Mountaineering Travelling

Terima Kasih Ranu Kumbolo

11/04/2014Pradikta Kusuma


Kriiinggggggggg…. Kriingggggggg

Ughhh, suara apa sih ini? kenapa ada alarm bunyi sih?

Aku kembali meringkuk di dalam sleeping bag tebalku.  Tiba – tiba ada bentakan…

Hoeee bangunnnnnnnnn brooo bangunnnnn, Ranu Kumbolo menyambut kita ….

Mataku pun langsung terbuka, Suara siapa sih barusan? Bergumam dengan nyawa belum terkumpul sepenuhnya. Kok aku ada di dalam tenda? Pake sleeping bag lagi? Udara ini kok dingin banget ya? nampaknya subuh telah menjelang dan Aku pun segera keluar dengan membuka resleting pintu tenda ini. Sembari mengucek ucek mata aku keluar dan mataku langsung terbelalak melihat suasana hening dan memukau ini. Tampak semburat matahari muncul di antara 2 bukit dan akupun langsung tersadar jika aku kembali ke Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo Di Pagi Hari
Akhirnya setelah sekian lama aku akhirnya kembali kesini, ya ke Ranu Kumbolo sebuat tempat yang membuat aku selalu ingin kembali. Seakan mendapat suntikan semangat baru aku segera menunaikan sholat subuh. Sholat diantara kemegahan alam seperti ini semakin bisa membuat aku dekat kepada Sang Pencipta. Suhu udara dingin menusuk diantara gerakan sholatku sungguh pengalaman terbaik beribadah. Setelah selesai semua aku segera melempar sarung ke dalam tenda dan melompat kegirangan seperti dahulu, ketika aku baru pertama kalinya melihat keindahan Ranu Kumbolo dengan mata kepala sendiri. Perasaan bahagia ini sama seperti pagi dahulu ketika aku bertemu dengan es es serut di tepian danau ini, pertemuan pertama dalam hidup dengan es langsung buatan alam, yaaa…hampir setahun lalu aku kesini namun kenangan indah itu selalu ada dan kembali aku ulang pagi ini. Kalimat kecil pun muncul dari mulutku yang dingin, aku cinta Ranu Kumbolo.

Dengan sedikit berlari lari kecil di pinggir Ranu aku langsung bergabung dengan kawan kawan yang lain. Tertawa bersama berbagi suka ria disini di tepian danau terindah di jawa ini kami bersama menyambut sebuah pagi. Pagi yang sempurna, selamat datang sang fajar. 


Ujung Dari Tanjakan Cinta

Tak pernah kehilangan pesonanya, ya itulah Ranu Kumbolo. Walaupun tempat ini semakin ramai saja beberapa tahun belakangan dengan berbagai kontroversi dari sebuah film karya anak negeri, tempat mendirikan tenda yang sudah tak seleluasa dahulu, tampak sampah yang semakin banyak di beberapa sudut bahkan di salah satu sudut danau ada sekelompok orang yang dengan bebasnya mandi dengan bersabun ria. Sungguh miris sebenarnya melihat itu semua itu. Namun saat ini tampaknya makin banyak juga yang sekumpulan orang yang makin peduli akan kelestarian ranu Kumbolo ini, secara berkala sering diadakan operasi bersih gunung dan penyuluhan terhadap para pendaki, menurut informasi juga saat ini jika kita tidak diperbolehkan mendirikan tenda tepat di pinggir danau, dan bahkan terpasang police line di tepian danau, Salut.


Camp Site Ranu Kumbolo
Tapi entah kenapa perasaan ingin kembali kesini selalu ada, entahlah mungkin tempat ini ada tarikan magis yang selalu membuat orang kembali kesana. Memang bagi para petualang berkunjung ke Ranu Kumbolo khususnya Gunung Semeru adalah suatu yang wajib, bagaimana tidak Semeru sendiri adalah gunung tertinggi dan merupakan gunung paling indah di Pulau Jawa. Sedangkan bagi Ranu Kumbolo sendiri saat ini bukan hanya pendaki saja yang bisa mengunjunginya bahkan para traveller kelas koper yang biasanya tidur di hotelpun kini rela tidur membeku di dalam tenda demi menikmati Ranu Kumbolo. Tapi yang jelas Ranu Kumbolo adalah salah satu surga dari sejuta surga yang ada di Indonesia.


Kumbolo Dari Sudut Lain
Matahari pagi itu semakin meninggi dan mulai menghilangkan kabut tipis dingin diatas permukaan Ranu Kumbolo. Lagi-lagi waktu memacunya dengan cepat, Ia seperti menyampaikan pesan-pesan dari para penikmat alam, pecinta alam atau apalah namanya “Jagalah warisan alam ini seperti kalian menjaga ibu kalian sendiri”. Pesan untuk semua penghuni semesta alam. Sinar matahari ini sebagai pelecut semangat kami dan penghangat dari semua tekad yang kami miliki.


Sejuta Pesona Kumbolo
Di tepian danau ini diantara batang batang pohon yang roboh aku bersama saudara dan kawan kawanku melihat sebuah lukisan alam, sebuah mahakarya sang pencipta. Air danau bak cermin raksasa yang memantulkan semua kecantikan dari bukit, rumput hijau, dan air jernih Ranu Kumbolo. Bukit bukit hijau yang mengelilingi Ranu ini semakin menambah keelokan, tampak dari jauh bak permadani hijau yang terhampar begitu saja diantara perbukitan. Kalau boleh saya katakan inilah spot danau terbaik di tanah Pulau Jawa, tak berlebihan tapi memang begitulah adanya. Saya yakin Tuhan mencintai negeri ini, karena Tuhan telah menurunkan tempat seindah ini di Indonesia.

Indahnya Negeri Ini

Warna Warni 

Aku memandang jauh, diseberang sana tampak warna warni dari berbagai tenda yang menancap tegak di tepian danau dan aku yakin mereka semua memiliki perasaan yang sama yaitu bahagia berada disini. Tetapi aku kurang begitu yakin dari sekian banyak orang disini mempunyai cara pandang yang sama akan alam. Akankah mereka menjaga keindahan ini? Ataukah mereka hanya sekedar menikmati dengan sikap acuh tak acuh terhadap kelestarian? Ahh biarlah kenapa aku bingung memikirkan hal itu, namun satu yang pasti aku berharap agar Ranu Kumbolo tetap lestari dan ia tetap bisa memberikan kebahagiaan kepada semua orang yang mengunjunginya sampai nanti sampai bumi nanti mati, satu rangkaian kata untukmu “Terima Kasih Ranu Kumbolo”.


Bebas Polio Woyoooooo

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Followers

Contact Form