tersenyum lebar.

Melihat senyum senyum lebar nan tulus dari mereka, kehangatan yang hampir kami dapatkan ketika datang ke pelosok. Yaa inilah Indonesia dengan keramah tamahan penduduknya membuat kenyamanan tersendiri bagi kami para pelancong.



You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form