Travelling

Pulau Sangiang - Trekking Di Tengah Selat Sunda [Part 1]

4/08/2015Pradikta Kusuma


Awan hitam tampak bergelayut di atas langit menemani badanku yang berayun ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan kapal yang menembus ombak selat sunda. Keadaan langit yang sedikit suram pagi itu tak membuat senyum cerah seketika hilang. Bayangan tentang sebuah tempat indah di ujung sana, tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di Pulau Sangiang.

Video Perjalanan Pulau Sangiang


Mungkin kebanyakan dari kalian belum pernah mendengar Pulau Sangiang terutama bagi kalian yang berdomisili di sekitaran Ibukota. Memang pulau ini belum begitu terdengar namanya dibandingkan Kepulauan Seribu dan Krakatau. Pulau yang terletak hanya sekitar 1 jam berlayar dari pelabuhan Paku Anyer, atau jika kalian menyeberang dari merak ke pelabuhan bakauheni pasti tidak akan sadar akan keberadaan Pulau Sangiang.

Untuk menuju pastikan dengan personil yang cukup banyak untuk menekan pengeluaran biaya, karena harga sewa kapal yang relatif mahal dan izin camp yang bisa dibilang juga cukup mahal bagi kami kalangan gembel traveller. Kali ini pun aku turut serta dalam 20 orang kawan kawan lainnya yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.

Kapal Hoping

Kapal pun cukup penuh namun tetap muat untuk menampung kami beserta perlengkapan semuanya. Kapal juga cukup nyaman dengan dilengkapi toilet dan perlengkapan life jacket bagi kita semua. Perlengkapan safety yang lumayan cukup untuk ukuran kapal kayu rakyat seperti ini.

Hanya membutuhkan 1 jam kapal pun segera merapat di dermaga utama Pulau Sangiang. Dari sini kami diwajibkan untuk melapor dan mengisi biodata kelompok serta membayar retribusi membuka tenda serta guide selama berada di Pulau Sangiang.


Merapat Di Dermaga Utama

Lagoon Bajo nama spot kami mendirikan tenda. Bukan labuan bajo yang terdapat di Flores namun mungkin keindahan yang ditawarkan Lagoon Bajo tak kalah cantiknya. Dari sini kita bisa melihat kota cilegon dan pelabuhan merak dari kejauhan. Disini pun terdapat pos pengamanan pulau yang terdapat beberapa fasilitas kamar mandi dan mushola yang bisa kita pergunakan.



Pemandangan Depan Tenda

Keadaan siang itu sang mentari bersinar dengan terangnya. Kaki kaki pun bersiap untuk melangkah menikmati keindahan Pulau Sangiang. Rencana kami hari ini adalah melakukan trekking ringan mengunjungi spot spot menarik yang ada di sekitaran pulau. Dengan ditemani guide penduduk lokal kami pun segera melangkahkan kaki.

Berjalan dengan santai sambil menghirup udara segar bebas polusi, membuat perasaan nyaman dan melepas semua beban pikiran, Ini yang namanya liburan. Tak seberapa jauh melangkah kami pun langsung disambut dengan pohon pohon kelapa yang berderet rapi dan tersebar di semua penjuru. Suasana rindang khas pantai pesisir, sudah lama aku tak menemui tempat seperti ini. Senang rasanya dan tak sadar aku selalu mengeluarkan kamera untuk mengabadikan tempat indah ini.


Rayuan Hutan Kelapa

Tak ada jalanan beraspal di Pulau Sangiang, semuanya tampak masih sangat alami. Kami pun terus mengikuti jalan setapak kecil yang terbentang di tengah rimbun pohon kelapa, di pinggiran pesisir hutan bakau, masuk ke perkampungan warga kemudian masuk ke hutan dataran rendah. Semua tampak komplit di sajikan oleh Pulau Sangiang ini. Di beberapa titik aku bahkan berhenti dan tertegun dengan apa yang aku temui selama perjalanan, dan bahkan ketika melewati sebuah tanjakan panjang dengan kanan kiri pohon pohon yang sangat besar aku berpikir sedang berada di hutan pegunungan bukan berada di sebuah pulau di tengah selat sunda.


Seperti Di Pegunungan

Bunyi suara jeritan kelelawar pun semakin jelas setiap langkah menuruni sebuah lereng licin di tengah hutan. Jalur setapak pun terhenti di sebuah mulut goa gelap yang penuh dengan kelelawar. Ombak pun bergulung kencang menabrak dinding dinding goa yang langsung terhubung ke laut lepas. Bau menyengat guano kotoran kelelawar sangat terasa di sekitaran bibir goa dan bahkan diantara deburan ombak terdapat beberapa hiu yang tampak berlalu lalang. Mungkin sang hiu menunggu ada beberapa kelelawar terjatuh. Kita harus cukup berhati hati agar tak terseret ombak yang penuh dengan hiu hiu itu.


Goa Kelelawar

Melangkahkan kaki kembali dengan arahan guide kita kembali berjalan di tengah rimbun hutan Pulau Sangiang, kali ini jalanan sedikit menanjak. Di tengah hutan dataran rendah seperti ini kita harus siap dengan lotion anti nyamuk karena udara panas dan lembab seperti ini habitat subur bagi para spesies nyamuk. Aku yang berjalan paling belakang tiba tiba terhenti karena suasana macet kawan kawan di depan yang berhenti di tengah jalan. Aku tak bisa melihat apa apa karena kanan kiri masih di rerimbunan pohon, tapi setelah melangkah kembali aku pun tau kenapa mereka berhenti. Karena ada pemandangan yang sangat indah ini.




Tebing tebing tampak langsung bersentuhan dengan gulungan ombak laut lepas. Pemandangan yang sangat indah, sekilas tampak seperti topografi pantai laut selatan di pulau jawa. Lagi lagi Pulau Sangiang memberikan kejutan yang tak aku duga sebelumnya.


Dengan bantuan guide satu persatu dari kami menuruni tebing. Harus sangat hati hati dalam melangkah karena kecuraman tebing yang 90 derajat dengan batu batu tajam yang siap menyambut jika kita terjatuh. Langkah turun kita bergantung pada sebuah tangga kayu dan seutas tali yang berguna sebagai webbing. dalam melangkah turun sang guide selalu memandu langkah kita agar tak salah pijakan yang bisa membahayakan diri.



Di dasar tebing kita dapat menemui satu lagi goa yang penuh dengan kelelawar namun goa ini lebih besar dan ombak yang lebih menggelegar. Goa Pawon nama tempat ini tutur sang guide. Disini pemandangan lebih lepas karena tempatnya yang cukup luas bersanding dengan tebing tebing yang menjulang tinggi. Beruntung laut pada saat itu sedang surut sehingga kami bisa lebih mengesplore tebing tepat di samping goa.


Goa Pawon

Batu batu karang tajam ada dimana mana, gelegar ombak tampak menyampaikan pesan agar kita lebih berhati hati dalam melangkah. Tepat di ujung tebing, mulut goa pawon tampak menganga lebar. Deburan ombak yang bergulung tampak masuk melalui celah tebing dan menciptakan gulungan ombak yang semakin besar di dalam goa.


Mulut Goa Pawon

Setelah cukup puas menikmati segala keindahan di sekitar Pantai Goa Pawon, kami melangkahkan kaki kembali menuju destinasi trekking terakhir di Pulau Sangiang yaitu pantai Pasir Panjang. 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Garis pantai yang panjang dengan pasir putih yang sangat halus sesuai dengan namanya Pantai Pasir Panjang, sebuah sambutan alam yang sangat menarik. Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan pasir putih dengan ujung tebing hijau yang menjulang. Memandang lepas ke lautan tampak sisa sisa kejayaan Gunung Krakatau pada masa lalu. Sungguh pesona landscape yang luar biasa.

Pantai Pasir Panjang

Namun sangat disayangkan pantai secantik dan seindah ini harus dinodai oleh sampah yang menumpuk. Sekilas beberapa titik sampah tampak menggunung dan bahkan untuk kita berjalan saja kita harus berada di atas tumpukan sampah. Memang mungkin sampah sampah ini bukan dari penduduk lokal ataupun wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sangiang, sampah ini merupakan sampah kiriman dari tempat lain. Bagi kalian siapapun yang membaca ini saya memohon dengan sangat untuk tidak membuang sampah sembarangan baik itu di laut, di gunung, di jalan, di manapun kalian berada. Buang sampah sembarangan itu enggak asik.


Miris Melihat Tumpukan Sampah Ini


***

Terlepas dari masalah sampah yang menumpuk, aku berjalan menuju ke kiri aku menemui sebuah tebing yang tampak seperti batu batu bertumpuk. Guratan guratan batu yang terukir di tebing tersusun dengan indah. Aku pun berpikir jika pulau ini dahulunya terbentuk karena aktifitas lempeng di sekitar selat sunda yang membentuk Gunung Krakatau dan tebing tebing terjal di Pulau Sangiang ini.

Sangiang Stone Garden

Aku pun mencoba untuk naik di salah satu tebing yang memungkinkan untuk aku daki. Dan... luar biasa pemandangan disini sangat indah. Garis pantai panjang tampak melengkung panjang berhampar dengan pasir pasir putih. Sangiang Stone Garden aku menamai tebing batu ini, dan menurutku ini adalah spot terbaik untuk menikmati Pantai Pasir Panjang.




Aku mencoba untuk berdiri di ujung tebing. Angin lembut pun membelai pelan menemani aku di antara alam semesta. Seketika aku merinding, bukan karena ketinggian, bukan karena hal lain namun aku merasakan betapa beruntungnya aku bisa hidup dan berada di negeri yang indah seperti ini. Entah berapa kali aku menulis ini, tentang perasaan yang sama tapi memang tak ada habisnya aku bersyukur setiap berkunjung ke sebuah tempat baru dan indah seperti Pulau Sangiang ini.




Untuk trekking di Pulau Sangiang sebenarnya tak cukup hanya 1 hari karena ada banyak sekali destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Karena keterbatasan waktu trekking kali ini hanya cukup untuk 3 destinasi saja, mungkin lain waktu aku harus kesini kembali dengan spare waktu yang lebih panjang. Untuk tulisan selanjutnya aku akan bercerita tentang keindahan bawah air di sekitar Pulau Sangiang ini. 

You Might Also Like

31 komentar

  1. Abang ini kapan ke sininya? di bulan apa?
    bisa lebih rinci gimana cara untuk smapai ke pulau ini?
    terus estimasi biayanya jabarin atuh ih, biar bisa nyiapin budget... hehe
    maaf bnyak tanya dan minta, Keren si tempatnya wajib masuk daftar liburan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kesini sih sekitar 2 minggu yang lalu...

      Untuk sampai di Sangiang:
      1. Naik Bus Jurusan Merak - Turun Cilegon.
      2. Naik angkot jurusan pelabuhan Paku Anyer.
      3. Sewa kapal (Sebaiknya survey dahulu dan nego harga) sekitar PP 3 Juta untuk Max 22 Orang

      Delete
  2. Kok Sangiang Stone Garden bagus, kok aku jadi kangen laut.
    Kegayaan sih aku mainnya ke gunung mulu, sampai lupa rasanya ke laut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus bangetttt... jangan terlalu banyak naik gunung, bikin betis gede aja.

      Delete
  3. Permisi bang, salam kenal..
    Boleh minta contact kapal ga bang?
    Trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nih bang kontak kapalnya 081318319894 di nego aja biar bisa murah.

      Delete
    2. Bapaknya kok gak sabaran minta dibayar ya? Trusted gak kak? Saya sudah DP, tp beliau minta DP homestay, DP lifejacket juga. Di awal bilang lagi rame-ramenya, tp saya selalu di sms/tlp buat bantu benerin kapal. Kalau lagi rame dan tiap weekend ada trip, kenapa bapaknya minta sama saya terus ya? (maaf curhat) hehe, need advice.

      Delete
    3. Mungkin bapaknya ada rasa.. Upsss.. Haha, tapi yang jelas dia trusted kok bang

      Delete
    4. Kontak kapalnya jangan dihubungi lagi yaa, asli PENIPU. Saya korban ke-sekian dia.
      Saya bulan Agustus pake jasa dia juga buat ke Sangiang, duit udah dibayar LUNAS sebelum berangkat, dan mendadak H-1 dia minta CANCEL. Akhirnya saya cari orangnya kesana, ketemu sih, tapi sampe sekarang uang nggak balik, ngga tau uang yang dulu saya transfer dia pake kemana. Setelah diusut ternaya beliau punya banyak hutang dimana-mana dan bukan orang yang punya kapal.
      Semoga ngga ada korban lagi. Hapus aja contactnya mas Dikta. Thanks

      Delete
    5. Done ya Mbak, Terima kasih banyak

      Delete
  4. Permisi bang, di sangiang itu penduduknya sewain homestay juga ga ya? Trus pas masuk pulau sangiang denger2 perlu perijinan segala ya di pos TNI gitu? Itu caranya gimana ya?

    Thank you, salam kenal yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mbak Gabriela :)

      Kurang tau kalo homestay disana ada apa tidak, tapi kebanyakan yang berkunjung pasti mendirikan tenda. Kalau perijinan tinggal on the spot aja, bayar dan beres.. biasanya kapal juga langsung menuju pos perijinan itu mbak.

      Delete
    2. Homestay disana ada. Cuma ya sekedar tempat tidur aja. Panas dan pengap. Mending nenda di pasir putih

      Delete
    3. Thx banget info nya ya mas pradikta dan mba vaza :)

      Delete
  5. Halo bang, mau tanya, kemaren sewa kapal kena 3 jt buat berapa hari?, trus ijin camping bayar berapa?.. thx bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buat 2 hari bang, ijin campingnya lupa berapa kapan hari yang urus temen

      Delete
  6. Mas ijin mnta fotonya ya buat bkin sharecost ksna..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan mas, asal jangan lupa sumber asalnya yaaa

      Delete
  7. Mas itu biaya sewa kapal sampe 3 jutaan mas memangnya,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sih 2 jutaan mas, entah ya kalau sekarang.

      Delete
  8. 2juta dapet apa aja itu kapal doang apa sekalian snorkeli ng?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapal saja sih mas, sama perizinan masuk pulaunya sendiri

      Delete
    2. Coba bisa minta perincian harga nya mas kalau boleh.. makasih

      Delete
    3. Perincian harga dan itinerary udah ga ada, hilang ditelan waktu mas, hehehe

      Delete
  9. Mas itu untuk kapal bisa ikut kelompok lain?untuk 2/3 juta kan itu satu kapal,,jd klo backpacker cm 3/5org gmn?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara paling mudah ikut Open Trip aja mas, karena dulu kapal penyebrangan untuk umum itu tidak ada. Entah kalau sekarang ya

      Delete
  10. Jadi total budget yg keluar berapa ?
    Sewa alat snorkling berapa ?
    terus di kapal di sediain life jacket gk biar sefty ?
    tq bang infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan 20 orang dulu per orang kena sekitar 350 ribu, sudah semua ya bang. Dan itu murni sharecost. Untuk life jacket di kapal sudah disediakan. Alat snorkeling kita sewa sendiri via Kaskus

      Delete
  11. Replies
    1. Untuk retribusi masuk pulau aku lupa bang, yang pasti tidak sebegitu mahal

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form