Gunung Kelimutu, Penutup Perjalanan Yang Sempurna

2/28/2018Pradikta Kusuma


Mobil berjalan pelan, mesin sedikit meraung menandakan jalanan yang semakin menanjak, di beberapa titik mobil harus terguncang hebat karena jalanan yang mulai rusak, jalanan yang meliuk pun menuntut konsentrasi tinggi untuk para pengendara. Jam 4 pagi, Jalanan masih gelap gulita, diluar jendela mobil hanya nampak beberapa titik lampu rumah penduduk berpendar jauh dibawah sana. Aku mencoba pejamkan mata namun tak bisa, pikiran ini sudah terbayang akan keindahan tempat diujung perjalanan. Sudah tak sabar rasanya, untuk melihat keelokan Sang Kelimutu.


Suhu terasa dingin pagi itu, namun nampaknya aktifitas para pengunjung sudah bergeliat dari tengah malam. Terlihat deretan mobil yang nampaknya sudah ada sebelum aku datang. Aku coba rapatkan kancing jaket, rasa rasanya udara semakin dingin saja jika terlalu lama berdiam diri. Agar tak membuang waktu terlalu lama aku pun mengajak kawan kawan yang lain untuk segera melangkahkan kaki menyusuri setapak kecil menuju Kawah Kelimutu.

“Ndak jauh kok mas, paling jalan 15 menit saja” begitulah kata salah satu penjaga pos di sekitar parkiran mobil yang aku temui.

“Ohh dekat ya, okelah pak saya lanjut jalan dulu, terima kasih”

Diriku menimpali dengan hati yang sedikit pesimis dengan kata kata bapak tadi. Karena memang estimasi waktu dari orang lokal biasanya melenceng jauh dari kenyataan. 15 menit bagi warga lokal kalau untuk ukuran kita bisa 2 sampai 3 kali lipatnya. Tapi nanti dibuktikan saja ketika sampai diatas berapa lama waktu yang dibutuhkan. Tak lupa aku pun coba melirik jam setelah bertemu bapak bapak tadi.

Jalan setapak untuk menuju Kawah Kelimutu ini nampak sangat baik dengan paving atau cor yang padat. Berjalan di tengah kegelapan pun rasanya cukup nyaman saja karena setiap 5 meter terdapat lampu penerangan. Petunjuk arah pun sangat jelas dan hampir terdapat di setiap persimpangan. Di beberapa sudut nampak sebuah papan diorama yang berisi informasi apa saja tentang Gunung Kelimutu ini. Pos pos pemberhentian untuk beristirahat pun cukup mudah ditemukan sepanjang perjalanan. Bahkan di tengah jalur terdapat beberapa toilet bersih yang dapat digunakan. Dengan fasilitas yang begitu lengkap itu tak heran jika Gunung Kelimutu namanya kian mendunia dan menjadi tujuan utama siapa saja yang datang ke Flores tepatnya ke daerah Ende.


Jalan setapak yang ada relatif datar hanya ada sedikit tanjakan sebelum kita sampai di Puncak Kelimutu. Namun tetap saja membuat nafas memburu, keringat mengucur. Tepat di Puncak Kelimutu aku kembali melirik jam tangan, kurang lebih 40 menit tadi berjalan, lebih 2 kali lipat dari perkataan omongan bapak bapak tadi dibawah. Ketika sampai di puncak kegelapan masih menyelimuti sekitar, namun keadaan sudah mulai ramai dengan datangnya pengunjung yang lain dan beberapa warga lokal yang menjajakan minuman hangat.

Puncak Kelimutu setinggi 1.639 mdpl yang ditandai dengan sebuah tugu tinggi menjulang, dibawahnya terdapat sebuah punden berundak yang dapat dijadikan para pengunjung untuk duduk sembari menunggu sinar mentari untuk yang pertama kali. Bak menunggu pertunjukan utama dimulai para pengunjung nampak duduk berderet rapi dibawah tugu puncak Kelimutu itu. Tetapi aku lebih memilih untuk berjalan mondar mandir sekedar untuk menghilangkan rasa dingin yang menyergap tubuh.


Menunggu sekitar 20 menit akhirnya nampak dari kejauhan horizon yang mulai merubah warnanya. Perlahan demi perlahan gelap malam mulai berganti dengan beragam warna ajaib yang dibawa untuk pertama kali oleh sang mentari. Semua orang nampak antusias, dari yang semula duduk berdiam diri kini mulai berdiri untuk menikmati atraksi alam yang sudah mereka tunggu dari tadi. Berpadu dengan warna jingga mentari kawah Kelimutu pun seakan tak mau kalah untuk memamerkan kecantikannya. Warna hijau tosca dan biru muda menjadi latar yang indah dan menjadikan pagi itu sungguh sangat sempurna.

Gunung Kelimutu mempunyai keindahan yang berbeda dari gunung-gunung yang berada di Indonesia lainnya, pasalnya Gunung Kelimutu memiliki 3 danau kawah yang terbentuk dari letusan Gunung Kelimutu beberapa tahun silam, dengan warnanya yang selalu berubah ubah. Gunung ini pun tak lepas dari cerita adat dari warga lokal yang mengkeramatkan Kelimutu.

Sebelah kiri “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai”, Sebelah kanan “Tiwu Ata Polo”
Menurut Bahasa lokal nama Kelimutu berasal dari “Keli” yang berarti gunung dan “Mutu” yang berarti mendidih. 3 danau kawahnya pun punya nama sendiri sendiri dan ada cerita adat dibelakangnya.

Yang pertama “Tiwu Ata Polo” yang berarti tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan. Posisi danau ini berada di sebelah kanan saat posisi badan menghadap ke arah danau dari gardu pandang. Danau ini berwarna sedang berwarna hijau tosca gelap pada saat aku kesana. Sedangkan danau di sebelah kiri dan berwarna hijau tosca muda adalah “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” yang berarti empat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. 

Dan satu lagi danau yang berada di belakang gardu pandang yang berwarna hitam pekat bernama “Tiwu Ata Mbupu” merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. Ketiga kawah tersebut adalah daya Tarik utama dari Gunung Kelimutu dan konon katanya ketiga kawah tersebut dapat berubah warna sebanyak 44 kali dalam setahun, sungguh luar biasa.

“Tiwu Ata Mbupu”
Dan demi menghormati para leluhur masyarakat sekitar bersama pemerintah tepat tanggal 14 Agustus setiap tahunnya diadakan Festival Danau Kelimutu yang dinamakan “Pati Ka” yang dalam Bahasa lokal berarti memberi makan. Pemberian makan ditujukan untuk para leluhur danau kelimutu berupa sesaji terdiri dari daging babi atau dalam bahasa setempat disebut “wawi” dan moke atau minuman beralkohol khas daerah setempat.

Selain melestarikan budaya setempat upacara “Pati Ka” ini bertujuan untuk lebih mengenalkan Kelimutu sebagai destinasi utama di Flores dan sebagai daya Tarik bagi wisatawan untuk datang setiap tahunnya.

***

Sinar mentari nampaknya tak bertahan begitu lama karena kabut pekat secara tiba tiba datang dan merampas semuanya. Hampir sama dengan gunung gunung lainnya, cuaca di Kelimutu pun sering berubah berubah. Tak selang beberapa lama gerimis pun mulai turun dan membuat semua pengunjung nampak gelisah dan segera meninggalkan kawasan gardu pandang dibawah tugu puncak.

Tak ada perasaan kecewa tapi dalam hati aku bersyukur karena tadi kami semua disini sudah dapat menikmati sebuah pagi yang sempurna walaupun hanya sekejap. Mengabadikan momen yang ada kedalam kamera pun nampaknya sudah lebih dari cukup. Aku coba lihat dari viewvinder kamera sudah terekam manis momen momen indah Sang Kelimutu. Dengan berubahnya gerimis menjadi hujan maka ini adalah pertanda untuk aku segera melangkah turun meninggalkan keindahan 3 danau yang berselimut kabut.



Bicara tentang Kelimutu aku tak akan pernah lupa akan cerita masa kecilku dahulu. Pada mulanya aku tahu Gunung Kelimutu ini dari pecahan uang kertas yang menampilkan gambar 3 danau dengan warna yang berbeda beda. Waktu itu aku masih berumur belasan taun yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap kali melihat pecahan uang 5 ribu itu aku terasa kagum melihat indahnya Gunung Kelimutu itu, walaupun hanya sebatas gambar abstrak saja.

Namun seiring dengan berjalannya waktu kini aku dapat berdiri tepat dihadapan 3 Danau Kelimutu itu, sungguh perasaan yang tak bisa aku ungkapkan. Bayangan imajiner yang dahulu hanya dapat aku nikmati dipecahan uang kini terpampang jelas di depan mata. Sungguh aku sangat bersyukur, betapa Tuhan dapat mengabulkan impian masa kecilku untuk bisa datang dan berdiri di Gunung Kelimutu.

Lembaran Uang Bergambar Gunung Kelimutu (Sumber)
Kelimutu pun menjadi sebuah penutup manis perjalananku selama 10 hari di Pulau Flores. 10 hari yang sangat berkesan, flores pun semakin meyakinkanku jika Negara Indonesia ini amat begitu kaya. 10 hari yang semakin menambah rasa nasionalisku terhadap Indonesia. 10 haripun rasanya terlalu singkat untuk menjelajahi Flores secara keseluruhan. Masih ada Maumere, Larantuka hingga Lembata yang belum sempat aku singgahi. Namun dalam hati aku berjanji, jika suatu saat nanti diberikan kesempatan aku pasti akan kembali menuju Flores.




You Might Also Like

1 komentar

  1. Pengin banget kesana saya, duh kapan ya? Coba juga mampir cari tempat wisata di Jogja

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form