Gunung Arjuno, Mencoba Jalur Purwosari Yang Penuh Misteri

8/07/2018Pradikta Kusuma


Arjuno Welirang begitu aku mendengar namanya gambaran tentang kegagahannya selalu muncul di benak. Begitu tinggi menjulang diatas 3336 mdpl untuk sang Arjuno, dan 3156 mdpl untuk welirang. Penampakan 2 gunung ini pun sering muncul ketika pagi hari dan jelas terlihat dari kotaku menetap yaitu Surabaya. Setiap menatapnya, kenangan kenagan indah disana seakan kembali terbuka. Bagaimana indahnya Lembah kidang, mistisnya Hutan Lali Jiwo, hingga kepulan asap kawah welirang yang memberikan manfaat dari belerangnya. Dan dalam hati pun aku berkata aku pernah berdiri di atas kedua puncak disana.

Walaupun sudah pernah menginjakkan kaki dikedua puncak itu namun keinginan untuk kembali selalu ada dalam hati. Bukan untuk sekedar pembuktian diri namun ada suatu perasaan yang tak bisa dijelaskan kenapa aku selalu ingin menjejakkan kaki dan menapaki lereng lereng dari Gunung Arjuno Welirang.

Hingga pada akhirnya kesempatan itu kembali datang ketika kawan kawanku dari ibukota ingin merasakan dan menaklukkan kegagahan Arjuno. Rasa antusias kembali membuncah hingga aku menyarankan untuk melakukan pendakian melalui gerbang Purwosari. Sedikit berbeda dari jalur yang biasa aku lalui yaitu dari Jalur Tretes.

Alasanku untuk mencoba Jalur Purwosari ini adalah dengan banyaknya peninggalan peninggalan kerajaan Majapahit pada masa lampau. Banyak sekali tersebar candi candi, petilasan disepanjang jalur, sumber air pun lumayan banyak ditemui. Jadi sembari kita mendaki kita setidaknya bisa sedikit melihat dan mengenal peninggalan peninggalan dari para pendahulu kita.

Basecamp

Basecamp pendakian Gunung Arjuno via Purwosari ini berada di Desa Tambakwatu. Untuk yang pertama kali datang lebih mudah dengan mengetikkan “Parkir VIP Gunung Arjuno” pada gadget masing masing dan tinggal ikuti arah saja sesuai petunjuk map. Dari jalan raya Surabaya - malang sekitar 30 menit perjalanan menuju titik basecamp ini.


Full Team
“Mas, mbak.. kalau bisa barang barang atau baju yang berwarna merah tolong dititipkan disini saja ya..” Ucap Pak Pardi penjaga pos registrasi.

“Iya pak sudah kami tinggal semua di mobil, aman” jawabku tersenyum

“Tapi… tas saya merah pak..” sahut Vero waswas

“Ohhh iku gak popo mbak, kan gak full merah ada warna warna lain”
“Lhooo ada aturan merahnya yaa….” Sahut Vero sambil tertawa

“Pokoknya yang dilarang itu Full merah mbak, merah darah gitu… kepercayaan digunung ini untuk menghindari celaka dan untuk menghormati saja”

“Jalan dengan jumlah ganjil pun sebenarnya dilarang mbak disini, tapi kalian pas ber 6 ini jadi aku pastikan aman diatas nanti”

“Aamiin,…..” sahut kami semua serempak.

Begitulah sedikit percakapan yang sudah menyiratkan betapa Gunung Arjuno ini masih sangat kental akan aroma kepercayaannya dan dipercayai turun temurun oleh semua warga yang berada di kaki kaki Gunung Arjuno dan Welirang.

Pos 1, Goa Ontoboego

Berjarak tempuh sekitar 60 menit dari Basecamp. Jalur untuk menuju kesini masih dapat dikatakan landai dengan tanjakan yang belum terlalu curam. Jalur pun sangat lebar dengan kiri kanan hutan pinus yang menjadi kanopi dari sengatan sinar matahari.

Begitu memasuki kawasan Goa Ontoboego hutan pinus yang ada semakin merapat hingga menimbulkan kesan adem dan asri. Sesekali bau dupa tercium dari beberapa sudut yang memang nampak digeletakkan beberapa sesaji dari peziarah penganut kepercayaan “Kejawen”.

Goa Ontoebogo ini sendiri pada sebuah cerukan bebatuan yang terletak tak jauh dari hutan pinus. Di depan gua tersebut terdapat sebuah pondok yang biasa digunakan oleh para pendaki dan peziarah untuk melepas penat. Sebuah cungkup dengan arsitektur Jawa tampak berdiri megah dengan altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup berukuran sekitar 6,5 × 6,5 meter.


Penamaan Goa ini pun dari kepercayaan masyarakat sekitar dari nama tokoh pewayangan bernama Sang Hyang Antaboga alias Sang Nagasesa. Sang Hyang anta boga berwujud seperti ular naga dan dikenal sebagai dewa penguasa dasar bumi. Ia mempunyai kemampuan menghidupkan orang mati yang kematiannya belum digariskan, karena ia memiliki air suci Tirta Amerta.

Nama Antaboga atau Anantaboga artinya (naga yang) kelokannya tidak mengenal batas. Kata ‘an’ atau artinya tidak; kata ‘anta’ artinya batas; sedangkan kata ‘boga’ atau ‘bhoga’ atinya kelokan. Yang kelokannya tidak mengenal batas, maksudnya adalah ular naga yang besarnya luar biasa.

Sebuah patung naga pun dibangun oleh para pengurus kawasan ini tepat disamping Hutan Pinus di pintu masuk. Patung ini mungkin sebagai gambaran bagaimana perwujudan dari Sang Naga.

Pos 2, Tampuono & Sendang Dewi Kunti

“Pelan pelan saja, kalau gak kuat ya istirahat dulu” ucap Pak Katijan seorang peziarah asal Surabaya yang bertemu di Pos 1 dan kini berjalan bersama menuju Pos 2.

“Iyaa pak, kayaknya badan kaget karena jarang Olahraga” Sahut Septi sembari terengah engah kelelahan.

Usia dari Pak Katijan aku perkirakan sudah lebih dari 50 tahun namun dari raut wajahnya tak sedikitpun aku temui gestur kelelahan dalam dirinya. Badan kurus, tanpa jaket, sandal jepit, tas punggung kecil dan tanpa air minum tapi jika sudah berjalan kami ber enam yang jauh masih muda dengan mudahnya ditinggal oleh Pak Katijan.

Beberapa kali dia pun berhenti untuk menunggu kita yang jauh tertinggal dibelakang. “Gimana masih kuat?” sambilnya melemparkan senyumannya yang meneduhkan.

“Bapak kok kuat sekali sihh jalannya?”

“Sudah biasa kesini kok, dari tahun 80 aku sering bolak balik kesini, nanti istirahat dipondokan saya di Pos Tampuono yaa” Celoteh sang Bapak kemudian kembali melesat menapaki jalur pendakian yang mulai menanjak curam.


Jalur setelah Pos 1
90 menit sudah berjalan akhirnya kami tiba di Pos 2 bernama Tampuono. Keadaan di pos ini lebih semarak dibandingkan Pos 1 tadi. Karena banyaknya pondokan para peziarah disini. Beberapa warung pun nampak mudah ditemui. Dan tiba tiba hujan deras pun jatuh akhirnya kami pun tunggang langgang masuk ke salah satu warung yang ada.

Tampuono ini sangat terkenal bagi para pencari ketenangan dan keheningan Gunung Arjuno. Ada beberapa petilasan juga disini menjadikan tampuono salah satu pusat aktifitas para peziarah. Petilasan yang pertama yakni petilasan Eyang Abiyasa dengan jalan setapak yang ditata rapi dengan semen serta di kiri kanan jalan dibentuk taman – taman yang sangat rapi dan bersih. Nama Abiyasa merupakan tokoh pewayangan bergelar begawan yang dikenal sakti. Dalam cerita pewayangan, Ia dipercaya sebagai orang yang menulis riwayat keluarga Barata.

Tak jauh dari petilasan Eyang Abiyasa terdapat pula sendang Dewi Kunthi yang konon jika airnya diminum dapat memberikan keluhuran jiwa serta selalu ingat Hyang Kuasa. Di sini juga terdapat beberapa pondokan. Dewi Kunthi dalam dunia pewayangan merupakan  sosok perempuan cantik yang merupakan ibu dari pandawa lima.



Dan tepat di depan warung yang kami kunjungi terdapat petilasan Eyang Sekutrem.  Lokasi petilasan ini dinaungi oleh pohon – pohon besar sehingga terkesan wingit dan angker. Bangunannya berukuran 2,5m x 2m berbahan beton dengan lantai dan lapisan dinding yang terbuat dari keramik. Konon, pengunjung yang ingin mendapatkan berkah, harus singgah di petilasan ini lebih dulu. Di dalam petilasan, ada sebuah arca yang terbuat dari batu andezit dengan tinggi sekitar 70 cm.

Di kawasan Tampuono, kita akan merasakan susasana sejuk dan hawa dingin yang menyentuh kulit. Suasana siang terasa pagi lantaran terik mentari terhimpit rerimbunan daun pohon yang menghembuskan angin sepoi. Kita bisa melepaskan penat sepuasnya sebelum kembali berjuang melewati jalur jalur untuk mencapai Puncak Gunung Arjuno.


Pos 3, Petilasan Eyang Sakri


15 menit berjalan dari Pos 2 kita dapat menemui Pos 3 atau petilasan Eyang Sakri. Pos yang mempunyai sebuah halaman luas dengan sebuah bangunan rumah yang terkunci rapat. Dapat aku perkirakan jika di dalamnya mungkin sebuah makam atau arca dari Eyang Sakri itu sendiri. Karena memang perjalanan yang masih singkat kami pun melanjutkan kembali pendakian.


Pos 4, Petilasan Eyang Semar

Sinar matahari mulai temaram ketika langkah kami tiba di Pos 4 atau petilasan Eyang Semar. Disini terdapat banyak pondokan persis seperti pada pos 2 Tampuono dibawah sana. Namun yang sedikit berbeda pondokan disini berbentuk semi permanen dengan atas dan dinding dari ranting dan alang alang saja. Namun cukup membuat hangat bagi para peziarah yang bermalam di tempat ini.

“Sudah berapa lama disini pak?” tanyaku pada salah seorang peziarah yang pondoknya kami singgahi untuk beristirahat.

“Sudah 2 minggu lebih disini mas” sahutnya sembari tersenyum
“Wahh lama sekali pak, disini gitu ngapain saja pak?”

“Yaa menyepi, puasa, sambil berdoa.. memang rata rata orang kesini lebih dari seminggu bahkan ada yang tahunan juga” sahutnya kembali

Arca Eyang Sakri (Sumber)
Aku sedikit tak bisa mencerna kata tahunan yang ia maksud. Akhirnya pertanyaan dan pertanyaan kembali meluncur. Namun kembali jawaban jawaban yang tak masuk akal untuk diterima. Bagaimana orang orang peziarah ini bisa hidup lama di ketinggian, tanpa perlengkapan mumpuni, bekal pun hanya sedikit. Mungkin orang orang ini mempunyai dimensi yang berbeda pikirku. Biarlah asal semua yang ada disini tetap terjaga dan lestari seperti sedia kala, apalagi ada para peziarah yang menganggap tempat ini sakral, pastinya mereka akan menjaga tempat ini juga.

Konon katanya juga pos 4 ini merupakan tempat “Moksa” atau menghilangnya Eyang Semar yang merupakan penasehat kepercayaan Raden Arjuno. Sebuah arca berselimut kain putih yang menghadap timur yang dipercaya sebagai perwujudan Eyang Semar itu sendiri.


Pos 5, Makutoromo


Selepas Pos 4 jalanan kembali menanjak tajam dengan kemiringan yang curam. 30 – 45 menit perjalanan yang harus ditempuh hingga kami tiba di sebuah pelataran luas dengan sebuah punden berundak yang berada tepat di tengah tengah. Kibaran bendera berwarna hijau nampak menghiasi punden ini. sesaji dan dupa pun berderet mengelilingi punden yang nampak sangat keramat ini. Konon di punden inilah dahulu Dewa wisnu sering melakukan pertapaan. Arca arca pun sangat mudah ditemui di sekitaran.

Di pos 5 ini juga merupakan pos paling ideal untuk mendirikan camp sebelum mencapai Puncak Arjuno. Jarak dari puncak masih cukup jauh tapi adanya sumber air dan toilet bersih menjadi nilai tambah untuk camp di Pos 5 ini. Bagi yang tak membawa tenda pun sebenarnya terdapat banyak pondokan berukuran besar yang mampu menampung puluhan pendaki.



Disaat langit cerah seperti pada waktu itu. Bintang bintang pun menampakkan wujudnya dengan sangat indah. Walaupun di Tampuono banyak berdiri pepohonan besar nyatanya di beberapa sudut bintang bintang malah terlihat makin mempesona. Walaupun udara sangat dingin kala itu, bau dupa pun semerbak tapi tekad tak ingin melewatkan momen malam yang indah ini yang membuat aku bertahan untuk mengambil beberapa foto malam di Tampuono.


Pos 6, Candi Sepilar

Tepat pukul 03.00 alarm berbunyi begitu kencangnya dari handphone. Walaupun malas tapi kami memang harus bangun untuk bersiap siap melakukan “Summit Attack” ke Puncak Arjuno. Karena memang menurut info jarak dari Pos 5 menuju puncak masih sangat jauh sekitar 4 – 5 jam lagi. Maka dari itu kami harus bersiap dari semenjak sebelum subuh.

Tepat pukul 04.00 kami pun mulai melangkahkan kaki meninggalkan pos 5. Dan sekitar 5 menit berselang kami sudah memasuki areal Candi Sepilar. 3 buah arca dengan wajah yang menyeramkan menyambut kedatangan kami. Tepat di tengahnya terdapat sebuah jalur menanjak, dengan bebatuan yang tertata rapi. Kami pun terus melangkah sembari aku hitung arca yang berada di kiri dan kanan jalur. Tepat ada 9 Arca yang mengapit jalur pendakian.


9 Patung penjaga "Pandawa Lima"
Dan konon menurut beberapa sumber arca berjumlah 9 ini merupakan sosok yang menjaga daerah Sepilar ini, dan tepat di batas jalur bebatuan ini terdapat sebuah deretan patung yang melambangkan Pandawa Lima “Yudistira, Bima dan Arjuna” sedangkan “Nakula dan Sadewa” telah hilang diambil para pencuri.

Melangkah kembali Candi Sepilar pun menampakkan wujudnya diantara keheningan malam. Terbuat dari bebatuan andesit dan nampak cukup terawat baik. Aroma dupa pun kembali semerbak dimana mana. Kami pun melanjutkan langkah, kembali menapaki setapak kecil dengan Puncak Arjuno tujuan kita sebenarnya.


Pos 7, Jawa Dwipa


“Lihat kebelakang sana…bagus bangett” Teriakku pada kawan kawan yang ada di belakang.

“Wahhh iya keren bangettt…!!!”

Kami tiba di Jawa Dwipa tepat beriringan dengan sinar matahari yang mulai muncul di ufuk timur. Semburat cahaya jingga berpadu dengan sisa sisa kegelapan menjadikan sebuah perpaduan siluet yang indah. Gagahnya gunung Semeru di seberang sana semakin membuat pagi kala itu sungguh sempurna. Tak lupa kami bersyukur atas nikmat ini semua. Di Jawa Dwipa ini juga tempat yang cocok untuk camp walaupun tak ada sumber air disini tetapi jarak ke Puncak sudah semakin dekat.


Jalur setelah Jawa Dwipa
Selepas Pos 7 vegetasi mulai merapat dengan hutan pinus yang rindang. Sinar matahari seakan tertahan dengan dedaunan yang ada menjadikan udara semakin sejuk dan dingin tapi jalur yang ada semakin menjadi jadi. Dari kejauhan puncak ogal agil yang berwujud runcing tajam sudah dapat kita lihat.

Sekilas nampak dekat dan mudah untuk digapai namun kenyataannya hingga pukul sepuluh siang pun kami tetap berada di dalam hutan pinus yang seakan tak berujung. Sedikit demi sedikit melangkah namun apa daya tenaga yang semakin terkuras memaksa kaki untuk berhenti. Apalagi kami belum mengisi perut semenjak malam tadi.


Plawangan

Jalur tiba tiba menjadi landai menyusuri pinggiran jurang dan suasana pun menjadi panas karena jalur sudah tak berada di dalam lingkup hutan pinus lagi. Pohon pohon cantigi dengan padang rerumputan mulai menghiasi. Terdapat juga sebuah pertigaan dengan jalur kekiri yang mengarah ke Lawang.

Aku sempat berhenti sebentar dan mengamati jalur yang menuju kebawah itu. Nampak sangat terjal, rindang dan mistis karena jalur langsung masuk ke dalam “Alas Lali Jiwo” yang terkenal itu. Dan dari pertigaan mengarah ke kanan jalur kembali menanjak dengan tajam.


Percabangan Menuju Alas Lali Jiwo
“Mungkin ini yang orang sebut sebagai plawangan mungkin ya?” tanyaku kepada kawan yang lain.

“Hmmm..mungkin…yuk jalan lagi diatas sana kita buka bekal terus makan dulu”

“Iyaa laper banget nihhh”

Jam tangan sudah menunjukkan pukul sebelas siang namun udara sangat sangat dingin ketika kami mulai makan dibawah pohon cantigi yang lumayan rindang. Tangan sampai kebas kedinginan. Makan pun terasa kurang nikmat mungkin karena badan yang terlalu lelah, perut pun hanya terisi sedikit saja. Tapi sudah cukup untuk mengisi tenaga ke puncak.
“Seumur umur naik gunung baru kayak begini nih ke puncaknya, jauhh benerr” ujar Kang Asep pelan.

“Ahh masa sih mas?” Ujarku kaget mendengar perkataan dari pendaki senior yang sudah khatam 6 gunung dari 7 puncak tertinggi di Indonesia (Kecuali Cartenz), dalam hati aku pun tertawa.

Tapi memang Gunung Arjuno “Luar Biasaaa”.

Kang Asep Di Plawangan Menuju Puncak Arjuno


Puncak Arjuno (Ogal Agil)

Tepat pukul 12.00 siang dan dengan sisa sisa tenaga kami akhirnya sampai di Puncak Arjuno yang biasa orang sebut Puncak Ogal Agil karena batu batu di puncak ini jika dilihat dari bawah seperti bergoyang (Ogal Agil) jika tertiup angin. Bongkahan batu batu berbagai ukuran tersebar di Puncak Arjuno. Melangkahkan kaki pun harus tetap berhati hati jika tak ingin terpeselet dan terjatuh.

Sesampainya di puncak aku tak langsung histeris untuk mengabadikan momen melainkan mencari tempat untuk beristirahat sejenak, karena memang kali ini aku betul betul kepayahan. Kebetulan ada satu sudut dimana bongkahan batu membentuk seperti celah sempit yang dapat digunakan untuk berteduh dan beristirahat. Sekitar 5 menit aku memejamkan mata namun udara dingin membuat istirahatku sungguh tak nyaman. “Daripada kedinginan disini mending foto foto saja sekarang dan segera turun agar tak kemalaman sampai di camp” pikirku.




Cuaca saat itu sedang sangat terik namun tak terasa panas sedikitpun karena udara yang cukup dingin saat berada di Puncak. Deretan puncak puncak lain terlihat begitu indah, mulai Gunung Kembar 1, Kembar 2, dan Puncak Welirang yang selalu mengeluarkan asap belerangnya dan jauh diseberang nampak gagahnya Mahameru yang berselimut awan. Melihat kebawah nampak hijaunya Lembah Kidang yang berada diantara rimbunya hutan pinus. Sungguh pemandangan yang memanjakan mata dan ini pun menjadi salah satu alasan kenapa aku selalu kembali dan rela bersusah payah untuk mendaki gunung.

Di Puncak Arjuno ini pun terdapat sebuah mitos yaitu jangan sekali kali duduk di batu berbentuk kursi kalau tak ingin celaka. Karena batu ini merupakan singgasana dari penguasa Gunung Arjuno. Percaya tidak percaya sebenarnya tapi demi menghormati semua yang ada aku pun mengindahkan aturan dari kepercayaan masyarakat setempat.



Dibalik pemandangannya yang aduhai dan cerita mitosnya puncak Arjuno pun tak lepas dari sesuatu yang membuat miris hati. Batu Batu di puncak Arjuno ini penuh dengan coretan coretan vandalisme dari para pendaki yang tak bertanggung jawab. Dan sampai sekarang akal sehatku pun masih belum bisa berpikir.

“Apa yang mereka banggakan dengan tulisan tulisan seperti ini?”

“Kenapa mereka sengaja membawa pilox dan cat demi vandalisme di tempat seindah ini?”

Sebagian merusak namun sebagian lagi ada yang peduli. Seperti saat itu ada beberapa sekumpulan pendaki yang aku temui di Puncak Arjuno sengaja membawa perlengkapan untuk menghilangkan vandalisme ini. Mulai dari tiner, hingga tabung gas untuk membakar cat cat yang menempel di Batu.

“Bisa hilang ini mas tapi harus sabar dan pelan pelan, karena vandalisme ini menggunakan cat yang cukup tebal dan menempel di Batu Andesit” ujar salah satu pimpinan pendaki yang aku jumpai disana.

“Butuh berhari hari ini mas untuk menghilangkan semua, tapi saat ini kami lakukan semampunya saja dulu, lumayan untuk dicicil dulu” sambungnya berkata.

“Iya mas asal enggak ditambahin lagi sama orang orang gila yang bawa bawa cat kepuncak gunung” sahutku sambil sedikit emosi.

“Iyaa semoga kedepan para pendaki lebih sadar akan kelestarian lingkungan mas”

Dan banyak pelajaran yang kami dapatkan ketika mendaki Gunung Arjuno kali ini. Terutama tentang perjuangan, cerita cerita masa lalu dan sejarah tentang jalur pendakian, hingga pentingnya kesadaran akan menjaga kelesetarian alam. Dan semoga apa yang kami jalani saat ini membawa hikmah dan manfaat bagi masing masing pribadi.

Dan, kini saatnya kami harus kembali turun.

Sampai jumpa lagi Arjuno, terima kasih atas semuanya.



Catatan Pendakian


Basecamp – Pos 1 (Goa Ontoboego) : 1 Jam
Pos 1 (Goa Ontoboego) – Pos 2 (Tampuono) : 1,5 Jam
Pos 2 (Tampuono) – Pos 3 (Eyang Sakri) : 15 Menit
Pos 3 (Eyang Sakri) – Pos 4 (Eyang Semar) : 1,5 Jam
Pos 4 (Eyang Semar) – Pos 5 (Makhutoromo) : 45 Menit, sumber air terakhir ada di Pos 5
Pos 5 (Makhutoromo) – Pos 6 (Candi Sepilar) : 10 Menit
Pos 6 (Candi Sepilar) – Pos 7 (Jawa Dipa) : 2 Jam
Pos 7 (Jawa Dipa) – Puncak Arjuno : 4 – 6 Jam

Pencapaian waktu tiap pribadi mungkin berbeda tergantung dari kondisi fisik masing masing


You Might Also Like

1 komentar

  1. Segera bergabung di HASHTAG OPTION, Platform Trading FOREX berbasis di Indonesia.
    PILIHAN TRADER #1
    - Tanpa Komisi dan Bebas Biaya Admin.
    - Sistem Edukasi Professional
    - Trading di peralatan apa pun
    - Ada banyak alat analisis
    - Sistem penarikan yang mudah dan dipercaya
    - Transaksi Deposit dan Withdrawal TERCEPAT


    Jika anda bingung mencari broker yang aman dan tercepat, anda bisa bergabung bersama kami.
    Yukk!!! Segera bergabung di Hashtag Option trading lebih mudah dan rasakan pengalaman trading yang light.
    Nikmati payout hingga 80% dan Bonus Depo pertama 10%** T&C Applied dengan minimal depo 50.000,- bebas biaya admin
    Proses deposit via transfer bank lokal yang cepat dan withdrawal dengan metode yang sama
    Anda juga dapat bonus Referral 1% dari profit investasi tanpa turnover......

    Kunjungi website kami di www.hashtagoption.com Rasakan pengalaman trading yang luar biasa!!!

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form