Mountaineering

Cerita Miris Dari Lereng Gunung Lemongan

2/14/2019setapakkecil



Gunung Lemongan, memang sudah cukup lama aku tahu nama dan keberadaannya namun tak pernah ada niat untuk berkunjung kesana. Hati ini seakan memilih gunung di sekitarnya yang lebih familiar, sebut saja Gunung Argopuro atau Gunung Semeru untuk didaki. Hanya sering kali aku mendengar kabar jika gunung setinggi 1651 mdpl ini mempunyai trek yang sadis dan tak kalah dengan gunung setinggi 3000 mdpl. Rasa penasaran yang akhirnya membawaku ke Gunung Lemongan, menapaki jalur terjalnya, hingga cerita cerita miris tentang sosial yang berada di kaki kaki Gunungnya.

Bulan januari sebenarnya bulan yang kurang begitu pas untuk melakukan pendakian gunung. Cuaca pada bulan ini cenderung ekstrim dan selalu hujan setiap hari. Hasrat untuk berpetualang pun rasanya memudar dengan jatuhnya rintik hujan. Hingga sebuah ajakan dari kawan lama Si Acen untuk mendaki gunung di sekitar Jawa timur. Dengan tagarnya #30HariKelilingGunung Acen membawa semangat mendakiku kembali memanas. Dia selalu meyakinkan mendaki gunung pada musim hujan seperti ini relatif cukup aman jika dilakukan dengan cara “Tek Tok” atau mendaki naik turun dalam sehari tanpa camp.

Dengan beberapa pertimbangan aku pun menyetujui rencana Acen dan akan ikut dalam jadwal dia mendaki gunung dalam #30HariKelilingGunung. Gunung pertama yang akan kami daki adalah Gunung Penanggungan, namun karena cuaca buruk ketika kami sampai di basecamp akhirnya kami pun memilih untuk tak melanjutkan dan langsung beralih ke Gunung Lemongan.

Sebelum benar benar pergi kami sempat observasi dahulu melalui @gunung_lemongan menanyakan tentang status jalur buka atau tutup dan kondisi cuaca disana. Dan kemudian meminta mas Putut Aditya selaku admin dari @gunung_lemongan untuk menjemput kami esok hari di Klakah Lumajang dan mengantar ke Basecamp Gunung Lemongan. Cuaca gerimis dan mendung tipis menyambut kedatangan kami di Lumajang pagi itu. Dan ternyata Mas Putut dan kawannya Mas Mahmud sudah menunggu kami.

“Cuman 15 menit kok ke Basecamp mas, silahkan belanja logistik dulu atau sarapan mas, santai aja” Ujar mas putut.

“Oke mas, sembari istirahat aku mau beli sarapan dulu diseberang jalan” Sahutku menyaut.

Selepas sarapan pagi dan berbelanja Mas Putut dan Mahmud pun menarik gas motornya untuk mengantar kami. Dan ditengah perjalanan kami diajak berkeliling terlebih dahulu. “Disini ada 13 ranu (danau) yang, mengelilingi Gunung Lemongan, kami ajak lihat dahulu ya sayang jauh jauh kalau tidak lihat ranu ranu” seloroh Mas Mahmud sambil bercerita pandang akan keindahan Kecamatan Klakah.

Indahnya Ranu Pakis
Ranu pertama yang kami kunjungi bernama Ranu Pakis, sebuah danau yang cukup luas dikelilingi pemukiman dan perbukitan hijau, di pinggiran danau nampak ada beberapa keramba ikan milik warga. Air sangat tenang dan udara pun cukup sejuk sangat cocok untuk santai berlama lama namun jadwal pendakian yang sudah menanti memaksa kami untuk segera angkat kaki.

Tak terlalu jauh dari Ranu Pakis, sekitar 5 menit berkendara terdapat satu lagi ranu (danau) yang sangat indah bernama Ranu Klakah. Danau satu ini nampak lebih luas, tak ada keramba ikan, dan nampak lebih terawat karena memang Ranu Klakah sudah dikelola menjadi tempat tujuan wisata. Namun ada satu yang paling menakjubkan yaitu latar belakang ranu (danau) itu sendiri. Ya dibelakang sana penampakan Gunung Lemongan yang tinggi dan meruncing tajam nampak menyambut kedatangan kami. Mendung dan gerimis yang tadi menyambut telah hilang berganti dengan penampakan Gunung Lemongan yang sungguh cantik.

Ranu Klakah Berlatar Gagah Gunung Lemongan

Basecamp

Laskar Hijau begitulah tulisan yang melekat pada rumah mas Ilal Hakim yang juga digunakan sebagai basecamp dan tempat perizinan pendakian. Sepi, tenang, dan nyaman sekilas terlihat dari basecamp ini. Di depan kaca jendela penuh dengan tempelan tempelan stiker dari komunitas atau mapala yang sudah pernah berkunjung. Disamping basecamp pun tertempel dengan jelas peta jalur pendakian dan himbauan untuk para pendaki.

“Hari ini cuman sampean berdua yang mendaki mas, enak lah sepi” Ujar mas ilal

Pasti sepi karena kami mendaki pada hari kerja, dan tentunya jika weekend tiba jalur pendakian pasti dipenuhi oleh para pendaki lainnya. Dalam hati aku bersyukur jika sepi, karena lebih bisa menikmati nyanyian alam ketimbang nyanyian dari para pendaki lain.

Tepat pukul 09.30 kami pun pamit kepada Mas Ilal untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tak perlu berjalan kaki dahulu karena kami berdua akan diantar oleh Mas Putut dan Mas Mahmud menuju Pondok Laskar Hijau yang berjarak 2 km dari basecamp, lumayan untuk menghemat tenaga.



Cerita Miris Dari Lereng Lemongan
 
Ditengah perjalanan menuju pondok laskar hijau aku dikejutkan dengan sebuah pos perizinan pendakian.

“Loh ini kok ada pos lagi mas?” aku bertanya Tanya pada Mas Mahmud.

“Ini dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mas” sahut Mas Mahmud.

“Loh kok berdiri sendiri sih? Kok gak gabung saja pos perizinannya dengan Laskar Hijau?” Tanyaku makin menjadi jadi.

“Iya mas, karena kami dimusuhi” 

“Hahh kok bisaa??”

Usut punya usut ternyata banyak pertentangan dari masyarakat sekitar dengan apa yang Komunitas Laskar Hijau lakukan. Gerakan ini bermula dari keprihatinan. Hutan-hutan di sini habis. Itu berakibat pada turunnya debit 13 ranu di sekitar Gunung Lamongan. Saat ini Laskar Hijau fokus dengan pemulihan kawasan hutan lindung di Gunung Lemongan. Melakukan reboisasi di kawasan hutan lindung gunung Lemongan yang seluas 2.000 hektar yang rusak akibat illegal logging yang terjadi pada kurun waktu 1998-2002.

Beberapa oknum masyarakat menuntut lahan lahan di lereng Lemongan agar bisa dimanfaatkan menjadi lahan perkebunan Pohon Sengon yang bernilai jual tinggi, dengan cara membuka lahan dengan membakar hutan lindung. Namun Laskar Hijau menolak segala cara pengalihan fungsi hutan yang sudah ada apalagi jika ditanami dengan sengon karena bisa menimbulkan sesuatu yang buruk kelak. Karena pohon sengon walaupun memiliki harga ekonomis tinggi namun juga bisa membuat kerusakan lahan. Tumbuhan tumbuhan di sekitar sengon akan mati karena akar dari sengon sangat menyerap air, ditambah dengan akarnya yang kurang kuat mencengkram tanah dikhawatirkan kelak bencana longsor akan lebih mudah terjadi.

Laskar Hijau selama ini berupaya menjaga dan menanami kawasan hutan lindung ini dengan tanaman bambu dan buah-buahan agar ekosistem di Gunung Lemongan kembali hijau. Nah, aktivitas Laskar Hijau ini oleh para perambah hutan dan beberapa oknum tersebut dianggap sebagai hambatan bagi bisnis mereka, sehingga hampir setiap tahun tanaman Laskar Hijau dirusak dan dibakar. Bahkan pernah sekali kejadian pada tahun lalu Posko Laskar Hijau dirusak oleh beberapa oknum masyarakat dan terjadi sebuah penganiayaan terhadap salah satu anggota Laskar Hijau.

Mendengar cerita yang disampaikan dari Mas Mahmud dan Mas Putut ini membuat hari terasa miris dan teriris. Sebuah gerakan untuk melindungi alam dengan tujuan mulia malah menjadi sebuah bahan pertentangan diantara masyarakat, Birokrasi pemerintah yang dengan sengaja untuk merusak alam, hingga beberapa oknum yang ingin menguntungkan dirinya sendiri.



*PERS RILIS* *Perusakan Posko Konservasi dan Pohon di Gunung Lemongan* Posko Laskar Hijau yang berada di Gunung Lemongan yang selama ini berfungsi sebagai basecamp relawan konservasi dan juga menjadi pos pantau Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kerjasama antara Pemkab Lumajang, Polres Lumajang, Kodim 0821 dan Laskar Hijau, pagi ini ditemukan dalam kondisi rusak parah. Menurut Kamal Pasha, Haryanto, Ilal Hakim dan Adi, -relawan Laskar Hijau yang pertama kali mengetahui kejadian ini-, perusakan terjadi pada bangunan bagian depan yang terbuat dari bambu, kamar mandi dan bak penampung air yang jika musim kemarau berfungsi untuk menyiram tanaman. Selain merusak fasilitas posko, pelaku juga menebangi ratusan pohon yang kami tanam sejak tahun 2008. Antara lain pohon durian, manggis, leci, dan beragam jenis tanaman konservasi. Menurut analisa dari Tim Investigasi Laskar Hijau, perusakan dilakukan pada malam hari, dan pelakunya lebih dari satu orang, hal ini terlihat dari banyaknya jumlah pohon yang dirusak. Dan perusakan ini jelas sangat masif dan terencana. Kira-kira apa motif dari perusakan ini? A'ak Abdullah Al-Kudus selaku koordinator Laskar Hijau memprediksi, setidaknya ada dua hal: Pertama, selama ini ada beberapa oknum masyarakat yang pekerjaannya merambah hutan lindung, bahkan seringkali dengan cara membakar. Hutan lindung yang sudah dibuka nantinya akan dijadikan kebun sengon, ada yang nantinya kebun sengon ini dirawat hingga panen, tapi ada pula yang lahan tersebut dijual ketika sengonnya berumur satu tahun atau lebih, setelah itu oknum ini membuka hutan lindung lagi. Di sisi lain, Laskar Hijau selama ini berupaya menjaga dan menanami kawasan hutan lindung ini dengan tanaman bambu dan buah-buahan agar ekosistem di Gunung Lemongan kembali hijau. Nah, aktivitas Laskar Hijau ini oleh para perambah hutan tersebut dianggap sebagai hambatan bagi bisnis mereka, sehingga hampir setiap tahun tanaman Laskar Hijau dirusak dan dibakar. Tapi para relawan tak mau menyerah, pada musim hujan berikutnya kawasan tersebut ditanami lagi dengan bambu dan buah-buahan. @kementerianlhk @pskl_klhk @polreslumajang @gunungindonesia @camerapendaki @urban.hikers @mountnesia
A post shared by GUNUNG LEMONGAN TARUB (@gunung_lemongan) on



Jalur Neraka Pendakian Gunung Lemongan

“Ayo mulai berangkat, biar gak terlalu malam nanti pas kita turun” Ajakku pada Acen dan Mas Putut yang ternyata turut serta untuk mendaki menemani kami. Tepat pukul 10 pagi kami pun memulai langkah. Jalanan awal masih membentang di dalam hutan hasil reboisasi Komunitas Laskar Hijau. Semakin jauh melangkah jalur akhirnya terbuka keluar dari hutan dan didominasi oleh padang ilalang hijau. Jika memandang ke depan Gunung Lemongan yang menjulang lancip sudah dapat kita pandangi dengan leluasa.


Nafas mulai menderu, keringat pun berjatuhan akibat terik matahari yang bersinar tanpa penghalang apapun. Jalur masih terasa landai dengan beberapa tanjakan kecil sebelum kita mencapai Pos 1.

“Ini belum apa apa mas, nanti jalur sebenarnya setelah pos 2, jalur akan terus nanjak sampai puncak” Kata mas Putut.

“Iya mas..itu di depan gunungnya lancip banget yaa” Dengan nada pesimis melihat puncak yang begitu tinggi di depan sana, dalam hati pun aku bertanya Tanya “Apa aku kuat sampai puncak??”.

Jalur bebatuan sisa dari erupsi masa lampau
Jalur pendakian yang ada di Gunung Lemongan ini pun beragam mulai dari pada savanna kering, jalur berpasir yang mirip dengan Gunung Guntur di Jawa Barat sana, jalur hutan basah dengan tanjakan yang luar biasa persis dengan Gunung Latimojong dan satu hal yang selalu sama adalah tanjakan selepas pos 2 (Watu Gede) selalu memiliki kemiringan yang curam nan tajam.

Guci untuk menampung tetesan air
Ketika sampai di Pos 4 (Guci) kami dapat memenuhi botol air minum kami yang telah habis, karena di pos 4 ini terdapat sebuah Guci penampungan tetesan tetesan air yang merembes dari dinding tebing batu. Dari penuturan Mas Putut tetesan air disini tergantung dari musim juga. Jika musim kemarau datang tetesan air akan menjadi sangat kecil dan tak terkadang pula bisa kering. Oleh karena itu para pendaki Gunung Lemongan disarankan untuk mempersiapkan persediaan air mulai dari bawah.

1 jam lagi kita sampai puncak begitu kata Mas Putut begitu beranjak dari Pos 4. Namun jalur yang ada semakin menjadi jadi. Kemiringan semakin curam, kecepatan melangkah pun semakin melambat, ditambah kabut yang mulai mendekap. Berkali kali aku pun bertanya berapa lama lagi kita sampai di puncak, berkali kali juga Mas Putut menjawab “Sebentar lagi mas kita sampai”.


Dan akhirnya tepat jam 14.15 kami tiba di Puncak Lemongan yang ditandai dengan tiang besi dengan plakat bertuliskan Puncak. Kabut begitu pekat, angin pun begitu kuat menerjang, begitulah sambutan awal ketika kami bertiga sampai di puncak. Kawah Lemongan hanya terlihat samar dibalik pekatnya kabut. Kami benar benar memanfaatkan waktu untuk mengabadikan momen sebelum cuaca berubah menjadi semakin kelabu dengan hujannya yang begitu deras.

Puncak Lemongan
Berani mendaki Gunung Lemongan berarti berani juga untuk menerima resiko terberat dari mendaki gunung ini yaitu perjalanan turunnya. Karena perjalanan turun dari puncak Lemongan adalah salah satu hal terberat karena jalurnya yang begitu curam ditambah dengan medan yang berpasir dan berbatuan. Mewajibkan kita untuk selalu berhati hati dalam melangkah turun. Jika tidak resiko terjatuh dan luka siap mengintai, itulah mengapa perjalanan turun Gunung Lemongan jangka waktunya hampir atau bisa melebihi waktu pada saat kita mendaki ke Puncak. Kami waktu itu dari basecamp ke puncak membutuhkan waktu 4 jam, sedangkan turun gunung perlu setidaknya 5 jam hingga tiba di basecamp.

Acen, Aku, dan Putut di Puncak Lemongan
Mungkin, suatu saat jika diberi waktu dan kesempatan aku akan kembali lagi ke Gunung Lemongan dengan harapan cerita cerita negatif tentang alih guna lahan sudah tak ada lagi, hutan hutan gundul di lereng gunung sudah kembali lebat, hingga cerita ranu yang selalu indah dengan airnya yang tak pernah kering. Atau bisa jadi saat aku kembali cerita masih tetap sama, Alam Gunung Lemongan masih tetap terluka.






You Might Also Like

2 komentar

  1. Sukaaaa baca cerita petualang..serasa ikut bertualang juga

    ReplyDelete
  2. Weee... cocok buat referensi ini mas.... jadi penasaran nih.. hahaha

    ReplyDelete

Followers

Contact Form