featured Travelling

Gili Labak - Wajah Lain Madura

12/08/2015Pradikta Kusuma


Coba tengoklah pulau madura, ada apa disana?

Aku tak tahu ada apa disana, apa yang istimewa?

Maka dari itu ikutlah aku untuk mengenal lebih jauh melihat salah satu sudut keindahan Pulau Madura.

Sebuah pulau yang terkenal akan produksi garamnya, kata panas adalah suatu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan suasana di pulau ini. Tak ada pegunungan dengan hawa dinginnya, yang ada hanyalah hamparan bukit kapur menghiasi permukaannya.

Namun dibalik permukaannya yang hampa tersebut bumi perut madura menyimpan banyak energi. Pulau Madura adalah lumbung sumur minyak yang ada di Jawa Timur, mulai dari utara, selatan, barat dan timur pulau ini penuh dengan minyak dan gas.

***

Bleemmm, bleemmmmm.... terdengan suara lirih dari luar, ruangan tempat aku duduk tiba tiba agak bergoyang. Bukan karena gempa tapi karena saat ini aku sedang berada tepat di tengah tengah selat madura yang memisahkan daratan utama jawa dengan pulau madura.

Ya disini salah satu titik dimana perusahaan migas kontrak luar negeri mengeksplorasi kekayaan pulau madura. Ku coba menengok lautan lepas agar pusing di kepala akibat goyangan ombak tadi sedikit menghilang.

Dari Tempat Ini Pertama Kali Melihat Gili Labak
Mencoba menerawang jauh ternyata tak jauh disana terdapat sebuah gundukan pulau berpasir sangat putih yang kontras dengan birunya air laut.

Pikiran pun langsung bertanya tanya, pulau seperti apakah itu? Apa nama pulau itu?

***

Selang beberapa minggu dari tugasku di lepas pantai tersebut, bayangan akan pulau berpsir putih itu kembali hadir. Langsung aku arahkan pandanganku ke sebuah aplikasi maps yang tersedia.

Kemudian aku masukkan koordinat dimana letak offshore tempatku bekerja berada dan akhirnya aku menemukan sebuah pulau kecil tepat disebelah selatan offshore.

Aku zoom pointer di laptopku, dan ternyata maps menampilkan nama “Gili Labak”.

Senja Di Gili Labak
Mendengar kata gili bayangan pun langsung tertuju pada sebuah pulau cantik dengan pesona bawah laut yang indah.

Jari tangan pun lalu berpindah menuju lini massa yang lain. Aku ketik kata “Gili Labak”. Dan ternyata pulau gili labak ini adalah sebuah destinasi baru para pelancong. Karena banyaknya foto yang beredar dan tawaran open trip ke pulau kecil itu.

***

Beberapa minggu setelah itu akupun kembali terombang ambing di tengah selat madura bersama adekku Fita dan beberapa teman kuliahnya. Kiri kanan gerakan konstan perahu melawan ombak yang terdorong angin barat ini.

“Hueeekkk, huekkkkk” .. Lilik yang berada tepat disampingku memuntahkan semua sarapan yang tadi pagi dia makan.

Kurang Safety, Tapi Mau Bagaimana Lagi
Melihat Lilik yang muntah, kepalaku juga ikut pusing. Aku coba pejamkan mata namun malah pusing semakin menjadi. Akhirnya aku coba melihat pemandangan terjauh yang dapat aku lihat, untuk mencoba mengalihkan rasa mabuk laut ini.

Ngeri memang berada di tengah laut dengan gelombang besar diatas perahu nelayan alakadarnya dan perlengkapan keselamatan yang nihil. Yaaa.. bagi seorang engineer perkapalan hal ini adalah sebuah pertaruhan nyawa.

Tapi bagaimana lagi, demi mencapai surga memang dibutuhkan pengorbanan. Tapi percayalah kalau Gili Labak akan memberikan balasan yang lebih dari yang kita bayangkan.

***

Setelah 1,5 jam berlayar kapal pun merapat di tepian pantai Gili Labak. Pasir putih lembut langsung menyambut kita semua. Dengan rasa sedikit mual aku berjalan gontai mencari tempat yang teduh sembari menghilangkan pusing di kepala.

Dibawah pohon besar dengan dahan dahan yang menggantung ini aku menyandarkan kepala yang sedari tadi di goncang kapal. Di depan pandanganku banyak wisatawan yang lebih dulu datang bersliweran sambil membawa jaket pelampung di tangannya.



Tampaknya mereka akan snorkling pikirku. Biru laut yang ada di hadapan mata sudah dapat mengindikasikan bahwa penampakan bawah lautnya juga pasti akan menakjubkan.

Gili labak ini adalah pulau kecil dengan hanya beberapa penduduk saja yang mendiaminya. Rumah rumah mereka pun sering dijadikan homestay dadakan bagi para pelancong yang ingin menginap disana.

Tak ada listrik, tak ada air tawar. Mandi dengan sabun pun tak akan berbusa jadi jangan harap ada fasilitas mewah di pulau ini. Namun dengan seiring popularitas Gili Labak yang semakin terdengar bukan tak mungkin Pemerintah Madura nantinya akan membangun fasilitas di pulau kecil ini.

Pasir Putih - Birunya Lautan
Asik Berfoto Dengan Plang Gili Labak
 Gili Labak punya lebar hanya selemparan batu saja, ya karena saking kecilnya bisa aku analogikan seperti itu. Hanya butuh 15 menit berjalan untuk berkeliling garis pantai Gili Labak. Pagi dan sore hari adalah waktu yang paling pas untuk menikmati seluruh isi Gili. Yang pasti pada siang hari Gili Labak mempunyai 6 Matahari, hahahah

Pasir putih halus mengelilingi tepian pantainya, sangat cocok untuk eksplore berkeliling pulau. Di beberapa spot terdapat dataran luas yang sangat pas untuk digunakan camping di tepian pantai.

Jelajah Gili Labak
Selepas maghrib dan setelah matahari benar benar hilang diperaduannya, aku mencoba untuk menuju tepian pantai yang gelap dan hanya terdengar deburan ombak lembut. Dan tak aku sangka hanya selepas beberapa jam dari senja tadi, keindahan wilky way sudah mulai menampakkan diri.

Bergegas aku kembali ke homestay dan mengambil peralatan fotografi. Aku mencoba mencari tempat tergelap di pinggir pantai untuk mendapatkan sinar milky way yang maksimal.



Milky May Yang Gagal
Namun karena hari yang masih belum terlalu malam, para pengunjung tampak bersliweran dengan lampu senternya. Lampu lampu warung pun tampak sangat terang dibandingkan background wilky way sendiri dan ditambah peralatan tempur yang kurang memadai terutama lensa yang kurang mendukung untuk pemotretan malam.

***

Berkunjung ke Gili Labak tak lengkap rasanya kalau kita tak menikmati keindahan bawah lautnya. Pulau di tengah samudra dengan pasir putih dan kejernihan air seperti Gili Labak ini pasti akan menawarkan underwater yang cukup menarik.

“Mas ini kita dapat perlengkapan snorkling lengkap?” Tanyaku pada buddy yang akan menemani snorkling nanti.

“Dapet mas, snorkel set dan life jacket” ujar sang buddy.

“Lohhh, Fin atau kaki kataknya mana?” tanyaku kembali.

“Gak ada mas, cuman itu yang kita sediakan” jawab sang buddy menimpali.

Yaaa inilah yang perlu kalian perhatikan saat akan menikmati bawah laut di Gili Labak. Peralatan snorkling yang kurang memadai. Kenapa kurang memadai?



Karena kualitas peraatan yang kurang oke, sebagai contohnya masker banyak yang bocor dan tidak kedap, tali life jacket yang copot. Dan satu lagi yang penting adalah Fin atau kaki katak. Karena keadaan Gili Labak yang cukup berarus seharusnya demi keamanan kita harus memakai fin untuk bisa berenang lebih cepat.

Tapi jangan khawatir karena warung warung disana ada juga yang menyewakan fin, tapi lagi lagi dengan kualitas yang kurang oke dan jumlah yang sangat terbatas.

Tapi karena keadaan yang seperti ini mau bagaimana lagi, kita harus menikmati semaksimal mungkin. Percuma dong jauh jauh hanya manyun karena peralatan snorkling aja.

“Yukkk ahhh kita nyebur, udah ga tahan lihat birunya” ajak adekku Fita.

Alat satu persatu kita pakai dan kita langsung nyebur dari bibir pantai. Yaa... karena spot snorkling di Gili Labak berada tepat di sekeliling pantainya.

Kumpulan Ikan Teri
Byurrr... Byurrr hanya berenang 2 meter dari bibir pantai aku langsung disambut  dengan segerombolan ikan kecil yang sangat banyak. “Mungkin ini bentuk dari ikan teri sebelum masuk ke tungku penggorengan, hahahaha”

Langsung aku kejar ikan ikan kecil tersebut sesekali aku dekatkan kamera di barisan mereka. Tanpa dikomando ikan kecil itu langsung berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Ahh sungguh atraksi bawah laut yang menarik.

Aku tinggalkan gerombolan ikan kecil tadi, aku mencoba berenang semakin menjauh. Di beberapa titik yang aku anggap menarik aku coba berhenti untuk mengambil nafas dan melihat ada apa di bawah air sana.

Karang karang banyak yang rusak dan mati itu kenyataan yang aku lihat untuk pertama kali. Hijau berlumut semua dan semua karang terlihat patah. Sungguh menyedihkan melihat pemandangan seperti ini.



“Byurrrr... kraakkk, kraakkkk” seorang nelayang melempar jangkar di tepian pantai tak jauh dari tempatku berenang.

Ternyata sumber kerusakan karang karang di Gili Labak adalah dari penduduk pulau ini sendiri. Bagaimana tidak, mereka dengan seenaknya melempar jangkar tanpa memikirkan apakah dibawah ada karang atau tidak.

Inilah salah satu penyebab terbesar karang karang rusak yang ada di Indonesia, kurangnya edukasi bagi masyarakat pesisir. Sungguh fakta yang menyedihkan di tengah surga bernama Gili Labak ini.

“ Massss adiiittt, kesiniii” teriak adikku Fita dengan kencangnya.

Dari kejauhan aku lihat dia melambai lambaikan tangan menyuruhku untuk segera mendekat. Dengan perasaan kecewa setelah aku melihat karang karang hancur aku segera berenang menghampiri Fita.

Penampakan Karang Mulai Membaik
Perlahan tapi pasti karang karang yang rusak perlahan mulai menampakkan kehidupannya seiring dengan ayunan kakiku mendekat ke tempat fita berada.

Dan benar saja apa yang aku lihat disini sangat kontras dengan karang yang ada di sekitar perahu lego jangkar tadi. Lega rasanya masih menemukan sekumpulan karang dengan kondisi baik di Gili Labak.

Aku semakin bersemangat untuk menjelajah spot satu ini. aku mencoba berenang dan sesekali melakukan freedive di kedalaman untuk lebih melihat secara dekat kehidupan di antara karang karang.


Salah Satu Spot Dengan Karang Yang Baik
Di beberapa sudut tampak anemon tersebar di antara karang karang. Dan jika ada anemon pasti kalian akan menemukan artis bawah laut yaitu nemo.

Nemo atau yang bernama ikan badut ini rumahnya memang diantara anemon. Karena dengan anemon mereka bisa bersembunyi dari predator ganas contohnya seperti aku predator foto underwater.

Anemon Tempat Hidup Nemo
Mereka tampak sadar jika akan aku ambil gambar dengan kamera. Setiap aku mendekatkan kamera mereka tampak langsung bersembunyi di dalam anemon dan bahkan ada yang lansung lari menjauh keluar dari anemon.

Kurang beruntung dengan ikan nemo kali ini aku mencoba berenang kembali dan bertemu dengan ikan biru yang menyala. Mereka tampak lebih tenang dan stay cool dengan kamera. Akupun mendapatkan beberapa tangkapan gambar yang layak aku pajang di artikel ini,hehehe.



Gili Labak bagaikan sebuah mutiara yang dimiliki Madura bagaimana tidak kita bisa menemukan kepingan surga yang hanya selemparan batu dari kabupaten sumenep. Dengan Gili Labak kita dapat menemukan sisi lain dari Madura. Tolong jaga mutiara ini, jangan rusak dengan tangan jahil kalian.

Cukup ambil fotonya...
Jangan Injak Karang karangnya...
Jangan tinggalkan sampah di lautnya...
Cukup tinggalkan kenangan indah kalian di pulau bernama Gili Labak. 

You Might Also Like

1 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form