Mountaineering

Butak, Puncak Tertinggi Sang Putri Tidur

3/21/2019setapakkecil



Kebanyakan orang orang di sekitar Kota Malang dan Batu menamainya dengan sebutan Gunung Putri Tidur. Karena memang gunung ini jika dilihat dari kejauhan Nampak seperti orang yang sedang tertidur terlentang memanjang dari Kabupaten Blitar hingga Batu. Dan bagian kepala dari bentuk orang tidur ini dinamakan orang sekitar sebagai Puncak Buthak menjulang setinggi 2868 mdpl.

Sering aku datang ke Malang atau Kota Batu dan pasti pemandangan pertama yang terlihat adalah megahnya Gunung Putri Tidur ini, dalam benak ada keinginan untuk mencoba mendakinya sedari dulu. Namun nyatanya keinginan itu baru terlaksana beberapa waktu lalu. Bersama beberapa kawan dan saudara kami matangkan rencana untuk mendaki Gunung yang mempunyai jalur yang cukup panjang ini. 2 hari 1 malam pun kami tetapkan untuk estimasi pendakian.

Basecamp pendakian sendiri berada di Desa Pesanggrahan, Kota Batu berjarak sekitar 20 menit saja dari Alun Alun Batu, cukup dekat memang tapi sebaiknya tetap memperhatikan kondisi dari kendaraan (Terutama motor matic yang sering kejadian rem blong) karena jalur menuju basecamp di beberapa titik terdapat tanjakan sangat tajam.


Gunung Butak - Panderman terlihat dari Kota Batu
Basecamp dan perizinan pendakian Gunung Buthak menjadi satu pengelolaan dengan pendakian Gunung Panderman, karena memang kedua gunung ini mempunyai satu badan yaitu “Putri Tidur” namun mempunyai puncak yang berbeda. Basecamp mempunyai lahan yang cukup luas untuk parkir kendaraan, beberapa gazebo dan juga terdapat beberapa warung yang menyediakan makanan dan keperluan logistik untuk para pendaki.

Persis di depan pos perizinan pemandangan aduhai pun sudah dapat kita nikmati. Dari kejauhan Gunung Arjuno Nampak memamerkan kemegahannya, titik pemukiman di Kota Batu pun nampak seperti hamparan rumah monopoli jika dilihat dari ketinggian.


“Tidak usah bawa air banyak banyak mas, biar enteng” Begitulah kata bapak penjaga pos perizinan kepada kami kala itu.

“Ada sumber air ya pak diatas?” Tanyaku ingin memastikan.

“Buanyakkk, bisa sampean buat renang juga..hahaha” Sahut sang Bapak penjaga sambil tertawa tawa.

Jalur Pendakian Yang Panjang

Pukul 09.30 Perjalanan kami dimulai setelah melakukan doa bersama untuk mengharap keselamatan dan kelancaran selama pendakian. Kami pun segera melangkah menapai jalur lebar tepat disamping Pos Perizinan. Kira kira 100 meter melangkah jalur kemudian bercabang, dimana jalur ke kiri akan menuju Gunung Panderman sedangkan ke kanan akan mengantarkan kami menuju Gunung Buthak. Tak perlu takut tersesat karena di setiap percabangan sudah selalu ditemui petunjuk arah yang jelas kemana kita harus melangkah.

Awal mula jalur masih berupa bebatuan bercampur tanah membelah perkebunan warga. Aktifitas sepanjang jalur pun nampak masih ramai dengan lalu lalang petani yang menggarap kebun, memotong rumput untuk pakan ternak, dan sering kali juga kami harus menepi karena motor motor petani yang kebetulan melintas di jalur pendakian. Jalur yang membentang pun tak bisa dianggap remeh, nafas kami menderu, keringat mengucur deras, sungguh pemanasan yang sempurna.

Sejam berjalan kami akhirnya masuk ke pintu hutan. Jalur yang sebelumnya lebar membentang kini mengecil, dan mulai menanjak tajam membelah diantara semak semak perdu, fisik dan mental kini benar benar diuji. Setelah beberapa saat tanjakan tajam itu akhirnya menemui ujung dan berganti dengan jalur yang benar benar datar hingga bertemu dengan Pos 1. Inilah keasikan mendaki Gunung Butak, jalur yang ada bervariasi mulai dari tanjakan hingga jalur yang benar benar datar, tak akan pernah bosan kita dibuatnya.

Selepas pos 1 kita akan menemui sebuah tanjakan yang sering disebut “Tanjakan PHP” oleh kalangan para pendaki. Karena tanjakan ini cukup panjang tanpa bonus sedikitpun. Vegetasi memasuki tanjakan PHP pun mulai berubah yang tadinya membentang melalui semak perdu kini berada diantara pohon pohon pinus yang menjulang tinggi.


Ketemu batang pohon mirip ular di tanjakan PHP
Nafas kian menderu, baju pun sekarang basah sempurna bermandikan peluh. Namun pemandangan indah terselip diantara pepohonan pinus. Gunung Panderman yang nampak lancip berdiri sendiri walaupun masih satu gugusan pegunungan nampak sangat asri dengan penampakan hutannya yang masih sangat lebat.

1 jam menapaki jalur menanjak tiada habis akhirnya Pos 2 pun terlihat dengan dataran cukup luas dan cocok untuk sejenak meluruskan kaki, beristirahat setelah diuji dengan panjanganya “Tanjakan PHP”.

Selepas Pos 2 vegetasi kembali berubah kini jalur pendakian mulai masuk kedalam hutan basah nan lebat. Sesekali kami harus menunduk atau meloncat menghindari pohon pohon yang tumbang. Jalur yang ada pun relatif datar sehingga kami dapat lebih menikmati pendakian, tak terkadang kami pun berhenti lumayan lama untuk sekedar ber swa foto di spot yang kami anggap layak untuk diabadikan dalam sebuah potret.

Ada satu hal lagi yang menarik di pendakian Gunung Butak ini adalah jika pada musim yang tepat di jalur pendakian akan banyak ditemui tumbuhan Ciplukan. Kami orang jawa menyebutnya ciplukan tapi entah apa namanya jika di Bahasa Indonesia.

“Ini di supermarket bisa sampai 200 ribu lho sekilo” Ujar adeku Si Fita.

“Hahh…masak? Sebegitu mahalnya?”

“Iya beneran, buah langka mungkin” ujarnya kembali.

Akhirnya sepanjang kami menemui tumbuhan ciplukan ini kami banyak berhenti dan memilah mana buah yang sudah masak untuk dapat kami makan. Sungguh menyenangkan pendakian gunung kali ini.

"Gundah gulana akibat penat kota rasanya telah musnah, berganti rasa riang menikmati proses pendakian langkah demi langkah"


Tak terasa matahari pun semakin condong ke barat, cuaca yang tadinya cerah mendadak tertutup oleh kabut yang lumayan pekat. Kami tak tahu butuh waktu berapa lama lagi untuk sampai di Sabana tempat kami akan mendirikan camp nanti. Cemoro Kandang, begitulah nama hutan pinus ini yang aku baca pada plakat yang menempel pada salah satu pohon.

“Sabana masih jauh mas?” Tanyaku pada pendaki yang akan turun.

“Hmmm..sebentar lagi sih mas, paling 1 jam an lagi lah” Ujarnya sambil berlalu.

Masih jauh juga pikirku, sembari kembali mengumpulkan semangat untuk melawan fisik yang sudah terkuras akibat panjangnya jalur pendakian Gunung Butak ini. Berjalan selangkah demi selangkah akhirnya rimbun pohon pinus pun menjadi terbuka. Hamparan luas savanna terpampang jelas di depan mata, aku pun berteriak “Horeee Sabana Butakkkk”.



Hampir 8 jam lamanya kami sudah berjalan. Hamparan padang rumput yang mulai menguning seakan menari nari menyambut kedatangan kami. Sebaran pohon edelweiss setinggi dada pun nampak tersenyum riang melihat wajah kuyu kami yang kelelahan. Dari kejauhan disana nampak sebuah pancuran air dan sebuah sendang atau danau.




Sabana Gunung Butak ini mengingatkanku pada sabana yang ada di Argopuro sana namun ini lebih kecil dengan latar puncak Butak di kejauhan. Tak hanya sabananya saja yang mempunyai kemiripan namun dari jalurnya pun seakan identic, panjang dan jauh. Maka aku menyebut Butak ini sebagai Argopuro mini.



Rona Malam Yang Mempesona

Menjelang malam kami melakukan ritual masak memasak, segala sayur mayor kami keluarkan dari dalam tas, kompor, nesting dan logistik lainnya. Banyak sekali pikirku, terang saja semua keril yang kami bawa terasa berat dan penuh. Tapi yang pasti kami akan pesta besar malam ini.

Dan enaknya juga ketika mendaki gunung bersama para kaum hawa adalah mereka yang akan memasak semua makanan. Kami para kaum adam tinggal bantu bantu sedikit saja dan kemudian menikmatinya.

Sembari menunggu masakan matang aku mencoba untuk keluar dari tenda dan menikmati malam di Sabana Gunung Butak. Bulan purnama saat itu bulat sempurna, bak lampu alami yang membuat seisi Sabana menjadi terang tak sekelam biasanya.



Kabut tipis datang dan pergi, membuat suhu semakin dingin saja aku rasa. Detik detik demi berlalu, bintang bintang pun mulai menampakkan sinarnya seakan tak mau kalah terang dengan sinar sang bulan. Tenda kami pun berpendar temaram untuk menjadi pelengkap malam di Sabana Butak.

Sungguh komposisi yang menarik pikirku, tak membuang waktu aku persiapkan kamera dan mulai membidik suasana yang akan aku bekukan dalam sebuah potret foto. Hingga akhirnya dingin malam seakan memaksa kami untuk segera beristirahat sebelum menjejak puncak Butak esok hari.




Menjejak Puncak Butak

Tepat setelah subuh kami mulai berjalan menahan suhu yang begitu dingin. Dari tenda kami berjalan lurus melewati sumber air di Sabana mengikuti jejak setapak kecil yang membelah luasnya sabana. Keadaan masih gelap saat itu, kami harus benar benar memperhatikan langkah agar tak salah jalur.

Trek pada mulanya masih datar hingga akhirnya menemui ujung ketika kami sudah kembali memasuki hutan pinus. Trek tiba tiba berubah menanjak tajam sekitar 45 derajat. Lenguhan nafas kini mulai terdengar silih berganti. Pelan pelan saja kami berjalan, beberapa kali pun berhenti untuk sekedar menghela nafas bersiap untuk kembali memulai langkah.

Semakin keatas trek semakin terjal dengan bebatuan yang cukup labil jika dipijak menuntut kewaspadaan ketika melangkah. Hingga akhirnya setelah 45 menit jalur sudah menemui ujung dan menjadi sebuah dataran memanjang yang merupakan Puncak Butak, puncak tertinggi dari pegunungan Putri Tidur.


Di batas horizon warna kemerahan dari sang surya telah muncul, menandakan pekat malam sudah purna tugas. Semua yang ada dihadapan pun perlahan menampakkan wujudnya menjadi siluet siluet cantik. Semakin lama warna merah keemasan mulai mendominasi, dan inilah waktu dimana warna warna ajaib dari alam itu muncul.



Pada sisi utara terlihat gunung Arjuno dan Welirang bak dua raksasa yang menyembul di angkasa. Disisi timur terlihat juga Gunung Semeru dengan bentuknya yang lancip dengan kepulan asapnya yang sesekali menyembul ke langit. Sementara dari sisi barat terlihat kaldera lancip sang gunung paling mematikan di Pulau Jawa yaitu Gunung Kelud.



Semakin beranjak siang lautan awan pun muncul dihadapan. Di titik ini aku seakan tak bisa menerka batas antara bumi, langit, dan surga. Kaki masih menjejak tanah namun langit seakan begitu dekat di kepala. Sungguh perasaan yang tak bisa aku jelaskan dengan kata kata. 

Terima kasih Butak, walaupun terasa berat kini kami harus turun meninggalkan semua keindahanmu. Dan, sampai jumpa dilain waktu.




Experience Notes

  1. Persiapkan fisik dan perlengkapan karena jalurnya yang cukup panjang hingga mencapai Sabana.
  2. Bawa air seperlunya saja selama pendakian, karena di Sabana terdapat sumber air yang mengalir sepanjang tahun.
  3. Jalur pendakian paling umum adalah melalui jalur Basecamp Panderman, Kota Batu. Selain itu terdapat jalur Sirah Kencong, Jalur Gunung Kawi, dan Jalur Princi Dau.
  4. Bawa kembali sampah kalian turun.

You Might Also Like

0 komentar

Followers

Contact Form