Travelling

Pantai Kedung Tumpang - Satu Satunya Di Pulau Jawa

7/19/2016Pradikta Kusuma


Garis pantainya tak terlalu panjang, tak ada tempat dimana kita bisa bermain pasir dengan leluasa. Tebing berbatu langsung bertemu dengan air laut berwarna biru bergradasi menjadi hijau tosca sangat bergelombang yang seakan tak pernah lelah menghantam bibir bebatuan tebing, khas laut selatan.

Tak hanya ombak yang selalu bergelombang namun gelombang juga datang dari para pengunjung yang datang. Hilir mudik dan silih berganti berdatangan. Begitupun juga aku dan 4 orang saudaraku Fita, Ferdi, Firda dan Lia. Mereka tampak menikmati semua sajian khas dan mungkin satu satunya di Jawa bagian timur ini.

“Kolam barat dan Kolam timur” begitulah tulisan di plang yang menancap di salah satu bebatuan kokoh. Aku langkahkan kaki menuju kolam timur yang nampaknya lebih dekat dari tempat berdiri saat ini.

Tak seberapa jauh jalanan berhenti pada ujungnya dan bertemu dengan ganas ombak laut selatan. Memandang kedepan terdapat beberapa tebing yang nampak hancur terkena hantaman ombak setelah sekian lama.

Kolam Timur
Hancur bukan berarti rusak namun dari kehancuran bebatuan itu munculah beberapa cekungan yang terisi air laut dan menjadikan kolam kolam alami. Masyarakat sekitar menyebutnya “Kedung” yang berarti kolam dan “Tumpang” yang berarti bersusun atau sebagai tempat wadah air.

Sejatinya dari foto yang beredar ada beberapa orang yang sedang asik berenang di dalam kedung tumpang yang berwarna kehijau hijauan dan di potret dari tempat aku berdiri sekarang ini. Namun sayang, karena ombak yang masih terlalu berbahaya “Kedung – kedung ini masih dilarang untuk digunakan berenang. Jika masih ada yang nekat bisa dipastikan dia akan terseret ke dalam gelombang besar yang menyapu kedung kedung ini.

Kolam Timur Setelah Disapu Ombak Besar
Namun bagi kami semua itu tak masalah karena memang pada awalnya kami tak berniat untuk berenang di pantai ini, hanya sebatas menikmati panorama. Mendengar pantai selatan saja sudah terbayang ombaknya yang ganas siap menyeret siapa saja kedalamnya, apalagi kini kami semua melihat dengan jelas ombak ombak ganas menerjang pantai kedung tumpang.


***

Matahari tepat bersinar dengan sangat cerah dan tanpa malu malu. Tegak tepat diatas kepala, karena memang jam tangan menunjukkan angka tepat pukul 12 siang. Semilir angin sejuk dan warna biru cerah dari laut selatan menyambut kami setelah berkutat dengan goncangan ojek motor sejauh 3 km. Dari atas tebing ini aku dapat menikmati sejenak sapaan awal dari Pantai Kedung Tumpang.

Pantai kedung tumpang mulai berbenah untuk menjadi kawasan wisata tujuan utama di Kabupaten Tulungagung walaupun sampai saat ini masih dikelola swadaya oleh tangan masyarakat setempat.

Dahulu kita harus berjalan kurang lebih 1 jam untuk tiba di bibir pantai kini hanya cukup 15 menit. Sarana dan prasarana mulai dari tempat parkir, warung, toilet dan beberapa gubuk untuk istirahat kini sudah mudah untuk kita temui.

Dan ternyata hal ini diamini oleh sang juru Ojek Mas Fajar yang aku tumpangi.

“Alhamdulillah semenjak setaun ini kedung tumpang rame mas, bisa sedikit mengangkat ekonomi kami di dusun terpencil seperti Pucang Laban ini” terang Fajar.

“Kemarin hari raya parkiran penuh dengan mobil mas, namun pas sampean kesini sekarang pengunjung sudah berkurang, tinggal pengunjung bersepeda motor yang banyak” lanjut Darmono kembali

View Dari Atas Bukit
Dan memang dahulu tak ada yang mengenal seperti apa Pantai Kedung Tumpang itu, jika berkunjung ke Tulungagung atau trenggalek hanya ada nama pantai popoh dan pantai prigi di benak para pendatang. Dan kini sekali lagi peran sosial media sudah sangat terbukti di era seperti sekarang ini.


***

Wajahnya nampak berkeriput menyiratkan betapa panjang kehidupan yang telah ia lalui, namun tak ada lelah di wajahnya. Pun begitu dengan tatapan matanya yang tajam memperhatikan gerak gerik beberapa orang yang mulai menceburkan diri di kolam barat. Tak ada kata terucap, hanya nampak sesekali dia memperhatikan hempasan air dari gelombang yang menghantam tebing di ujung kolam barat tersebut.

Kolam Sebelah Barat
Aku perhatikan dari kejauhan hingga akhirnya aku pun mendekat dan menyapa bapak tua ini. Dan yang kini aku ketahui beliau bernama Pak Darmono. Bapak tua ini setiap hari bertugas menjaga keamanan kedung tumpang dengan berkeliling mulai dari pagi hingga malam sampai pengunjung terakhir melangkahkan kakinya keluar.

Dari perkataan awal beliau aku sudah terkesan dibuatnya. Dan tiba tiba aku bertanya kepadanya.

“Pak nopo kedung niki aman damel renang?” yang artinya “Pak apakah kolam ini aman buat berenang”.

“Sampun sonten koyo niki sampun aman mas, nopo meleh tuyone sampun surut” kata Pak Darmono (Sudah sore seperti ini sudah aman mas, apalagi airnya sudah surut).

Sang Penjaga Kedung Tumpang
Seakan mendapat kode, aku pun mengerlingkan mata ke Ferdy dan nampaknya dia pun sudah paham akan maksudku. Dengan menenteng sebuah kamera action aku dan ferdi pun menuruni tebing dan menuju kolam alami berwarna hijau tosca.

Woyoooo…. Bersamaan aku pun meloncat kedalam kedung dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Bak anak kecil yang bertemu mainannya aku dan ferdy pun takmpak kegirangan menikmati kolam alami ini.

Kolam Alami
Dari atas sekilas kedung ini nampak kecil tapi setelah kami berada di dasar ternyata kedung ini cukup luas apalagi dengan sedikit orang yang berani turun kebawah seperti saat sekarang ini, kami akhirnya bisa cukup puas bermain main air di dalam kedung tumpang.

Bersenang senang namun tetap waspada itulah aturan main di kedung tumpang ini, jangan terlalu mendekati ujung kolam yang berbatasan dengan tebing karena sewaktu waktu ombak besar dapat menyeret tubuh kedalam lautan hindia.

Asiknya Bermain Air Di Kedung Tumpang
Dan tiba tiba…

“Bluarrrrrrr……!!!” ombak sangat besar menerjang kedung tempat kami bermain, ombak pun mendorong tubuh kami kedalam. Dengan berpegang pada batuan aku dan ferdi mencari perlindungan dari ombak besar yang datang.

Seketika beberapa orang yang berenang sedari tadi di kedung naik dengan terbirit birit. Begitupun juga kami mungkin ini waktunya mengakhiri waktu bermain di kedung indah berwarna hijau ini.

Ombak Besar Menghantam Kolam Barat
“Piye le? Enak to renang renange?..” (Gimana nak? Enak kan renangnya?) sapa Pak Darmono setiba kami kembali ke atas kedung.

“Nggih pak, asikkkk” sahutku dengan cengengesan.

“Bilas neng kono ae, ono air terjun… kari lurus ae kiro kiro 100 meter mlaku” (Bilas disana saja, ada air terjun..tinggal lurus kira kira 100 meter berjalan”) Saran Pak Darmono kepada aku dan Ferdy.

“Nggih Pak Matur Suwun” timpalku dan bergegas karena waktu sudah semakin sore.

Mengikuti bibir tebing pantai dan akhirnya kami menemui sebuah sungai kecil yang berujung di terjun ke lautan.

“Apa air terjun ini yang dimaksud Pak Darmono tadi?” tapi bagaimana cara berbilas kita, aliran air langsung bertemu dengan ombak ganas dibawah.

Ketika Sungai Menemui Ujungnya
Aliran ini pasti berasal dari hulu di dalam sana dan akhirnya aku dan ferdy mengikuti aliran air yang berasal dari rimbun pepohonan. Tak sulit untuk berjalan karena memang dengan kontur datar dengan sedikit teknik panjatan kita tetap bisa berjalan megikuti aliran air.

Dan benar saja, tak jauh melangkah aku terpana melihat sisi lain keindahan dari Kedung Tumpang. Di depan mata terpampang air terjun dengan ketinggian kurang lebih 40 meter dengan air segar yang langsung jatuh ke kolam yang ada di bawahnya.

Air Terjun Tersembunyi Di Kedung Tumpang
Tak aku sangka sebelumnya, jika kedung tumpang juga memiliki air terjun tersembunyi yang tepat berada tak jauh dari bibir pantai. Seperti surga yang tersembunyi, air terjun ini berada di balik pepohonan rimbun di kedung tumpang, dan dapat aku pastikan juga tak semua pengunjung tahu akan keberadaan air terjun indah ini.

Dengan keberadaan Kedung Tumpang yang memiliki karakter khas, dan sepertinya lambat laun akan menjadi primadona andalan wisata di kabupaten Tulungagung. Dan pastinya juga akan menambah pilihan wisata bagi siapa saja yang datang ke Jawa Timur khusunya kabupaten Tulungagung.

Catatan :
  • Pergunakan aplikasi Waze di smartphone kalian untuk menuntun menuju Kedung Tumpang, karena petunjuk arah di Google Maps belum bisa menemukannya.
  • Atau bisa mengikuti arah ke Pantai Sine, kemudian berbelok ke timur tepat pada pertigaan yang terdapat plang bertuliskan Kedung Tumpang.
  • Pastikan kendaaraan Fit, karena jalan akan berubah makadam, dari sini tinggal ikuti petunjuk arah menuju Kedung Tumpang.
  • Selamat berwisata namun tetap waspada akan ombak besar di Kedung Tumpang.





You Might Also Like

6 komentar

  1. Air kolamnya jernih sekali, berbonus air terjun pula. Acung jempol tuk dedikasi mbah Darmono.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya jernih banget mas, tapi agak berbahaya jika ombak besar datang

      Delete
  2. Epic nih pantainya kalo ada kesempatan pengen ke pantai kedung tumpang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ada kesempatan ya mas, kedung tumpang selalu menunggu :)

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form