Travelling

Air Terjun Madakaripura - Tempat Terakhir Mahapatih Gajah Mada

1/23/2017Pradikta Kusuma


Alam adalah sebuah tempat pelarian yang akrab bagi manusia yang gelisah sejak lama. Alih alih melarikan diri dari persoalan hidup, atau sekedar mencari inspirasi. Alam justru memberikan pencerahan yang lebih besar dan agung.


Tak heran jika memang sudah dari jaman dahulu orang orang yang mencari suatu jati diri, pencerahan, atau inspirasi tempat pelarian mereka semua adalah tempat tempat sepi yang langsung bersentuhan dengan alam, entah itu Gunung, air terjun, goa maupun lautan. Mulai dari jaman kerajaan masih berdiri, hingga saat ini masih sangat banyak yang percaya jika alam adalah guru terbesar bagi kita umat manusia.

Begitu juga dengan Gajah Mada sang Mahapatih dari Kerajaan Majapahit dahulu. Beliau dengan banyak pasukan kerajaan kala itu memandang alam sebagai suatu yang sangat mereka hormati. Mereka membangun banyak petilasan dan candi candi di beberapa lereng gunung seperti Penanggungan, Arjuno, Hingga ke Semeru. Mereka mendirikan itu untuk menghormati dewa dewa yang beracu pada gunung gunung yang tersebar di sekitar Kerajaan Majapahit. Gajah Mada pun sempat berikrar pada saat pengangkatan dirinya menjadi Patih.

“Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring seran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo,ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, saman isun amukti palapa”.

Yang artinya adalah sebagai berikut “Setelah tunduk Nusantara, saya akan beristirahat; Sesudah kalah Gurun seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya akan beristirahat”

Sebuah sumpah yang sampai saat ini orang orang menyebutnya sebagai sumpah Palapa. Sebuah sumpah yang akhirnya pun dipenuhi Gajah Mada, Nusantara pun akhirnya tunduk di bawah kerajaan Majapahit mulai dari maluku hingga semenanjung siam (Thailand).


Dan setelah sumpah palapa itu dipenuhi Gajah Mada akhirnya beristirahat bukan dengan kembali kerumah atau kerajaan tapi dengan cara yang berbeda yaitu kembali mendekat kepada alam. Beliau memilih untuk menyepi dan menyendiri di sebuah tempat terpencil di kaki Pegunungan Tengger yang menjadi tempat terakhir sebelum Sang Mahapatih benar benar meninggalkan peradapan dengan cara “Moksa”, adalah sebuah konsep agama Hindu dan Buddha. Artinya ialah kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi kehidupan.
Dan banyak orang menyakini tempat terakhir sang Mahapatih adalah di Air Terjun Madakaripura. Nama air terjun ini juga berarti tempat persinggahan terakhir Gajah Mada.


***

Aku pejamkan mata. Buih buih percikan air membasahi tubuh, deru air terdengar sangat nyaring mendengung. Aku membayangkan dahulu ada seorang Mahapatih Gajahmada yang sedang bersemedi di salah satu sudut air terjun megah ini. Terlindung dengan dinding dinding tebing sangat terjal menjadikan Air Terjun Madakaripura seakan akan terlindung dari dunia luar. Tentunya tempat ini sangat strategis untuk mengasingkan diri dari peradapan dunia pada masa lampau.

Bak cerita kolosal ketika aku membayangkannya. Sungguh hebat dan luar biasa cerita tentang Majapahit dengan adanya Patih Gajah Mada dahulu kala begitu juga dengan Air Terjun Madakaripura ini, yang mungkin menjadi saksi bisu hari hari terakhir salah satu bagian terbesar dari sejarah Majapahit.



“Hati hati mas, jangan terlalu lama disana… diatas sudah turun hujan” . Sebuah teriakan tiba tiba membangunkan aku dari lamunan. Yang ternyata dari seseorang penjaga air terjun Madakaripura.

“Kenapa pak?” sahutku pada bapak itu

“Bahaya mas, bisa datang air bah tiba tiba dari atas…nanti sampean bisa terjebak disini” Kata sang Bapak memperingatkan aku lagi.

Aku lihat di kejauhan Mas Farid, Mbak Ana dan Mbak Dwi sudah sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan aku di ujung jalan tempat dimana aliran air terjun paling besar berada.

Memang dengan posisi air terjun yang berada di antara tebing tebing tinggi seperti ini akan sangat rentan jika hujan tiba tiba turun dengan derasnya. Debit air bisa tiba tiba besar dan menutup akses jalan keluar dan notabene satu satunya jalan keluar adalah menyusuri aliran air sungai itu sendiri.


 Tak puas rasanya hanya sebentar menikmati keindahan air terjun Madakaripura yang sangat indah ini. Namun sebelum kembali aku sempatkan untuk mengambil beberapa foto. Namun untuk mencari spot foto dibawah sini aku rasa sedikit susah karena percikan air dari atas ada dimana mana. Mengeluarkan kamera DSLR pun aku rasa sangat riskan jika kamera itu tak tahan percikan air, satu satunya opsi adalah menggunakan kamera action yang tahan air.

Aliran air terjun yang pertama berbentung memanjang dengan banyak tumbuhan tebing menjuntai tepat dialiran airnya menjadikan air jatuh lebih lembut. Sedangkan aliran yang kedua berada di ujung aliran sungai dengan ketinggian yang hampir 100 meter dengan debit yang sangat deras. Angin kencang pun sangat terasa ketika mendekati aliran yang kedua ini, alhasil keberanianku pun menciut untuk mendekat. Dan dibawah sepanjang aliran madakaripura seakan dianugerahi hujan abadi, disetiap sudut tak ada tempat kering.



Berkali kali aku usap mata lensa dari kamera action kepunyaanku ini. baru beberapa detik diusap dengan kain, hanya sebentar sudah penuh dengan percikan air lagi yang menjadikan hasil foto kurang jernih. Seakan menjadi hal yang wajib, badan pun berbalut dengan jas hujan plastic murahan dari penjaja di jalur sebelum masuk air terjun. Aku langkahkan kaki menyusuri aliran sungai dengan sedikit terseok. Terpaan air yang jatuh dari atas dan mengenai kepala pun tak bisa aku hindari. Dingin aku rasakan ketika air menerpa wajah dan badan yang berbalut jas hujan.

Aku buka jas hujan sekeluar dari aliran sungai. Disini cerah cerah saja pikirku, tapi di dalam sana bak ada hujan badai menerjang. Aku teguk air mineral yang aku bawa sedari tadi di dalam tas ransel. Aku sadar, bahwa terlalu sebentar aku singgah di Madakaripura bukan berarti tak mau pergi namun suasana yang disuguhkan memang bisa membuat siapa saja yang berkunjung akan betah berlama lama.



Sebelum beranjak pergi aku pandangi sekali lagi aliran aliran air diatas tebing. Sebersit bayangan tersenyum kepadaku yang menarik aku untuk kembali lagi kesini tempat asri nan damai ini suatu saat. Dan aku yakin diantara sudut sudut terjal dinding tebing yang senantiasa basah itu ada sosok Gajah Mada yang sedang tersenyum melihat anak cucunya menikmati keindahan Air Terjun Madakaripura.

Catatan:

  • Makadaripura berada di Kabupaten Probolinggo dan sejalan dengan arah menuju Gunung Bromo.
  • Petunjuk arah ke lokasi sudah sangat jelas.
  • Waktu terbaik berkunjung pada saat musim kemarau.
  • Bawalah jas hujan atau juga bisa beli di tempat, banyak penjaja jas hujan di Madakaripura.
  • Bawalah kamera anti air.
  • Pergunakan alas kaki yang anti selip.
  • Jangan buang sembarangan, jangan kotori tempat seindah Madakaripura.


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form