Travelling

Benang Kelambu , Kesegaran Di Kaki Rinjani

7/13/2016Pradikta Kusuma


Air tampak jatuh dari dedaunan yang tumbuh menempel di dinding tebing. Menjadikan air tak langsung jatuh ke tanah namun air terlebih dahulu menyentuh dedaunan, air pun terurai lembut seperti benang benang lembut yang jatuh menjuntai kebawah. Dan karena keunikannya ini air terju ini pun mempunyai nama yang unik yaitu Benang Kelambu.




Air terjun ini dapat dicapai dari Air Terjun Benang Stokel dan dapat dicapai 30 menit berjalan kaki santai mengikuti jalur yang sudah tertata rapi dan sangat jelas.

Walaupun berjalan cukup santai peluh di badan ini seakan tak kuasa untuk tak keluar membasahi sekujur tubuh. Apalagi buat kami berdua yang kurang berolah raga ini. Jalur naik dan turun walaupun tak begitu tajam namun tetap membuat dengkul terasa nyut nyutan.

“Stopp, jangan cepet cepet jalannya” Fajar mulai meronta.

“Okee, santai aja bro” jawabku sambil menghentikan langkah.

Tak berapa lama tiba tiba teriakan seorang ibu ibu terdengar dari kejauhan.

“Kesini mas, istirahat dulu.. minum minum dulu”

Nampaknya teriakan ini dari pemilik warung yang baru membuka dagangannya pagi hari itu.

“Ohh iya bu terima kasih, saya sudah membawa minuman ini… Benang kelambu apa masih jauh bu?”

“Sebentar lagi kok, sudah dekat” jawab ibu itu.

Katanya dekat. Tapi, saya tak terlalu menelan mentah-mentah pernyataannya. Karena aku paham kata “dekat” menurut warga setempat tak sama dengan makna “dekat” menurut kami berdua.

Tangga menurun menjelang Air Terjun
Setelah kembali berjalan sekitar 20 menit jalur seketika menurun dan terus menurun. Disisi kiri jalur anak tangga banyak keluar aliran aliran air yang membentuk sebuah sungai mungil berair jernih.

Melihat semua ini aku tak sabar rasanya mencicipi kesegaran airnya, kaki aku julurkan kedalam aliran sungai kecil ini. Dan benar saja seketika kakiku seakan tercelup ke dalam air es, benar benar segar dan dingin.

Berjalan tak sampai 100 meter akhirnya kami dapat melihat kemegahan Air terjun dengan jelas. Dengan bersemangat pun aku berlarian lebih kebawah untuk mendapatkan view yang lebih luas.

Air Keluar Diantara Dedaunan
Tertegun aku melihat keindahan Benang Kelambu ini, benar benar air terjun yang khas. air yang jatuh memang benar benar bak benang dari kelambu gorden yang terjatuh. Apalagi ditambah suasana hening dan rindang di sekitar air terjun menjadikan tempat ini benar benar tempat yang pas untuk menghilangkan kepenatan.

Puncak dari benang kelambu tampak memanjang karena memang air terjun ini keluar dari sumber yang ada di bibir tebing. Dedaunan hijau kecil yang menyebar di dinding dinding tebing mempermanis dan mempertegas akan nama air terjun ini yaitu Benang Kelambu.

Kejernihan dan Kesegarannya Begitu Menggoda
Hanya ada 2 orang pagi itu yang sudah datang mendahului kami. Seorang lelaki separuh baya dan seorang istrinya yang sedang mengabadikan foto suaminya yang sedang menikmati kesegaran air yang mengalir dari air terjun, mata lelaki itu nampak “merem melek”.

Aku dan fajar pun nampak tergoda mencicipi kesegaran Benang Kelambu setelah mengamati polah lelaki yang “merem melek” ini.

Setelah mengamankankan barang bawaan, aku dan fajar pun bergegas menuju aliran air terjun. Dan benar saja kami pun dibuat “merem melek” oleh kesegaran yang ditawarkan benang kelambu ini.

Merem Melek
Nampaknya arus pembangunan fasilitas wisata telah masuk ke dalam kawasan air terjun ini. Tampak sebuah fasilitas toilet dan tempat untuk berganti pakaian. Di sekitar aliran sungai yang terbentuk pun sudah dipercantik dengan sebuah “Curug mini” yang ditampung dalam sebuah kolam kecil yang tak terlalu dalam.

Tak menghilangkan kesan alami dari Benang Kelambu sama sekali, pembangunan ini malah mempercantik view dari air terjun ini sendiri.



Semakin siang semakin ramai pula pengunjung yang berdatangan. Mulai dari orang tua, anak muda hingga anak anak nampak sangat antusias menikmati keindahan Air Terjun Benang Kelambu.

Dan kini saatnya kami pergi untuk meninggalkan benang kelambu ini. Hanya sedikit pesan dan harapan kepada siapapun yang berkunjung. Agar Benang Kelambu tetap terjaga kebersihannya dan agar keindahannya pun dapat dinikmati kelak oleh anak cucu kita.

Catatan:

  • Bisa dicapai dengan kendaraan bermotor sampai pos retribusi.
  • Datanglah pagi hari agar tak terlalu ramai pengunjung.
  • Perlu berjalan 60 menit dari pos retribusi sampai ke Benang Kelambu.
  • Ada juga ojek jika kalian tak ingin berjalan, namun di titik akhir kalian harus tetap berjalan.
  • Persiapkan kamera anti air dan baju ganti jika ingin “merem melek” mencicipi kesegaran airnya.



You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form