Travelling

Broken Beach, Mutu Manikam Nusa Penida

9/26/2016Pradikta Kusuma


Langit gelap baru saja berganti terang. Rona kelamnya hilang seiring datangnya terang. Dari kejauhan nampak bukit Nusa Ceningan masih setia menemani ombak yang memecah batuan di tepi Samudra Hindia. Angin berhembus semilir membawa kedamaian hari ini, sungguh sebuah pagi yang sempurna.

Kemarin sore aku bersama 4 kawan seperjalanan datang ke Pulau yang biasa disebut Nusa Penida dengan menumpang boat selama 45 menit perjalanan dari Sanur. Dari berbagai tempat yang berbeda akhirnya kami berkumpul di Bali untuk melakukan perjalanan menjelajah keindahan dari bali namun dari sisi yang lain.

Pagi sekali kami memulai perjalanan hari ini, dengan hasrat untuk dapat menjelajah dengan waktu semaksimal mungkin. Gas motor sewaan ini aku tekan dengan konstan sembari menikmati suasana yang ada selama di perjalanan.

Toyapakeh
di sadel belakang Mbak Octa duduk dengan was-was. Jalanan di Nusa Penida belumlah bagus, di beberapa bagian lubang menganga. Bahu kanan jalan berbatasan langsung dengan jurang dalam, sementara dikiri petak sawah dibiarkan terbengkalai pertanda musim tanam belum dimulai, tampak pula gerombolan kerbau setia bercengkerama dengan rumput yang makin menutupi petakan sawah

Tak banyak lalu lalang kendaraan, mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali kami berpapasan dengan kendaraan lain. Sekilas tanah Nusa Penida ini kering dan berbatu, tak nampak banyak ladang yang teraliri air. Hanya tumbuhan sejenis ubi ubian dan jagung yang dapat bertahan dengan baik di tanah kering seperti ini.

Namun dibalik itu semua saat aku lihat wajah dari penduduk sekitar yang aku lewati aku sedikit bisa menyimpulkan jika dari raut wajah mereka memancarkan kedamaian dan ketenangan berbaur dengan alam di Nusa Penida. Hal seperti ini jamak ditemukan di Nusa Penida. Terbentang sepanjang 202,840 kilometer persegi, pulau ini menawarkan beragam daya tarik alam, budaya, dan bahari yang mengundang siapapun untuk bertandang, termasuk kami berlima.

Adalah Pasih Uug atau biasa disebut “Broken Beach” yang akan menjadi persinggahan pertama kami untuk mengenal lebih dekat keelokan dari Nusa Penida. Dari penginapan di Toyapakeh kami sambung dengan perjalanan darat menggunakan motor selama 45 menit. Jalanan yang semula mulus berubah menjadi jalanan berbatu naik turun. Belum lagi banyaknya persimpangan tanpa petunjuk arah yang jelas memaksa kami untuk lebih aktif bertanya pada penduduk lokal.

Upacara Adat Penduduk Nusa Penida
Salah satu yang aku suka ketika berwisata di Bali adalah para penduduknya yang bisa aku katakan sangat ramah bagi para pelancong seperti kami ini. Setiap kali aku bertanya arah mereka semua pasti melempar senyum dan memberikan arah yang benar kepada kami, begitu pula ketika kami melewati sebuah acara persembahyangan, para penduduk disini mempersilahkan kami untuk lewat terlebih dahulu. Ini yang menjadi alasan kuat kenapa Bali menjadi destinasi wisata yang terus berkembang pesat.

“Billabonggg …… Billabonnggg…..!!” teriak seorang bapak yang sedang membonceng anaknya tersenyum sumringah ketika melewati motor kami yang terseok seok dijalanan menanjak berbatu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah polah bapak itu. Dia seakan tahu kemana kita akan pergi dan seakan memberikan kode jika arah kami ini benar untuk menuju ke Pasih Uug dan Angels Billabong.

Jalanan kerikil beratap pohon kering-kerontang menemani laju motor matic pinjaman ini dan berujung pada sebuah tanah latar lumayan luas. Mungkin disini tempat terakhir untuk bisa memacu motor, karena jalur didepan menyempit ditepi sebuah tebing curam berbentuk melingkar. Setelah memarkir kendaraan aku mencoba melangkah dan melihat tebing curam di depan sana.

Broken Beach
Aku terdiam terpaku melihat semua yang ada di depan mata. Takjub melihat begitu indahnya pahatan Sang Maha Kuasa. Tebing curam yang ada di depan ini membentuk sebuah lingkaran dan membentuk sebuah laguna kecil nan misterius. Air masuk melalui celah lubang diantara tebing nan terjal diseberang sana. Inilah Pasih Uug atau biasa disebut Broken Beach, salah satu surga yang ada di Nusa Penida.

Abrasi air laut yang membentur tebing karang selama ratusan tahun yang membuat tempat ini begitu indahnya. Memandang jauh ke belakang nampak liukan tebing tebing yang bertatapan langsung dengan samudra berair biru jernih. Di tengah terik panas matahari siang itu, Pasih Uug bagaikan oase yang dapat meneduhkan setiap orang yang mengunjunginya.



“Fotoin aku dong disini” pinta si Lintang dan Octa

“Geser dan duduk agak kepinggir namun tetap hati hati yahh” ujarku pada mereka

Dan jeprettt… sebuah momen yang tertangkap di kamera yang mungkin akan kita banggakan karena kita pernah berkunjung ke tempat seindah Pasih Uug.



Pantai ini diberkahi keindahan yang tiada tara bandingannya. Unik dan yang pasti akan membuat siapapun terpana melihat biru air dan jembatan alami yang terdapat disini. Berjalan mengelilingi tebing akan menemukan persperktif pemandangan yang berbeda beda.

Dari sudut lain
Berjalan kedepan kita mengamati secara lebih detail pantai tersembunyi yang ada di bawah sana. Berpasir putih halus namun satu satunya cara untuk mendatanginya adalah berenang dari celah sempit di antara tebing dengan berenang. Cara yang hampir mustahil dilakukan dari atas sini apalagi dengan tingginya ombak di bawah samudera sana.



Seiring dengan meningginya matahari semakin banyak pula para pengunjung yang datang. Kini Pasih Uug telah menjadi idola dan pemuas hasrat bagi para pecinta wisata alam apalagi nama Nusa Penida yang semakin melambung belakangan ini.



Dibalik semua itu aku berharap agar Pasih Uug ini tetap terjaga keasriannya dan kebersihannya walaupun terbersit rasa sedikit pesimis ketika aku membaca sebuah plang besar tertacap bertuliskan “Tanah ini milik Premium Property, tidak dijual”. Aku heran bisa bisanya tempat terpencil nan indah seperti ini sudah dikuasai sebuah developer. Perlu peran para pemerintah dan kita semuanya untuk tetap menjaga kelestarian warisan alam nan indah ini, agar kita semua bisa sadar dan peduli.



You Might Also Like

4 komentar

  1. Gilak keren banget! Warna hijau toskanya menggoda. Rasanya Bali nggak ada habisnya dan nggak ada bosennya ya.

    Nggak sengaja ketemu blog ini dari jalanpendaki. Salam kenal ya. Btw kalau boleh sedikit masukan, kilometer persegi itu luas, bro. Jadi kurang pas kalau dibilang "membentang sepanjang" hehe. Keep blogging!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga ya bang... makasih atas koreksinya, hehee.. thanks juga udah mampir bang :)

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form