Travelling

Goa Tetes, Tempat Pelarian Sempurna

5/08/2019setapakkecil




Perjalanan jauh dari Surabaya menuju kawasan Pronojiwo di Lumajang untuk berkunjung ke deretan air terjun yang berada disana terancam gagal karena pada saat datang, kami dihadang dengan hujan yang begitu derasnya.

Satu destinasi Air Terjun indah bernama Kabut Pelangi sudah gagal kami sambangi karena jalur trekking yang berbahaya saat hujan hingga akhirnya pihak pengelola menutup akses kesana demi alasan keamanan.


Jika Kabut Pelangi ditutup kemungkinan besar air terjun lain seperti Tumpak Sewu dan Kapas Biru pun ditutup pikirku, karena jalur trekking melewati beberapa arus sungai. Beberapa saat aku dan kawan kawan yang ada didalam mobil terdiam.

Tak kehilangan ide aku akhirnya memutar haluan dan menuju Goa Tetes yang berada tak jauh dari pintu gerbang Air Terjun Tumpak Sewu. Aku parkirkan kendaaraan kemudian bergegas menuju pos penjagaan walaupun saat itu hujan masih turun. Hati pun kembali bersiap jika kami ditolak lagi untuk berkunjung.

“Pak permisi, Goa Tetes nya buka apa tidak ya?”

“Buka kok mas, aman kalau disini walaupun hujan”

“Disini beda dengan yang lain, air terjunnya berasal dari sumber dan jalur tidak melewati sungai”

“Waahh untungnya, matur suwun pak” aku tersenyum lebar dengan wajah lega dan sumringah. Akhirnya perjalanan kami tak sia sia walaupun dengan destinasi yang tak kami rencanakan sebelumnya.Cukup membayar 5000 ribu saja per orang kami sudah diperbolehkan untuk masuk.

“Pelan pelan saja mas, jalannya licin habis hujan” Pesan pak penjaga loket

“Siap pak, kami berangkat dulu”


Jalur menuju air terjun sudah nampak bagus dengan tangga beton dengan pegangan tangan disebelah kiri yang berbatasan langsung dengan jurang. Kontur trek terus menurun dengan tajam, dan ketika menengok ke belakang sudah terbayang bagaimana beratnya perjalanan pulang nanti.

Dari kejauhan pun penampakan air terjunnya sudah dapat terlihat. Dari bentuknya air terjun satu ini sungguh unik. Air yang keluar dan jatuh tak hanya satu dari satu tempat namun berderet hampir disetiap sudut sudutnya. Dan di beberapa sudutnya terdapat celah celah yang menyerupai goa dengan aliran air yang menetes didalamnya, mungkin goa goa inilah yang menjadi inspirasi penamaan dari “Goa Tetes” itu sendiri.



Semakin kebawah dan mendekat ke air terjun suasana dingin semakin menguar, awan awan tipis nampak masih mendekap ujung ujung bukit diseberang, udara semakin lembab saja. Sungguh suasana yang sungguh nyaman aku rasa.

Jalur menurun pun menemui ujungnya, disini terdapat sebuah gubuk sederhana yang bisa digunakan untuk berteduh dan beristirahat sembari melihat indahnya Goa Tetes yang berada di depan mata. Aliran air yang begitu melimpah sungguh menggoda kami untuk bermain main.

Pertigaan Menuju Tumpak Sewu
Maka dari itu tak perlu beberapa lama istirahat kami pun bergegas menaiki bebatuan dan segera merangkak ke atas, menikmati kesegaran air dan melihat Goa Tetes dari berbagai sudut yang lain. Tak beberapa lama jauh melangkah terdapat sebuah pertigaan dimana jika berjalan kekiri akan mengantarkan kami menuju air terjun Tumpak Sewu. Kali ini kami memilih untuk berjalan kekanan terlebih dahulu karena memang kami ingin lebih menikmati Goa Tetes lebih lama.


Ketika melangkah kami harus tetap memperhatikan keadaan sekitar, karena banyak sekali bebatuan yang licin dan berbatasan langsung dengan jurang menganga di sisi kiri. Apalagi aku yang sedang membawa perlengkapan kamera sungguh harus berhati hati agar tas kamera yang aku bawa tidak basah karena air.

Dalam keriuhan suara air yang jatuh didalam hati aku terkagum kagum dengan bentang alam yang ada di daerah Pronojiwo ini, sungguh banyak sekali tempat indah dengan air yang mengalir sepanjang tahun tak pernah surut. Dalam hati pun aku berdoa agar air yang ada diseluruh air terjun ini tetap tak berubah berapapun lamanya, namun dalam hati aku pun sadar jika doaku bisa terwujud jika alam yang ada disekitarnya masih tetap lestari agar dapat menyimpan air yang begitu melimpah dari lereng sisi selatan Gunung Semeru ini.




Catatan

  • Hati hati ketika melangkah banyak bebatuan licin yang langsung berbatasan dengan jurang. 
  • Pergunakan Drybag untuk melindungan perlengkapan elektronik dari air. 
  • Banyak sekali terdapat pacet / lintah, bawa minyak kayu putih atau air tembakau untuk melepaskan pacet yang sudah menempel di kulit. 
  • Persiapkan fisik dengan baik karena perjalanan turun dan naik akan cukup menguras tenaga.




You Might Also Like

0 komentar

Followers

Contact Form