Travelling

Pesan Lestari Dari Wae Rebo

1/28/2015Pradikta Kusuma


Terdapat suatu desa yang terpisah dari desa desa lainnya diantara lembah lembah pegunungan hijau yang menganga dan berselimut pohon pohon yang tertutup kabut. Tempat dimana alam budaya menyatu dan satu satunya tempat dimana kebudayaan dan arsitektur leluhur masih bertahan diantara moderenitas jaman. Inilah Wae Rebo sebuah desa di atas awan.

Tulisan tentang Wae Rebo di Blog ini aku tulis untuk lebih mengenalkan tentang suatu tempat dimana masih ada kebudayaan tua yang selalu berdampingan dengan alam, tulisan ini pun bertujuan untuk mengikuti sebuah lomba penulisan “Eco Tourism” tepatnya di “Lomba Blog Pegipegi”.

Wae Rebo bedada di Kabupaten Manggarai, Flores - Nusa Tenggara Timur tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar Lenda. Letaknya yang berada di tengah tengah pegunungan yang jauh dari keramaian menjadi Wae Rebo menjadi desa yang terpencil terpisah dari peradaban desa sekitar yang lebih modern. Desa eksotis yang tetap eksis melestarikan peninggalan kebudayaan leluhur mereka.

Transportasi dan Penginapan

Untuk berkunjung ke Wae Rebo kita bisa memilih 2 alternatif yang pertama adalah dari Labuan Bajo dan Ruteng dengan jarak tempuh kurang lebih 6 jam. Tapi untuk kemudahan akses lebih baik dari Labuan Bajo. Banyak sekali penerbangan nasional yang melayani trayek ke Labuan Bajo dari Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Untuk kalian yang memang berniat alangkah baiknya segera cek TiketPesawat untuk menyusun itinerary, atau kalian yang tak mau repot memikirkan rencana perjalanan kalian bisa klik www.pegipegi.com

Transportasi menuju Dintor atau Denge (Desa terakhir sebelum Wae Rebo) sampai saat ini masih sangat minim. Jadi untuk kemudahan disarankan untuk langsung menyewa mobil di daerah Labuan Bajo. Berdasarkan beberapa informasi yang di dapat jika kita memilih akses dari Labuan Bajo maka kita akan melewati Ruteng terlebih dahulu yang berarti perjalanan kita akan sedikit memutar sebelum tiba di Dintor / Denge. Dari Denge ke Waerebo kita sudah harus berjalan kaki. Dalam waktu normal perjalanan dari Denge ke Waerebo dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3,5 jam dengan berjalan kaki.


Transportasi Lokal (Sumber)

Bagi kita yang memiliki keterbatasan waktu alangkah baiknya untuk menyesuaikan jadwal perjalanan atau mencadangkan waktu agar tidak terlalu terburu buru dan lebih santai dalam perjalanan. Untuk urusan penginapan kalian jangan terlalu khawatir karena saat ini sudah sangat banyak Hotel atau penginapan di daerah Labuan Bajo, Ruteng maupun di daerah Dintor.

***

Dari Desa Denge titik terakhir kita bisa menggunakan kendaraan bermotor, Wae Rebo dapat kita tempuh dengan melewati bukit, pinggiran jurang dan hutan selama kurang lebih 3.5 jam. Tetapi waktu ini relatif karena kita harus melihat kondisi fisik masing masing. Hutan hujan lebat sepanjang perjalanan, melewati pinggiran jurang dengan pemandangan yang sangat indah, naik turun bukir sepanjang trek, di beberapa titik kita harus menyeberangi sungai dan jembatan, semua itu menjadi daya tarik menarik selama menuju Wae Rebo. Sepanjang perjalanan kita sering bertemu dengan penduduk Wae Rebo yang turun gunung, mereka membawa panggulan barang hasil bumi yang akan mereka jual di dinge dan dintor. Berat bawaan mereka aku perkirakan bisa sampai 25 kg. Dari beberapa informasi dalam 1 tahun mereka bisa membawa bolak balik beban dengan total 2 ton.


Jalur Trekking (Sumber)

Dari kejauhan Desa Wae Rebo ini sangat memukau. Sebuah dataran kecil yang terdapat 7 buah rumah tradisional dengan atap runcing yang berada diantara lembah lembah hijau yang tinggi dengan sungai yang mengalir di kanan dan kirinya. Kabut tipis tampak selalu menyelimuti kampung eksotis ini.


Wae Rebo Dari Kejauhan (Sumber)

Mbaru niang adalah nama rumah tradisional di Wae Reb, berbentuk melingkar kerucut dengan atap rumbia atau daun lontar dibangun secara tradisional dan swadaya lokal. Rumah ini mempunyai tiang utama yang besar dan di tengah rumah terdapat perapian. Mbaru niang terdiri dari 5 tingkat yang semua ditutupi atap dan menjadi sebuah kerucut. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo, atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae, yaitu tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang akan sangat berguna saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.


Mbaru Niang (Sumber)
Suasana Wae Rebo (Sumber)

Hanya ada 7 rumah di Wae Rebo dan 1 rumah bisa di tinggali hingga 6 keluarga. Dengan semakin berkembangnya desa Wae Rebo maka perlu pengembangan atau pemekaran desa yang saat ini berada di Desa Kombo. Belum banyak wisatawan yang mengetahui hal ini.  

Kita sebagai wisatawan diperbolehkan untuk bermalam di Mbaru Niang, bersosialisasi dengan penduduk Wae Rebo, dan makan bersama sama mereka semua. Namun yang perlu di ingat kita akan tidur di tikar anyaman yang terbuat dari daun pandan. Perlu di ingat perlunya perlengkapan baju hangat ketika bermalam di Wae Rebo dan saat ini kita diwajibkan untuk membayar 250 ribu/orang, jika tidak bermalam dikenakan biaya 100 ribu/orang. Namun semua itu akan terbalas dengan pengalaman yang kita dapatkan selama bermalam di dalam Mbaru niang dan dapat berinteraksi secara langsung dengan penduduk Wae Rebo. Yang tidak terlewatkan adalah setiap tamu yang datang ke Wae Rebo harus melalui upacara Waelu. Dimana para tetua adat akan memohonkan ijin pada para leluhur untuk menerima tamu serta memohon perlindungan hingga sang tamu meninggalkan kampung dan kembali ke tempat asalnya.

Penduduk Wae Rebo Menemani Santap Malam (Sumber)
Para Mama Mulai Memasak (Sumber)
Walaupun sebenarnya aku belum pernah berkunjung ke Desa Wae Rebo yang indah ini tapi jika kelak aku bisa datang ke tempat indah yang kental akan kebudayaannya ini, aku ingin memberikan sesuatu yang sedikit bermanfaat bagi mereka. Beberapa informasi yang aku dapatkan bahwa dusun ini membuat masyarakatnya sedikit terasing dari peradaban, terutama pendidikan dan kesehatan dikarenakan akses yang sangat sulit dan jauh. Di Wae Rebo saat ini pun telah ada perpustakaan dan pusat informasi bantuan dari pemerintah dan beberapa LSM masyarakat. Aku ingin sekedar membawa sekumpulan buku buku yang akan aku donasikan khusus untuk perpustakaan Wae Rebo.

Penduduk Wae Rebo yang mempunyai mata pencaharian bertani kopi dan sayuran pun tampaknya perlu adanya penyuluhan tentang bagaimana cara bercocok tanam yang lebih baik atau bahkan memperkenalkan jenis tanaman baru yang bernilai ekonomis lebih baik. Namun disamping itu akses jalan menuju Wae Rebo harus lebih baik agar penduduk bisa cepat untuk memasarkan hasil pertanian mereka. Peran dari pemerintah, kita atau siapapun juga yang peduli akan sangat membantu masa depan dan keberlangsungan dari Desa Wae Rebo ini.
Salah Satu Permata Indonesia (Sumber)

Semoga dari blog dan “Lomba Blog Pegipegi” ini kita bisa lebih membuka mata dan mengetahui ada suatu tempat yang sangat indah berbalut kebudayaan yang sangat kental di negeri kita sendiri, Indonesia. Semoga kita bisa berkunjung kesana kelak….

Foto Foto di dalam tulisan blog Wae Rebo ini dari beberapa sumber sebagai berikut :

  • http://www.wiranurmansyah.com/menuju-wae-rebo
  • http://diasporaiqbal.blogspot.com/2013/07/wae-rebo-mendunia-lalu-menusantara.html
  • https://shafasapi.wordpress.com/2014/05/16/wae-rebo-where-my-heart-left/
  • https://incitante.wordpress.com/tag/wae-rebo/
  • https://andreyuris.wordpress.com/2011/11/28/neka-hemong-kuni-agu-ka/wae-rebo/



You Might Also Like

2 komentar

  1. Waerebo ini jadi impian yg harus terlaksana 2015 ini #Bismillah

    ReplyDelete

Google+ Followers

Followers

Contact Form