Mountaineering

Gunung Latimojong - Ku Jejakkan Kaki Di Rantemario (2)

6/16/2016Pradikta Kusuma




Sekarang sudah lewat setengah perjalanan untuk mewujudkan impian menjejakkan kaki di tanah tertinggi Sulawesi. Pagi tiba dengan sangat cepat, berbanding terbalik dengan langkah langkah kaki pada hari sebelumnya . Hingga akhirnya aku terbangun, terdiam dan teringat akan suatu hal, Puncak Latimojong masih jauh.


Jam di tangan menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sinar matahari nampak cerah dan menerobos diantara rimbun dedaunan di pos 5. Matahari semakin beranjak naik seiring dengan angan kami berdua antara aku dan Acen yang semakin menguap.

Bagaimana tidak niat untuk berdiri di Puncak Latimojong menyaksikan keindahan warna warni horizon pagi kini hanya berbekas menjadi impian yang masih belum bisa terwujud.

“Cen… bangun cen, jadi ngejar sunrise gak kita?” aku coba membangunkan acen yang nampaknya masih setengah sadar, walaupun alarm di hapenya sudah berbunyi dari sejam yang lalu.

“Diluar ujan kayaknya mas… pasti ga dapet sunrise kita” begitulah jawab acen dengan aksen yang nampaknya menyuruhku untuk melanjutkan tidur.

“Bener gak jadi nih?

“Iya , gak jadi aja deh” timpal Acen kembali.

Aku pun kembali masuk ke Sleeping bag mengatur posisi lalu melanjutkan tidur kembali.





***

Sejam berselang setelah semua membawa perbekalan dan peralatan yang dibutuhkan kami pun segera memulai langkah kembali untuk “Summit Attack”.

Suhu udara pagi sejuk mengiringi langkah kami, namun di kejauhan bukit tinggi yang aku lihat kemarin sore nampaknya sudah hilang tertutup kabut. Masih sepagi ini tapi kabut sudah menutupi puncak, “semoga perjalanan nanti cuaca mendukung langkah kami” gumamku pelan dalam hati.

Setapak kecil menyempit dan mulai menanjak hebat selepas pos 5. Semakin jauh kaki melangkah semakin berat pula medan pendakian yang menanti. Vegetasi pun nampaknya sudah semakin berubah yang tadinya hutan dipenuhi dengan pohon pohon besar kini berubah menjadi pohon pohon kecil dan tak begitu tinggi namun masih rimbun memayungi kepala kami.

Jarak dari pos 5 menuju ke pos 6 tak begitu jauh hanya sekitar 1 jam saja. Nampak raut muka ceria masih terpancar ketika kami semua tiba di Pos 6. Dataran lumayan luas yang nampak menyambut kami untuk beristirahat sembari mengumpulkan tenaga untuk menerjang trek selanjutnya yang katanya paling panjang untuk menuju pos 7.

Jalur Pendakian
Kami melanjutkan perjalanan kembali, tak ada jalur datar sama sekali hanya tanjakan tanjakan yang siap menanti. Cantigi cantigi mulai menampakkan dirinya pertanda kami telah melangkah semakin tinggi. Kabut turun semakin pekat membuat suhu semakin dingin.

Ritme berjalan kami cukup santai kala itu, melahap tanjakan demi tanjakan dengan mantap dan beriringan.

“Awweeeeee….ayo semangat” logat khas Bang Ipang kembali keluar menyemangati kami yang mulai terengah engah menahan lelah.

“Tinggal 2 belokan lagi kita udah sampe pos 7” begitulah celoteh Bang Ipang.

Namun kenyataannya apa yang dijalani tak seperti perkataan Bang Ipang. Dan yang pasti menuju Pos 7 itu jauh sekali.

Trek yang sedikit terbuka dengan cantigi rendahnya tiba tiba berubah dengan pepohonan rimbun dan semakin rapat. Saking rapatnya sinar matahari yang ada pun tak sanggup untuk menembusnya. Udara pun menjadi semakin lembab dan dingin.

Semakin jauh melangkah ke dalam pohon pohon yang ada pun semakin terselimuti oleh lumut lumut tebal. Udara lembab, dingin, sinar temaram menjadikan habitat yang sangat pas untuk lumut tumbuh sehat.

Hutan Lumut
Dan itu terbukti disini, lumut tak hanya tumbuh di batang batang pohon saja namun pertumbuhannya merambat sampai ke tanah tanah dibawah sepanjang jalur pendakian.
Hutan lumut mungkin itu nama yang tepat untuk tempat ini. Aku bingung mendeskripsikan keindahan tempat ini seperti apa, aku seperti berada di tanah mimpi yang tak pernah aku temui sebelumnya. Kalau kata Acen tempat ini seperti pada film “Alice N Wonderland”.

Neverland
Kami istirahat sejenak disini sembari mengabadikan beberapa momen berlatar  “Neverland” atau hutan lumut ini. Duduk di tengah suasana hening hutan lumut ini membuat siapapun yang datang kesini untuk berlama lama menikmatinya.

Namun aku segera tersadar kembali jika puncak Latimojong itu masih jauh.

***

Setelah berjalan sekitar 2 jam dari pos 6 jalan terjal akhirnya menemui ujungnya di puncak sebuah bukit. Namun ini bukan akhir dari perjalanan panjang menuju puncak Rantemario, ini hanya sekedar dataran yang bernama Pos 7.

Disisi kiri terdapat sebuah lembah menurun yang berujung pada satu aliran air sungai berair jernih. Dan di Pos 7 ini adalah sumber mata air terakhir sebelum kita mencapai puncak Rantemario. Dari sini masih terlihat bukit yang masih tinggi di seberang lembah dan aku berharap jika puncak Rantemario berada di bukit seberang.



Kami melanjutkan perjalanan. Jalur langsung kembali menanjak, Kabut mulai turun menghalangi sinar matahari. Lalu vegetasi lebih terbuka dengan cantigi yang masih terlihat di tepian jalur.

Tak begitu lama berjalan akhirnya tanjakan sudah mulai melunak kemiringannya. Jalur melandai, bongkahan bongkahan batu berbagai ukuran yang berceceran sudah mulai kerap terlihat.

Dengan mulai berubahnya jalur pendakian yang mulai melandai ini aku semakin bersemangat untuk melangkah karena pasti puncak Rantemario telah dekat. Aku pun bertanya dengan semangat kepada Bang Ipang untuk memastikan semuanya.

“Sabar bang, puncak ada di balik bukit sana” kata Bang Ipang.

“Berapa bukit lagi memangnya?”
“Ada sekitar 5 bukit lagi bang” Bang Ipang melanjutkan.

“Haahhh?” aku kaget karena memang puncak Rantemario yang tak kunjung kami gapai, dan perjalanan pun masih berlanjut.

Letih
1 bukit sukses terlewati dengan mudah dan cepat, bukit kedua pun sama. Bukit ke tiga semangatku makin menurun seiring dengan energy yang semakin terkuras. Karena memang kami semua berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu. Kudapan energi hanya kami dapat dari camilan dan madu yang kami makan selama perjalanan.

Langkah kaki pun semakin pelan, menapaki jalur berbatu batu yang cenderung landai ini. Sampai akhirnya aku pun berhenti dan terduduk tepat di atas bukit yang ke empat. Tak lama berselang kabut untuk sesaat tersingkap. Di seberang sana terlihat sebuah bukit yang nampaknya lebih tinggi dari tempat aku terduduk, dipisahkan oleh sebuah lembah penuh dengan batu batu cadas.

“Itu puncaknya ya Bang Ipang?”

“Iya itu puncaknya, coba lihat… tugunya sudah kelihatan. Itu tuh yang ada benderanya” sahut bang Ipang dengan nada yang selalu memberi semangat.

Secepat kilat aku memicingkan mata dan ternyata benar Puncak Rantemario ada di seberang sana di antara cantigi cantigi yang tumbuh pendek terdapat sebuah tugu dengan bendera yang tertiup angina pelan. Itulah tujuan Puncak Rantemario.

Tanjakan Terakhir Sebelum Puncak
Entah semangat ini kembali muncul dengan sendirinya, aku berjalan kembali menuruni jalur berbatu, menyusuri lembah yang aku lihat dari atas tadi. Terus bergerak  dan bergerak lebih cepat. Masa-masa yang aku nantikan pun tiba. Puncak Gunung Latimojong hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempatku berdiri.

“Rantemariooooo…..” Sulis yang sedari tadi berjalan di depan berteriak setibanya aku mendekati puncak.

"Terima kasih Tuhan!," dalam kegembiran yang tak berlebihan, aku pun langsung terduduk di tanah tertinggi di Pulau Sulawesi ini. Tak jauh dari tempat aku duduk berdiri tugu trianggulasi yang menandakan ini adalah Puncak Rantemario dengan ketinggian 3478 mdpl.
Kabut tak henti hentinya menyelimuti puncak Rantemario, jarak pandang pun semakin terbatas namun hal itu tak bisa menutupi rasa bahagia kami semua setibanya di Puncak tertinggi Sulawesi ini. Senyum sumringah menutupi semua rasa kelelahan yang pastinya semua dari kami rasakan.




Shinta, Sulis, Lidya, dan Anna yang tampaknya sudah berencana memakai baju merah nampaknya sudah saling berpose di tugu yang bertuliskan “Puncak Rantemario 3478 mdpl”

Tak mau ketinggalan aku pun meminta untuk bergantian berpose di tugu yang bisa dikatakan dambaan semua pendaki di Indonesia. Ya karena memang Gunung Latimojong ini adalah salah satu gunung dari “7 summit of Indonesia”.

Begitu pula acen dengan sepanduk Jalan Pendakinya dia bentang kan dan meminta kami semua berpose bersamanya. Bang Ipang, rafli, dan Bojes yang sudah berkali kali datang ke Rantemario pun ikut bersuka cita bersama.

Full Team
Begitu kabut mulai tersingkap aku dapat melihat barisan bukit bukit dibawah yang terselimut kabut tipis. Dari sana awal aku berjalan hingga tiba di puncak tertinggi ini, aku dapat memandang berkeliling . Sungguh sangat indah, dan pendakian kali ini juga merupakan pendakian yang cukup berkesan di dalam hidup. Banyak sekali cerita yang layak untuk dikenang.

Namun dari pendakian ini aku merasa sangat kecil, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ciptaan Sang Maha Kuasa. Sungguh, rasa gamang berdiri di puncak tertinggi Sulawesi ini telah menyadarkan bahwa inilah hidup. Tak ada yang perlu dibanggakan dengan ketinggian apapun bentuk ketinggian tersebut. Kita hanya butiran debu dibandingkan apa yang ada pada alam semesta. Namun bukan berarti butiran debu tak boleh bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan semua impian.


Dari puncak Gunung Latimojong, Rantemario ini aku meninggalkan pesan. Semoga kita bisa berpelukan kembali dengan kisah-kisah yang penuh kenangan. Terima kasih telah mengizinkan kami semua menjejakkan kaki di tanah 3478 meter diatas permukaan laut.

Bismillah….

Kini aku melangkah turun dari Puncak Rantemario, melangkah menjauh, perjalanan turun masih sangat panjang, tapi semua akan aku coba nikmati.

Sampai jumpa Latimojong.



Cerita Sebelumnya 

GunungLatimojong - Jalur Panjang Menuju Rantemario (1)

You Might Also Like

2 komentar

  1. Budget berapa Mas dari Jakarta ? 7 hari cukupkah ?

    Salam kenal

    Agustinus - Bekasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cukup banget mas, bisa keliling toraja sama makassar juga itu. Dulu orang 8 habis 600 ribuan untuk transport disana + perbekalan

      Delete

Google+ Followers

Followers

Contact Form