Travelling

Dataran Tinggi Dieng - Sebuah Senyum Dari Para Dewa

2/13/2015Pradikta Kusuma


Aku tampaknya tak ingin pergi dari tempat ini, agak berat untuk segera beranjak melangkahkan kaki untuk menjauh. Sudah terasa sangat betah dan tak pernah lelah untuk menjelajah kawasan yang sering berselimut kabut, tanpa hiruk pikuk layaknya kota besar, sebuah tempat dimana aku menemukan kedamaian, keindahan, dan kehangatan budayanya. Inilah sebuah tempat dimana aku selalu ingin untuk kembali “Dieng”.

Pagi itu di terminal Mendolo untuk pertama kalinya aku datang di Wonosobo. Kesan pertama yang aku dapat adalah kota ini kecil namun sejuk. Gunung Sindoro Nampak samar samar menampakkan kegagahannya di balik rerimbunan pohon. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa pasti banyak keindahan yang tersimpan di daerah ini.

Berbeda dengan wisatawan kebanyakan yang membawa mobil pribadi atau mengikuti jadwal wisata dari agen travel, kami menyewa sebuah mini bus yang terdapat di Terminal Mendolo. Sang Sopir bernama Pak Fasol, beliau memiliki trayek bis yang melalui Dataran Tinggi Dieng, kami charter untuk berkeliling Dieng dalam satu hari.


Terminal Mendolo Wonosobo

Mini bus pun melaju santai melewati jalan mulus menanjak menuju Dieng sebuah desa tertinggi di Pulau Jawa. Hening dan sepi di tengah perjalanan itu mungkin kami semua kelelahan seusai perjalanan panjang dari Ibukota Jakarta, namun semua itu seakan hilang setelah gurauan dan candaan Pak Fasol keluar. Keceriaan pun langsung terhampar dari wajah kawan kawan saya yang lain. Bahkan Pak Fasol pun berkelakar bak Travel Guide berpengalaman kala itu, menjelaskan semua tentang tempat wisata di kawasan Dieng. Hilang sudah kesan sopir bis garang dari beliau.

Setelah melewati gerbang masuk kawasan Dataran Tinggi Dieng, jalanan mulai menurun diantara kawasan perumahan penduduk. Sepanjang mata memandang bukit bukit di kiri kanan telah berubah menjadi ladang sayuran. Bus pun terus dipacu hingga tiba disebuah pelataran luas. Dikejauhan nampak kepulan asap yang membumbung diantara tanah gersang di perbukitan. Warnanya cukup kontras dengan hijau pepohonan yang terdapat disekitarnya. Ya inilah tujuan awal kami… Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang

Dataran Tinggi Dieng termasuk salah satu kawasan yang memiliki kawah terbanyak di Indonesia antara lain Kawah Sikidang, Kawah Sileri, Kawah Timbang, Kawah Sibanteng, Kawah Candradimuka dll. Memasuki kawasan kawah berjejer warung souvenir dan oleh oleh. Pedagang masker pun tampak menjajakan dagangannya, memang jika kita tidak terlalu tahan dengan bau belerang bisa membeli masker.


Kawah Sikidang Dari Kejauhan

kawah sikidang merupakan arti bahasa jawa yang berarti si kijang atau si Rusa dinamakan seperti itu dikarenakan air dari kawah ini meloncat loncat seakan seperti kijang yang sedang melompat. Kita juga harus berhati hati ketika mendekati kawasan kawah, bau belerang yang sangat menyengat, asap belerang yang panas.  Kawah ini merupakan dapur magma yang masih aktif maka dari itu dituntuk kewaspadaan kita selalu.


Landscape Menarik

Seorang wanita setengah baya berdiri di tengah padang tandus itu dengan mengenakan caping dan penutup hidung. Sebuah karung terhampar dengan bongkahan-bongkahan belerang ditata rapi diatasnya. Batu-batu itu dijual kepada para pengunjung sebagai souvenir khas Kawah Sikidang. 

Kawah ini memang masih menjadi surga bagi para penduduk yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan pariwisata. Bagi kalian yang berkunjung walaupun sedikit tidak perlu alangkah baiknya jika kita membeli souvenir yang mereka jajakan, karena dari kita inilah kehidupan ekonomi masyarakat sekitar bisa berdenyut.


Belerang Untuk Pengobatan Tradisional

Ada banyak sekali atraksi alam, budaya dan kuliner yang dapat kita nikmati di Dataran Tinggi Dieng  ini, aku cukup beruntung dapat menikmati beberapa keindahan yang ditawarkan dari desa tertinggi di pulau jawa ini.

Telaga Warna

Ditembuh hanya 5 menit naik kendaraan dari Kawah Sikidang, kita akan bertemu gerbang masuk kawasan telaga warna. Kita diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar 2 ribu rupiah untuk menikmati nuansa alam di telaga warna, sungguh harga yang sangat sangat murah.


Telaga Warna
Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Memasuki kawasan telaga kita langsung disambut dengan air berwarna hijau tosca, Romantis mistis itulah kata yang tepat untuk menggambarkan nuansa disini, udara dingin menyelimuti seiring dengan datangnya kabut, benar benar nuansa yang menyenangkan.



Kita dapat menyusuri tepian telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya dan di antara rimbunnya pepohonan, Anda bisa menyaksikan keindahan telaga berwarna-warni ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga.



Tidak jauh dari telaga warna dan hanya bersebelahan terdapat telaga cantik lainnya yatiu Telaga Pengilon. Telaga ini dapat digunakan untuk bercermin karena airnya yang jernih. Penduduk setempat menyebutkan bahwa danau ini bisa mengetahui isi hati manusia. Mungkin kalian penasaran, mengapa tidak mencoba datang dan lihat rupa wajah kalain di air telaga ini.

Candi Arjuna

Eksotisme peradaban jaman kerajaan bercampur dengan suhu dingin pegunungan merupakan perpaduan sempurna yang akan kita temukan jika kita berkunjung ke Komplek Candi Arjuna Dieng. Candi yang telah berdiri menantang dingin pegunungan ini telah berdiri sejak abad ke 7. Candi yang berada di ketinggian 2093 mdpl ini merupakan wisata budaya dan alam sekaligus. Untuk memasuki kawasan candi kita tidak akan ditarik tiket kembali jika kita telah mengunjungi kawah Sikidang karena masih dalam 1 payung pengelola.

Candi Arjuna Diantara Kabut

Setelah gerbang masuk kami disambut dengan hembusan dingin kabut yang melintas, sekali suasana romantis mistis merasuki diri. Suasana yang teduh dan dingin di siang itu namun sayang pemandangan pegunungan yang biasanya menjadi latar candi sejenak hilang tertutup kabut. Melangkahkan kaki kembali kita akan disambut dengan candi candi yang  seolah tak terpengaruh segala perubahan cuaca dan musim selama ribuan tahun lamanya, beberapa candi yang berada dalam satu kompleks itu tetap kokoh  berdiri.

Gunung Prau

Berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng kurang lengkap rasanya jika tak mengunjungi tempat tertingginya. Melepas senja dan menyambut sinar sang fajar dari ketinggian. Kali ini yang menjadi pilihan adalah Gunung Prau. Sebuah gunung yang memanjang dan menyajikan sejuta pesonanya.

Kami memulai perjalanan dari desa Patak Banteng. Menyusuri bukit bukit diantara perkebunan warga, bertarung dengan debu musim kemarau, menahan serbuan kabut yang tiba tiba datang, hingga merayap di lereng dengan elevasi 45 derajat. Semua itu rintangan dalam perjalanan yang harus kita tempuh sampai di puncak Gunung Prau.


Tampak Gunung Sindoro dan Sumbing

Gunung Prau sendiri merupakan tempat terbaik melihat sunrise selain di Bukit Sikunir. Kenapa aku katakan terbaik? Karena disini kita dapat menyaksikan matahari yang terbit dari ufuk cakrawala dan kita dapat memandang kegagahan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dan menurut penilaianku Gunung Prau ini tempat dengan pemandangan pagi terindah setelah Kawasan Gunung Bromo.


Malam Pun Sangat Indah

Kalimat kalimat sanjungan untuk tempat ini memang pantas disemat oleh Gunung Prau. karena dengan medan pendakian yang tak terlalu dibilang berat bahkan untuk pendaki pemula pun pasti akan sanggup hingga di puncak yang hanya berjarak 3 – 4 jam berjalan kaki dari Desa Patak Banteng atau Desa Dieng Kulon.


Bunga Warna Warni 

Gunung kembar Sindoro dan Sumbing pun pasti akan menyapa kita di antara dingin pagi di Puncak Prau, embun embun pagi yang menempel di rerumputan pun akan menambah semarak pagi itu. Sunguh tenang dan damai, Terima kasih Dieng terima kasih Indonesia. Suatu saat aku pasti akan berkunjung kembali.

Dalam perjalanan ke Dieng kali ini aku sempatkan mengambil beberapa footage video di setiap tempat yang aku anggap menarik. Dan terakhir aku satukan menjadi satu bingkai video pendek di bawah ini. Semoga dengan beberapa informasi dan video ini bisa menjadi referensi bagi kalian yang akan mengunjungi Dataran Tinggi Dieng.




Tulisan dalam post ini dipublikasikan dalam keperluan Lomba Blog Visit Jawa Tengah yang bertujuan untuk mengangkat potensi wisata dan budaya Jawa Tengah melalui posting blog.



You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form