Travelling

Majapahit - Traces Of Greatness (Part 2)

7/09/2013Pradikta Kusuma


Tulisan kedua merupakan lanjutan dari part 1 mengenai cerita perjalanan menyibak cerita dibalik nama besar Kerajaan Majapahit. Pada cerita kali ini saya akan menceritakan sedikit tentang perjalanan mengenang masa masa kejayaan Majapahit menguasai nusantara dengan menulusuri peninggalannya yang banyak tersebar di daerah Trowulan, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Disini saya tidak akan membahas secara detail mengenai sejarah berdiri maupun runtuhnya Kerajaan Majapahit melainkan saya mencoba memberikan referensi berwisata sambil lebih mengenal sejarah besar Majapahit. 

Peta Kekuasaan Majapahit (Nusantara)


Setelah kami mengunjungi Candi Brahu (Cerita lengkap bisa dilihat di Part 1), kami melanjutkan perjalanan kembali, berkendara 5 menit kami melihat situs candi gentong disebelah kiri jalan. Situs ini berada di tengah tengah persawahan yang mulai menghijau. Dinamakan Candi Gentong karena candi tersebut tertimbun oleh tanah menggunung yang akhirnya membentuk menyerupai Gentong (tempat air). Saat pertama kalo candi ini ditemukan kondisinya memang sudah berantakan. Dan sebenarnya tidak ada makna atau fenomena khusus yang terjadi pada candi ini.  Namun keunikan Candi Gentong tak hanya dari bentuknya yang terkesan berantakan saja. Dinaunginya candi oleh bangunan berbentuk pendopo dengan atap yang terbuat dari seng, Candi Gentong kini justru terlihat makin misterius saja. Tetapi karena waktu yang terbatas kami hanya sekilas melihat situs ini dari dalam kendaraan dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju Museum Trowulan. 

Candi Gentong Yang Rusak

-- Museum Trowulan --



Museum Trowulan ini adalah sebuah pusat pengumpulan benda benda bersejarah dari Kerajaan Majapajit yang telah ditemukan. Ribuan koleksi mulai dari mata uang, perhiasan lampu, alat musik, senjata perang, dan peralatan keagamaan, situs sumur purba, dan bahkan spesimen rumah purba atau pondasi rumah peninggalan majapahit terdapat di komplek museum ini. Trowulan diyakini sebagai pusat pemerintahan Majapahit, terbukti di areal museum ini terdapat situs pemukiman penduduk yang terbuat dari batu bata merah.


Situs Pemukiman Majapahit

Didepan halaman museum ada larangan tertulis di plakat yang harus diperhatikan pengunjung yaitu dilarang merusak, mengambil, mengubah bentuk/warna, memugar, merusak benda cagar budaya. Ini aturan yang benar benar harus kita taati, walaupun tanpa peringatan seperti ini pun kita seharusnya dengan kesadaran diri seharusnya tetap melestarikan peninggalan bersejarah yang terdapat di tempat ini dan dilain tempat.

Di dalam Museum 


Arca Garuda Wisnu Kencana


Arca Muka Hilang

Tetapi ada 1 hal yang sangat mengganjal dihati adalah dilarang memotret di areal museum ini, aturan yang sangat mengekang bagi para traveler seperti kami, dan dengan berat hati kamipun harus mematuhinya dengan konsekuensi tidak ada dokumentasi di Museum ini. Tapi tangan yang mulai gatal tidak bisa di kompromi, dan akhirnya kamipun dengan diam diam mengambil gambar walaupun hanya 3-5 gambar saja. 


Didepan Situs 


-- Kolam Segaran --

Persis di depan Museum Trowulan ini terdapat situs Kolam Segaran. Sekilas seperti waduk biasa jika kita melintas tetapi dibalik air yang tenang di waduk ini terdapat sebuah cerita pada masa Kerajaan Majapahit. Pada masa saya masih kecil dahulu sering mendengar cerita dari kakek dan ayah sebuah cerita tentang kolam seperti ini, Konon ada mitos atau legenda tentang kolam Segaran yang merupakan bangunan kolam kuno terluas di Indonesia ini, bahwa pada jaman  pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengadakan pesta besar karena kedatangan tamu besar dari Tiongkok, angkatan perang negeri Tartar. Raja menyuguhkan hidangan dengan perkakas dari emas, mulai nampan, piring sampai sendok. Para tamu puas dan menilai, Majapahit memang negara besar yang patur dihormati. Setelah pesta usai, sebelum para tamu pulang, Hayam Wuruk ingin memperlihatkan kekayaan Kerajaan yang terkenal sebagai negeri gemah ripah loh jinawi. Semua perkakas dari emas itu dibuang ke Kolam Segaran, tempat dimana pesta itu dilangsungkan. Dan di dalam kolam tersebut telah terpasang jarring yang berguna untuk mengangkat kembali perkakas yang telah dibuang tadi. Sebuah cerita yang menarik yang masih saya ingat hingga dewasa ini. 

Kolam Segaran


-- Pendopo Agung --



Tujuan Selanjutnya adalah Pendopo Agung, berjarak 10 menit berkendara dari Kolam Segaran. Bangunan ini dulunya berupa penemuan umpak-umpak besar yang diduga sisa dari sebuah bangunan pendapa agung, tempat raja Majapahit menemui tamu-tamu kerajaan, letaknya juga di dekat Kolam Segaran. Sekarang lokasi ini sudah dipugar oleh pihak Kodam V Brawijaya menjadi bangunan pendapa yang nyaman untuk dikunjungi.

Pendopo Agung


Mahapatih Gajah Mada

Konon dahulu kala ini adalah pusat dari Kerajaan Majapahit, di belakang pendapa ini terdapat sebuah batu miring yang konon tempat Mahapatih Gajah Mada mengikrarkan janji Sumpah Palapa. Yang berbunyi seperti ini, Teks lengkap Sumpah Palapa Gajah Mada, menurut kitab Pararaton.

“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, 
lamun kalah ring Gurun, ring Seran, 
Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, 
ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, 
samana isun amukti palapa.”

Isinya menyatakan bahwa Gajah Mada tidak akan berhenti berpuasa sampai seluruh kerajaan yang namanya disebut dalam sumpah itu dipersatukan dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Tempat Pembacaan Sumpah Palapa

Sungguh mulia keinginan Mahapatih Gajah Mada ini, ingin mempersatukan seluruh negeri ini. Kata Nusantara pun hingga saat ini masih dipergunakan. Dan bahkan Bendera kebangsaan kita Merah Putih ini adalah bendera dari Kerajaan Majapahit. pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Perak yang dibawa oleh tentara Pamelayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan perak=putih). Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai keraton merah – putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya diplester warna putih. Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah – putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk.


Berjalan kebelakang areal Pendopo kita akan menemui sebuah bangunan yang tertutup di tengah areal makam makam kuno. Disini adalah tempat dimana Raden Wijaya (Raja pertama Majapahit) sering melakukan meditasi dan hingga saat ini dijadikan sebuah petilasan. Tidak jauh dari petilasan ini juga merupakan tempat dimana dibacakannya Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya

Daftar Raja Raja Majapahit


-- Candi Tikus --

Candi terletak pada posisi paling jauh dari semua situs trowulan, Dinamakan tikus oleh penduduk setempat karena pada saat ditemukan dan dilakukan penggalian dahulu konon merupakan sarang tikus. Komplek candi terawat dengan baik dan bersih. Kita diwajibkan membayar tiket masuk seikhlasnya saja.


Candi Tikus



Menurut para ahli Candi Tikus merupakan pertitaan tempat mandi keluarga para raja, tapi dilain informasi ini hanyalah tempat penampungan air warga sebelum dialirkan ke kanal kanal purba pada masa itu, dan sekaligus tempat pemujaan karena bentuk candi yang berbentuk meru. Seluruh bangunan candi terbuat dari batu bata merah. Terdapat juga air mancur yang menempel memutar di dinding candi dan anak tangga untuk menuju ke bawah di pertitaan. 

Sudut Lain

Karena keterbatasan waktu kami akhirnya mengakhiri perjalanan ini, sebenarnya masih sangat banyak situs yang belum kami kunjungi diantaranya Candi Bajang Ratu, Minak Jinggo, Makam Raja Raja Troloyo dan lain lain. Tentu di lain waktu kami akan segera kembali dan merangkai cerita cerita yang terputus pada hari ini, Tetapi Sebagian tempat yang kami kunjungi telah sedikit dapat menyibak cerita akan Kebesaran Majapahit hingga Nusantara pada saat ini. Semoga sedikit cerita ini bisa menjadikan kita semua tidak melupakan sejarah dari sebuah Negeri yang besar ini. Sekian.

Ditulis Oleh : Pradikta Kusuma














You Might Also Like

3 komentar

  1. cedake kolam segaran ono warung penyetan wader uenak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyo mas ngerti, tapi durung sempet nyoba

      Delete
  2. Langsung pusing abis baca sejarah-sejarahan :(

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form