Travelling

Keheningan Di Air Terjun Benang Stokel

5/19/2016Pradikta Kusuma


Terdapat dua buah aliran air terjun namun bermuara dalam satu aliran air yang membentuk sungai berair sangat jernih. Air yang jatuh tak begitu deras namun seakan tak pernah bosan untuk jatuh sepanjang tahun. Sepi, syahdu, dan damai yang aku rasakan pagi itu di Benang Stokel, air terjun indah yang berada di Kaki Gunung Rinjani.


Hanya aku dan Fajar di pagi yang sejuk itu, taka da pengunjung lain. Entahlah, mungkin kami yang terlalu bersemangat untuk datang kesini pagi pagi. Namun dalam hati memang suasana seperti ini yang kami harapkan. Menikmati alam tanpa keriuhan dalam keramaian.

Tak ada bangunan permanen hanya terdapat beberapa tempat duduk dari semen sederhana tepat di pinggiran sungai. Juga tak terdapat warung di areal air terjun, menjadikan benang stokel masih beraroma alam yang sangat kental.

“Coba kamu maju tepat dibawah air terjun jar” pintaku kepada Fajar teman seperjalanan kala itu.

“Satu… dua… “ jeprettt, kamera pun menangkap gambar fajar yang berada di bawah air terjun dengan tambahan sedikit teknik long shutter agar foto kian dramatis.

Dingin dan segar menjadi satu
Memang daya tarik setiap berkunjung ke air terjun adalah pengambilan foto dengan beberapa angel dan shutter agak lambak agar menghasilkan aliran air selembut kapas. Dan benang stokel pun memberikan keindahannya yang tak hanya bisa dinikmati dengan mata terbuka namun juga indah saat dibekukan dalam sebuah bingkai foto.

Karakter air terjunnya yang tak begitu deras dan di salah satu air terjun membentuk sebuah kolam yang tak begitu dalam dan pasti akan menggoda siapa saja yang berkunjung untuk mencicipi kesegaran airnya.

Pelangi pun ikut tampil
Aku pun begitu, mencoba untuk melangkah ke dalam kolam sedalam lutut orang dewasa ini. Saking jernihnya dasar kolam yang berpasir halus pun terlihat dengan jelas. Kesegaran dan dinginnya menjadi satu, membawa harapku agar kelestarian tempat ini selalu terjaga hingga kelak.


***

Melewati jalur berkelak kelok membelah hijaunya persawahan, aku tarik gas dengan konstan dan tak terlalu cepat. Sembari menikmati udara segar sepanjang perjalanan aku pun bisa menikmati pemandangan hijau yang membuat mata segar. Mana ada di perkotaan suasana seperti ini.

Lalu di kejauhan nampak sebuah gunung memanjang dengan satu puncaknya yang menjulang keatas. Sang Rinjani menampakkan wujudnya, sambil menerawang jauh ke puncaknya teringat kembali memori indah pendakian yang aku lakukan 2 tahun yang lalu.

Senang sekali aku bisa menyapamu kembali Rinjani, namun kali ini aku tak kembali ke puncak dan segara anakmu namun kali ini aku mencoba menyapa keindahan di balik kaki kaki gunungmu.

Jalan mulus beraspal membawa motor sewaan kami berdua melaju tanpa hambatan. Aku yang ada di kemudi depan, sedangnkan dibocengan si Fajar dengan gadgetnya menjadi sang navigator dengan aplikasi mapnya agar kami tak tersesat di perjalanan. Namun kenyataannya untuk menuju benang stokel sangat mudah karena banyak sekali penunjuk arah diperjalanan.

Tepat 1 jam berkendara santai akhirnya kami berdua tiba di pos retribusi dan juga merupakan ujung dari jalan yang kami lalui. Cukup membayar 15 ribu untuk 2 orang + parkir sepeda motor kami sudah bisa masuk. Cukup murah dan disekitar pos juga terdapat banyak warung untuk sekedar melepas lelah dan meregangkan otot setelah berkendara.

Gerbang masuk dengan plang melengkung bertuliskan “Taman Nasional Gunung Rinjani” menyambut langkah awal kami berdua. Bergetar hati ini ketika membaca plakat tersebut, entah kenapa setiap mendengar kata Rinjani yang ada dalam benakku hanyalah tentang keindahan yang tersimpan di dalamnya. Dan aku yakin benang stokel pun akan memberikan kejutan besar.



Jalur menanjak berlapis cor adalah tantangan yang harus dilewati selepas gerbang masuk tadi. Jalur membentang di tengah hutan yang masih asri. Berselang 15 menit jalur menurun kembali hingga tiba di pelataran luas yang terdapat sungai di sampingnya. Dan wujud Air Terjun Benang Stokel tampak jelas di depan mata.

Dan benar saja apa perkiraanku dari awal benang stokel memang indah seperti ekpektasiku dari awal. Bersyukur rasanya bisa menikmati salah satu pesona yang di tawarkan di Taman Nasional Gunung Rinjani.

“Benang Setokel” dalam bahasa lokal memiliki arti “seikat benang”. Dinamai demikian karena bentuknya yang menyerupai ikatan benang yang di ikat menyatu.  


Setelah puas menikmati semua sajian dari Benang Stokel aku dan fajar segera berkemas membawa semua peralatan fotografi yang kami keluarkan. Kita pun melangkah kembali, setelah beberapa langkah kaki aku coba menengok kembali dan melihat untuk melihat untuk terakhir kali keindahan 2 air terjun yang berdampingan ini, karena menyadari tipis kemungkinan aku bisa kembali lagi.



You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form