Travelling

Cerita Seru Dari Pulau Satonda

12/10/2018Pradikta Kusuma



Angin bertiup cukup pelan namun ombak di tepian pantai Desa Nangamira sudah mulai bergejolak pagi itu. Deburan ombak menghantam hamparan pasir berwarna hitam sisa letusan Gunung Tambora 2 abad silam. Dari kejauhan nampak boat yang akan membawa kami ke Pulau Satonda mendekat, mencari posisi aman untuk bersandar di dermaga tempat kami menunggu.


“Sampai jumpa lagi bang, kapan kapan datang lagi kesini ya” Berucap salah seorang pemuda Desa Pancasila sambil menjabat tanganku erat

“Semoga suatu saat diberi kesempatan lagi untuk kembali ke Pancasila dan Tambora ya…aamiin” Kemudian aku menjabat satu persatu kawan yang mengantarkan kami berlima ke dermaga Nanagamira ini kecuali Pak Saiful yang akan ikut mengantar kami berkeliling Pulau Satonda.

Satu persatu kamipun menaiki boat kecil dengan perlahan karena ombak yang menghantam lumayan kencang apalagi kami membawa banyak peralatan kamera, kami harus berhati hati. Tangan kami lambaikan sebagai salam perpisahan terakhir kepada kawan kawan pemuda Desa Pancasila.


Boat melaju dengan kencang, membelah perairan yang memisahkan daratan Sumbawa dengan Pulau Satonda. Mesin boat yang masih prima mengantarkan kami menuju tempat tujuan dengan sangat cepat. Hanya 15 menit saja, penampakan Pulau Satonda yang indah semakin terlihat. Air laut pun mulai ber gradasi dari semula biru pekat menjadi biru muda kemudian semakin menampakkan warna tosca yang begitu jernih menampilkan keindahan terumbu karang yang tersimpan di dasarnya.

Sungguh tenang dan sepi itulah persepsi awal ketika kaki menginjak pasir putih halus Pulau Satonda, sungguh sebuah tempat untuk liburan yang sempurna pikirku. Tak ada pengunjung lain, hanya kami berlima saat itu yang berkunjung. Walaupun menurut informasi pulau kecil ini sudah dikelola oleh swasta dengan dibangunnya resort dengan segala fasilitasnya, ketenangan dan keasrian Satonda nampak masih terawat dengan baik.

“Biasanya banyak kapal wisatawan yang berlabuh disini mas, tapi entahlah hari ini kok masih sepi” Ujar Pak Saiful

“Berarti kita beruntung dong pak, jadi bisa puas kayak Pulau Pribadi” Sahutku bersemangat.

Resort Di Pulau Satonda
Tepat di tengah Pulau terdapat sebuah danau air asin yang membuat Satonda ini cukup ikonik. Danau ini dahulu di duga sebagai kawah dari Gunung Satonda yang kini sudah tak aktif lagi, fakta ini cukup bisa diterima karena bukit bukit yang mengelilinginya pun berbentuk seperti sebuah kaldera gunung berapi. Sementara air asin yang ada di danau berasal dari Tsunami yang terjadi akibat letusan gunung Tambora pada tahun 1815 silam.

Hanya butuh 5 menit saja berjalan dari dermaga hingga tiba di tepian danau. Lagi lagi hanya sepi dan ketenangan yang menyambut kami. Jika diamati air danau berwarna sangat gelap sekilas hampir berwarna hitam. Cukup seram membayangkan kedalaman danau air asin ini. Menurut informasi yang beredar danau ini beberapa kali di teliti oleh beberapa pakar penelitian. kadar asin dari danau di Pulau Satonda ini sampai sekarang masih menjadi misteri. Asal dari air laut ini pun menjadi perdebatan panjang apakah memang berasal dari Tsunami? atau ada sebuah lubang dibawah sana yang memungkinkan air laut dari luar merembes kedalam? Itu hal yang masih menjadi misteri.

Air Danau Nampak Gelap
Bahkan menurut sebuah penelitian, biota dan segala hal yang ada di dalam Danau Satonda mirip dengan lautan pada zaman purba karena banyaknya material strimalit yang hanya ada sekitar 3,4 miliar tahun lalu dan tidak pernah ditemukan lagi sekarang. Jika dihubungkan dengan cerita rakyat, sebenarnya pulau satu ini adalah pulau larangan atau pulau terkutuk dan tidak diperbolehkan siapapun untuk mendiaminya karena Pulau Satonda merupakan tempat pengasingan Puteri Dae Minga yang dulunya diperebutkan oleh banyak orang dari berbagai kerajaan. Karena seringnya terjadi pertikaian antara orang-orang yang ingin mempersunting sang putri, maka Putri Dae Minga sengaja diasingkan di pulau tersebut.


Ada satu lagi hal unik di Satonda yaitu keberadaan Pohon Kalibuda atau orang sering menyebutnya “Pohon Harapan”. Orang orang lokal disini masih percaya akan hal hal yang sedikit tak masuk diakal seperti pohon Kalibuda yang bisa mengabulkan keinginan. Jadi setiap ada keinginnan, mereka datang ke danau ini dan mengantungkan batu di pohon sambil memanjatkan doa kepada sang leluhur. Nah jikalau doa mereka terkabul, mereka akan kembali ke pohon itu dan melepas sesuatu yang dulu di gantungkan sambil menggelar upacara syukuran kecil.

“Apa benar cerita cerita itu pak?” Tanyaku kepada pak Syaiful

“Iya memang seperti itu mas, makanya banyak orang sini yang masih percaya. Coba saja mas berdoa siapa tau suatu saat bisa terkabul kan..hehe” Ujar Pak Syaiful.

Pohon Kalibuda
Puas duduk duduk santai di pinggiran danau kami ingin melihat Danau dari sudut yang berbeda. Kamipun segera berjalan menyusuri jalur setapak kecil yang akan mengantarkan kami di sebuah bukit sebelah kanan danau. Tak bisa dianggap enteng jalur yang kita lalui sangat menanjak tajam apalagi ditambah dengan udara pesisir yang panas dan lembab sukses membuat peluh keluar tanpa bisa terkontrol. Walaupun lelah pemandangan yang disuguhkan cukup membuat mata segar. Gradasi warna air di pesisir Pulau Satonda sungguh indah dilihat dari ketinggian tempat kita berjalan.

Jalur Menuju Puncak Bukit
15 menit saja jalanan curam sudah menemui ujungnya berganti dengan jalur datar membelah hutan. Dan ketika hutan sudah menemui ujung pemandangan terbuka langsung menyambut. Nampak di depan mata keindahan Danau Satonda yang semakin nampak nyata dari ketinggian. Sisi bukit sebelah kanan dari Satonda ini mempunyai sebuah padang rumput yang cukup luas dan terlihat kontras jika dibandingkan dengan bukit yang ada diseberangnya yang nampak lebih lebat pepohonannya yang menjulang tinggi.



Menurut beberapa info yang pernah aku baca, bukit yang berada di sebelah kiri ini dahulunya adalah tempat dimana ombak Tsunami akibat letusan Gunung Tambora pertama kalinya menghantam Satonda, dan hingga saat ini bukit sebelah kiri nampak lebih tandus. Tepat diatas bukit ini matahari nampak ada lebih dari 9, panas sangat menyengat, dan debu bertebaran. Maka dari itu kami tak berlama lama dan segera kembali turun. Nampaknya kini jernih air lautan nampak lebih menggoda.


Walaupun nampak sepi dari pengunjung hari itu tapi fasilitas di Satonda nampak cukup lengkap. Bagi yang tak membawa peralatan snorkelling disinipun tersedia persewaan. Dengan 50 ribu rupiah kita sudah dapat menyewa alat snorekeling sepuasnya. Sayang jika ke Satonda kita tak sempatkan untuk menengok keindahan bawah airnya.

“Langsung saja berenang kedepan sana mas, mumpung airnya lagi tenang ini” Ucap Pak Bambang sang penjaga persewaan alat snorkelling.

“Iya pak, sudah tak sabar ini pak” sambil cengengesan melihat air yang begitu jernih.


Aku, Adrian, dan Mas Juli pun akhirnya berenang langsung dari bibir pantai menuju spot yang sudah di tunjukkan Pak Bambang tadi. Tak terlalu jauh berenang keindahan ikan berwarna warni sudah menyambut kami. Jajaran karang berbagai ukuran pun nampak masih terjaga dengan baik. Dan satu lagi air lautnya benar benar jernih. Ombak pun sangat tenang menjadikan kami sangat betah untuk berlama lama di dalam air.

Berenang kesana kemari tak ada bosannya. Ikan ikan kecil bermain diantara karang karang, dan dikejauhan nampak ikan ikan berukuran jumbo lebih senang bermain di sudut yang lebih dalam. Sungguh atraksi yang menarik.



Jika tak ada teriakan dari bibir pantai yang mengisyaratkan kami untuk segera menyudahi berenang karena hari sudah beranjak sore kami harus segera kembali. Tak ada pesta yang tak usai, mungkin begitulah kata pepatah lama. Kesenangan kami hari itu harus segera disudahi dan Satonda juga merupakan penutup dari perjalanan kami selama seminggu di Tanah Sumbawa. Dari puncak Gunung Tambora lalu kami tiba di dasar Pulau Satonda.

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form