Travelling

Sri Gethuk - Aliran Di Cadas Tandus

4/08/2016Pradikta Kusuma


Gunung kidul pada masa lampau merupakan daratan yang tertutup lautan. Tanahnya gersang dan penuh bebatuan cadas. Sekilas salah satu kabupaten yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta ini tak ada yang istimewa. Tapi siapa sangka dibalik bebatuan cadasnya nan gersang di bawah permukaan terdapat banyak sekali goa goa dan aliran sungai bawah tanah. Salah satu aliran air sungai bawah tanah ini keluar disebuah tebing curam dan membentuk air terjun yang kini bernama Sri Gethuk.

Aliran sungai Oya yang membelah dataran tandus kawasan gunung kidul kala itu berwarna kecoklatan karena sedimen lumpur yang naik karena pengaruh musim hujan. Aliran airnya pun tampak besar dan membentuk jeram jeram ketika melewati celah sempit di antara bebatuan.

Dan walaupun saat itu masih musim penghujan sinar matahari tampaknya tak malu malu untuk bersinar cerah. Sampai sampai aku selalu mencari tempat teduh untuk sekedar menghindari terik sinarnya. Panas dan tandus itu gamparan awal ketika memasuki kawasan sri gethuk.

Di tepian sungai Oya ini aku bersama 4 orang saudaraku sedang menunggu rakit kecil yang akan mengantarkan kami menuju bibir tebing dimana air terjun sri gethuk muncul. Sebenarnya ada cara lain untuk menuju kesana yaitu dengan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai oya ini. Tapi demi merasakan sensasi yang berbeda kami lebih memilih menggunakan rakit walaupun diwajibkan membayar 10 ripu rupiah per kepala.

Setelah menunggua antrian akhirnya tiba giliran kami menaiki rakit yang terbuat dari drum drum kosong yang disusun sedemikian rupa. Tenaga penggerak rakit ini berasal dari mesin diesel mini.

Dengan Rakit Kecil Menyusuri Sungai Oya
Bergerak perlahan melawan arus sungai oya rakit kecil cukup stabil. Duduk berjejer dengan pengunjung lain kami terkesima melihat keindahan di sepanjang perjalanan menuju air terjun.

Di sepanjang aliran sungai, perdu dan belukar terlihat begitu hijau alami di tengah kokohnya tebing-tebing Karst yang melindunginya pada sisi kanan dan kiri sungai. Suara rakit yang berirama menyibak aliran air seolah berpadu dengan nyanyian alam yang sungguh menentramkan jiwa.

Sungai Oya Diapit Tebing Di Kanan Kiri
Di tebing tebing kokoh ini juga nampak muncul banyak tetesan tetesan air, dan di beberapa sudut bahkan membentuk sebuah air terjun mini yang cukup cantik. Dan dari sini bisa aku pastikan dibalik tebing tebing karst nan tandus ini menyimpan banyak cadangan air yang mengalir di dalamnya.

Tak seberapa lama menikmati keindahan di atas rakit, suara gemuruh mulai terdengar dari kejauhan. Sri gethuk telah menampakkan wujudnya, air begitu deras menghujam bebatuan di bawahnya dan membentuk aliran air jernih yang langsung turun dan bercampur ke sungai oya yang keruh.

Asik Juga Dinikmati Dengan Body Rafting
Bebatuan yang terbentuk dari aliran air Sri Gethuk selama puluhan tahun membentuk sebuah formasi bebatuan unik yang sekilas seperti papan berundak. Gemericik air yang jernih seakan mengajak siapapun yang datang untuk mencoba kesegarannya dengan bermain air di aliran Sri Gethuk.

Sebelum turun dari rakit, aku coba bertanya kepada Bapak nahkoda rakit darimana asal muasal nama air terjun ini.

“Kethuk” adalah nama dari peraltan musik gamelan dan “Sri Kethuk” yang adalah nama dari sebuah lokasi tempat buat nyimpan peralatan gamelan yang di miliki oleh raja jin yang bernama “Onggo Menduro” merupakan penunggu air terjun ini. Masyarakat sekitar sering menyebut dengan “Mbah Onggo”. Oleh karena itu disebut dengan nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu masyarakat Dukuh Menggoran masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun.

Sedikit Slow Speed
Berjalan menelusuri Sri Gethuk adalah hal yang sangat menyenangkan Membiarkan kaki dibelai mesra oleh aliran air, dan badan sedikit basah akibat cipratan air yang terbang akibat derasnya aliran yang jatuh dari ketinggian.

Namun bebatuan yang cukup licin wewajibkan kita untuk tetap waspada dalam memilih pijakan untuk melangkah. Sedikit mendaki ke bebatuan yang agak tinggi aku berhenti dan merebahkan badan sambil memandangi air yang terjun dari ketinggian.

Air Terjun Yang Tak Mengenal Musim
Sungguh damai dan nyaman disini, tak kusangka dibalik cadas bebatuan gersangmu menyimpan jutaan kubik air yang selalu keluar tak mengenal waktu. Sri Gethuk, sungguh berkah yang kau beri, ratusan penduduk bergantung hidup dari aliranmu. Jangan pernah kering Sri Gethuk, jangan pernah hilangkan keindahanmu. Sampai Jumpa..... 

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form