Travelling

Loksado, Bamboo Rafting Membelah Hutan Hujan Borneo

9/26/2014Pradikta Kusuma


Berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari Kota Banjarmasin terdapat sebuah desa kecil bernama Loksado tepatnya di Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Desa yang berada di antara Pegunungan Meratus diantara lebat hutan hujan Kalimantan disini juga tinggal Suku Dayak Meratus dengan segala tradisi yang masih terjaga hingga kini.

Setelah sekian lama tak berkunjung ke Borneo akhirnya aku bisa kembali ke Banjarmasin lagi. Tapi kali ini dengan cerita yang sedikit berbeda, kenapa? Karena aku datang setelah mendapatkan kabar duka jika Pakdhe disana telah tiada. Sungguh tak menyangka akan berita duka ini, namun apa daya kali ini aku datang ke Bumi Borneo dengan perasaan sedih yang begitu mendalam. Salah satu anggota keluarga terbaik telah kembali pulang ke panggkuan Yang Maha Esa. Semua keluarga yang ada di Banjarmasin pun berkumpul dirumah Pakdhe, tak terkecuali saudara jauh yang tinggal di Kalimantan. Dari sini pun aku bisa bertemu dengan keluarga yang belum pernah aku temui sebelumnya.

Disini pun aku berkenalan dengan salah satu saudara yang tinggal di daerah yang bernama Kandangan. Ternyata beliau ini adalah kepala dinas pariwisata di Kabupaten Kandangan. Demi menghilangkan rasa duka beliau ini terus bercerita akan kawasan kandangan, keindahan yang ada disana dan yang paling beliau banggakan adalah Bamboo Rafting Loksado. Mendengar semua cerita itu semangat travelling pun kembali hadir menghilangkan duka yang sebelumnya ada.

Ketupat Kandangan (Sumber)
Dodol Kandangan (Sumber)

Sebelumnya tak sempat terpikir dengan sebuah tempat bernama Loksado apalagi dengan pelosok hutan di Kalimantan yang ditinggali dengan Suku Dayak, semua gambaran tentang itu biasanya hanya aku lihat di tayangan televisi saja. Sudah beberapa kali juga aku mengunjungi Pulau Kalimantan tepatnya di Kota Banjarmasin dan disana aku biasanya melihat sungai sungai yang besar, lahan gambut, dan sebuah pasar perhiasan di Martapura. Sudah mentok hanya sebatas itu saja aku mengenal Provinsi Kalimantan Selatan ini.
Dan setelah racun racun akan Loksado ini, akhirnya aku beserta keluarga pun sampai di Kota Kandangan. Sebuah kota kecil di jantung provinsi Kalimantan Selatan yang terkenal akan ketupatnya. Bahkan sampai dibuatkan tugu ketupat besar sebelum kami memasuki jantung kota. Warung ketupat kandangan pun tersebar disepanjang jalan, penasaran juga akan cita rasanya tak disangka pada saat berkunjung di rumah saudara kami pun disuguhi dengan ketupat kandangan asli. Ketupatnya berbentuk kecil dibandingkan ukuran ketupat lainnya. Disajikan dengan ikan haruan bakar bumbu santan. Ahhh, sungguh nikmat sajian satu ini membuat kami nambah dan nambah. Ada satu lagi yang khas dari Kandangan yaitu dodol kandangan, cocok kalian bawa untuk oleh oleh.

Dari kandangan ini perjalanan kita menuju Loksado dimulai. Untuk menuju Loksado biasanya menggunakan kendaraan pribadi karena angkutan umum untuk menuju kesana belum ada. Karena memang tempatnya yang masih sangat pelosok di tengah pegunungan meratus. Jalan menuju kesana sudah sangat baik karena memang dinas pariwisata kandangan sedang intensif untuk lebih mengembangkan potensi wisata loksado ini. Menurut cerita dahulu sebelum jalan ini dibuka dibutuhkan waktu hingga 2 hari berjalan kaki untuk mencapai Loksado. Sepanjang perjalanan kita dapat menikmati panorama Pegunungan Meratus. Puncak halau halau juga terlihat dari kejauhan, puncak tanah tertinggi yang bisa kita daki di pegunungan meratus ini menjulang dengan tinggi 1901 mdpl. Suatu saat aku akan berdiri disana gumamku, aminnnn. Namun ada yang berbeda dari deretan pegunungan ini yaitu hawanya yang panas berbeda dengan pegunungan yang ada di Pulau Jawa dengan hawanya yang sejuk.

Mempersiapkan Rakit Bambu
Sekitar 60 menit dari Kandangan kita akhirnya tiba di Loksado. Deras sungai amandit langsung menyapa kehadiran kami. anak anak suku dayak tampak bersenang senang dengan melompat di pinggiran sungai amandit ini, tampak juga para warga dayak menggotong beberapa bambu yang telah mongering ke pinggir sungai dan langsung merajutnya hinnga menjadi sebuah perahu rakit panjang. merakitnya pun mereka menggunakan tali yang terbuat dari bambu, go green sekali ya.

Simpul Ikatan Bambu
Anak Anak Dayak Meratus

FYI, di loksado ini ada beberapa pilihan wisata alam yang menarik diantaranya adalah bamboo rafting di sungai amandit bawah, rafting dengan perahu karet di sungai amandit atas atau trekking menembus hutan selama 4 jam menuju air terjun malaris dan melihat rumah adat suku dayak di pedalaman hutan borneo.

Sungai Amandit
Di tepian sungai amandit inilah awal dari perjalanan bamboo rafting kami. Sekilas rafting ini akan mengerikan dengan jeram jeramnya. Tapi sang pemandu meyakinkan bahwa semua akan aman walaupun kami rafting tanpa life jacket sekalipun. Karena itupun Ayah dan Ibu pun tertarik untuk mencoba bamboo rafting ini. Satu rakit diberi seharga 250k dan bisa menampung 2 orang dengan 1 orang pengemudi tapi hal ini juga tergantung dengan keadaan sungai sendiri karena jika arus sedang deras maka rakit yang digunakan juga semakin besar dengan kapasitas hingga 5 orang. Akhirnya kamipun menggunakan 3 rakit untuk 6 orang.

Keluarga Full Kecuali Aku :(
Belum juga rakit digerakkan kami sudah bernarsis ria di atas rakit bamboo ini, tak apalah kapan lagi bisa mengabadikan momen wisata keluarga seperti ini. Awal perjalanan kami pun langsung disambut oleh jeram jeram diantara perkampungan dayak meratus. Jeram pembuka yang lumayan lahhhh. Gluduk gluduk begitulah suaranya ketika bambu bertabrakan dengan batu batu besar yang membentuk jeram jeram ini. Agak takut juga pegang kamera di atas rakit ini.

Awas Kecebur
Balanting paring adalah nama lain dari bamboo rafting ini. Dalam bahasa Banjar, lanting paring digunakan untuk menyebut sebuah rakit bambu, yang terdiri dari 16-20 batang bambu dengan panjang lebih dari 6 meter. Batang-batang bambu itu disatukan secara sejajar dan diikat dengan tali. Rakit bambu ini bisa dinaiki sampai 5 orang penumpang ditambah seorang “Joki”, yang berfungsi mengendalikan arah dan tujuan rakit bambu itu.

Bebatuan Sungai Amandit
Joki yang berdiri di bagian depan rakit memegang peranan sangat penting. Sambil memegang galah sepanjang kurang lebih 3 meter, sang Joki berusaha keras mengendalikan laju rakit agar bisa melintasi jeram dengan selamat. Terkadang joki sampai harus melompat ke sungai agar ujung rakit bisa bermanuver di sela-sela batu. Bahkan terkadang pula joki seperti terangkat naik karena menekan ujung galah yang terkena batu.
Bukan hanya jeram yang bisa kita nikmati disini tetapi juga beragam pemandangan yang terhampar di sepanjang sungai amandit. Bukit bukit yang tersebar menambah menarik perjalanan kami di atas rakit, kami juga bisa melihat aktifitas warga dayak meratus di perkampungan pinggir sungai. Ataupun ladang berpindah khas suku dayak. Di samping itu kami pun bisa melihat beragam vegetasi yang tumbuh di sepanjang aliran Sungai Amandit yang membelah hutan hujan borneo. Ada yang menarik dari daerah ini yaitu adanya Anggrek khas Kalimantan yang sayangnya belum sempat kami saksikan saat itu. 25 % dari semua jenis anggrek yang ada bisa kita temukan di daerah Loksado ini terutama di pegunungan meratus.

Joki Suku Dayak Meratus
Ditengah menyusuri sungai amandit ini kami juga 2 kali beristirahat. Karena panjangnya medan dan banyaknya jeram yang terhampar. Melihat joki yang mulai tampak kepayahan kami meminta untuk istirahat sembari foto foto dan membuka bekal jajanan yang kami bawa. Disetiap istirahat ini para joki selalu mengecek kondisi rakit rakit kami, dan ternyata kondisi rakit saya ada beberapa bilah bambu yang pecah. Setelah saya Tanya karena satu rakit ini menggunakan bambu yang sudah terlalu tua.

3 jam kami arungi sungai amandit ini hingga akhirnya sampai di dermaga pemberhentian. Wajah wajah senang tampak dari semua keluargaku tapi pasti lelah juga yang mereka rasakan. Apalagi wajah dan lenganku yang tampak terbakar sinar matahari selama 3 jam, aku lupa tak membawa sunblock..hahahaha.

Belajar Jadi Joki

Setelah berbasah basah ria sih pengennya langsung bilas badan dan ganti pakaian kering. Eh ternyata di spot terakhir ini tidak ada toilet untuk berganti pakaian, kamipun bingung dibuatnya. Inilah satu dari beberapa kekurangan di wisata bamboo rafting Loksado. Kalo boleh saya bicarakan disini ada beberapa nilai minus dari rafting ini, yahh semoga bisa dibaca oleh penduduk sekitar maupun pemerintah setempat.
  1. Sungai amandit di beberapa sudut tampak kotor dengan sampah entah dari pengunjung atau penduduk tapi dari sini saya berharap semua orang yang terlibat di loksado bisa lebih untuk menghargai alam.
  2. Tidak adanya tempat istirahat di tengah perjalanan yang representatif. Hal ini dirasa perlu karena jarak tempuh yang lumayan panjang dan melelahkan.
  3. Starting point rafting yang kurang tertata rapid an kotor.
  4. Tidak adanya tempat bilas dan toilet di tempat pemberhentian.
  5. Tidak adanya transportasi jemputan di tempat pemberhentian untuk kembali ke starting point. Jika kita tidak membawa sopir akan sangat repot sekali dengan hal ini.
Menurut saya semua permasalahan diatas itu bisa diatasi jika ada suatu operator professional yang mengelola wisata rafting ini bisa contohlah tempat rafting di Pulau jawa yang sebagian besar sudah tertata rapi. Masalahnya saat ini masih dikelola masyarakat sekitar dan rafting pun dikelola dengan perorangan pemilik rakit, inilah kekurangannya. Semua point diatas sebenarnya telah aku sampaikan ke saudara selaku pimpinan dinas pariwisata disana, dan beliau bertekad untuk memperbaiki kekurangan itu dan lebih mempromosikan Loksado. Semoga….

Lanjut cerita lagi, akhirnya dengan terpaksa kami duduk di mobil dengan badan basah beralas plastic agar jok mobil tidak ikut basah. Tujuan kami selanjutnya adalah Tanuhi, yaitu tempat wisata air panas dengan beberapa cottage yang bisa disewa. Untung kami datang dengan kepala pariwisata daerah sini, maka dari itu kami bisa bebas masuk cottage untuk sekedar mandi dan berganti pakaian kering. Cottage disini bisa kalian sewa permalam dengan rate 250/k kapasitas 2 orang, cukup recommended bagi kalian yang ingin menikmati malam di pelosok borneo.

Cottage di Wisata Air Panas Tanuhi
Setelah badan bersih dan kering kami pun segera meluncur turun ke kandangan lalu kembali ke Banjarmasin. Di dalam perjalanan aku pun bergumam, semoga bumi Kalimantan ini tetap hijau dan dunia tetap bisa merasakan oksigen yang dihasilkan dari pulau ini. Semoga borneo tetaplah menjadi permata hijau khatulistiwa, aminnnn. 


You Might Also Like

4 komentar

  1. wiiih. makasih infonya, gan. rafting emg nyenengin hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mas, terima kasih sudah meninggalkan jejak dimari :D

      Delete
  2. Mas, ada kontak yang bisa dihubungi kah kalau pengen nyoba rafting ini? Terimakasih banyak ya dan salam kenal ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf mbak, kontaknya sudah hilang..mungkin bisa datang langsung ke Loksadonya untuk mencoba Balanting Paring ini :)

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form